Kisah Ibu dan Sajak yang Menangis

abi-iii

Adzan subuh menepuk-nepuk pipi kita, Anakku
dalam gigil hari, sajak-sajak menangis di pangkuan Ibu
Ada suara dan derap, mengetuk pintu-pintu nurani
hingga ke sudut sudut negeri

Berawal dari kitab suci yang dinista
kebersamaan dan kehormatan yang dilukai
jutaan manusia turun ke jalan
Apa yang menggerakkan mereka?
Siapa yang sanggup membayar mereka?
Siapa yang mampu halau mereka?
Ketika mereka dilarang pergi,
mereka tak berhenti
Saat kendaraan mereka dihadang,
mereka lanjutkan dengan berjalan
hingga tapak-tapak itu
mengelupas darah nanah

Jutaan jiwa bertemu di jantung ibukota, Anakku
tumpah ruah, putihkan Jakarta,
Wajah teduh, dengan senyum paling bunga
melangkah damai penuh cinta
Penuh kasih, hingga tak satu kaki pun
sudi menginjak rerumputan
tiada senjata, hanya tangan-tangan yang berjabat,
Tak ada caci maki atau sumpah serapah,
hanya suara dzikir dan takbir menggema
getarkan semesta

 Laaa Illaaha Ilallah Muhammadarrasulullaah!

Di belakang Ibu lihat seorang ustadz dan pengikutnya
tenang tersenyum, setelah berjalan kaki tiga ratus kilometer
Tak jauh diantaranya, Anakku,
Ibu lihat seorang ustadz dan para santrinya
memunguti sampah-sampah
di samping kanan tampak sepasang ustadz dan ustadzah
membagikan makanan dan minuman dengan cuma cuma,
di samping kiri Ibu lihat seorang kyai berbagi tempat,
menyalami dan merangkul para peserta,
Dari depan podium Ibu dengar para ulama
memanjatkan doa-doa panjang untuk Indonesia
dan tausiyah paling jujur bagi pemimpin negeri

Gelombang tokoh masyarakat berpadu satu di sini, anakku
Muslim, Kristen, katolik, Budha, Hindu hingga konghucu
anak muda, orangtua, lelaki, perempuan,
bertubuh lengkap atau tidak,
hadir menyuarakan hal serupa,
seperti ibumu yang datang
bersama sajak-sajak yang terus menangis

Maka jangan percaya fitnah itu, anakku!
Derap ini tak anti kebhinekaan,
justru menjaga agar indahnya perbedaan
tak dikoyak, dicabik, dicincang
oleh kata dan laku segelintir orang
Maka jangan percaya dusta itu, anakku!
Derap ini bukan gerakan radikalisme atau rasisme,
tak menyoal etnis, jabatan dan agama
tapi bahwa kita semua
sama di hadapan hukum
Inilah kirab keadilan,
mengawal rasa dan asa ummat
Maka jangan hiraukan  hasutan itu, anakku!
Gerakan ini bukan makar
yang menuntut revolusi atas NKRI
tapi justru menjaganya
dari mereka yang pongah,
yang memecah belah
kesatuan dan persatuan bangsa
Maka nyalakan nurani kita! Nyalakan!

O, inilah derap kesabaran yang mengarak kita
melangkah serentak, serempak
sebab hakikat sabar itu bergerak;
terus bergerak, anakku.
Keindahan mengemas lara
yang mengetuk pintu pintu langit
O, kalimatullah membahana tanpa jeda
di antara sejuk udara yang kita hirup
lalu sholat jumat jutaan jamaah,
shaf terpanjang di jalan raya

 Laa illaaha ilallaaah, Muhammadarrasulullah!

O, para ulama,
betapa tertib, teratur dan santunnya
baris kebajikan yang mereka pimpin hari ini, Anakku.
Keindahan yang sebelumnya tak pernah dilihat mata
keteduhan yang tak disangka sesiapa
kesungguhan yang getarkan cakrawala

Allaahu Akbar!

Anakku, para ulama adalah pewaris nabi,
cahaya sejati negeri,
tapi setelah aksi damai itu
tetiba mereka dicaci, dibungkam,
dihajar, diterjang badai fitnah paling ngeri,
dikriminalisasi dengan beribu cara keji
namun mereka terus tapaki duri,
tanpa keluhkan nyeri perih
demi kemaslahatan kita;
“Ummatiii, Ummatiii,” airmata Nabi
Mereka patri seruan itu berkali kali dalam diri
Tubuh-tubuh mereka menyala, anakku, menyala
menampung begitu banyak pilu,
kepedihan dan keridhaan paling surga

Kalau kau tanya dimana ibu waktu itu, anakku
Maka Ibu ada di barisan mereka,
bersama sajak-sajak yang terus menangis
Kalau kau tanya lagi dimana ibu sekarang, dan selamanya,
maka ibumu ada, dan tetap membersamai mereka.

Ibu akan terus berjaga, terus terjaga,
melangitkan asa dalam doa doa
sambil membelai dan mendekapmu erat-erat
dalam gendongan Ibu,
bersama sajak-sajak yang menangis,
marah, terluka, dan kian gelisah
menjaga sanubari Indonesia

 

(Jakarta, 30 Januari 2017)

baru-dua-hari-bersahadat-mualaf-ini-ikut-aksi-bela-islam-gmw

Foto: Republika dan Sindo

5 Comments

Filed under Acara, Jurnal, Lainlain, Puisi

5 responses to “Kisah Ibu dan Sajak yang Menangis

  1. Ins

    Indaah sekalii bundaaa…

  2. Hairani Irma

    Allahu Akbar…

  3. Bunda Muthia

    terharu membacanya, saat diam sejenak di pagi, sebelum kesibukan merajai hari ini. Barokillah Kak HTR. semoga selalu mengetuk pintu2 hati yang beku utk kejayaan umat ini.

  4. Terima kasih Bunda Helvy, ini menggetarkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s