Tag Archives: syair cinta

Bahan Lomba Baca Puisi HTR 2021

 
 

 TANAH AIRKU PUISI
  
 Aku telah memilih puisi 
 sebagai tanah air
 tempat segala peristiwa 
 berbaris sebagai diksi
 tempat ragam masalah 
 gemakan rimarima
  
 Aku telah memilih puisi
 sebagai tanah air
 tempat menanam rindu
 serta luka paling raya
 tempat mengabadikan keindahan
 dan ketidakpastian
  
 Aku telah memilih puisi 
 sebagai tanah air
 tempat mata batin setia menyala
 sampai ke relungmu
  
 ( Depok, 2 April 2013)
  
  
  
 SELAMAT PAGI, KAMU
  
 Pada sebuah buku yang berbicara
 tentang masa depan, 
 aku melihat wajahmu menjelma pagi 
 yang terbit di tiap halaman 
 bersama asaku
  
 Aku dan kamu 
 telah dipersaudarakan oleh huruf dan kata
 paragraf juga bait
 kalimat-kalimat yang kadang 
 terlalu rumit untuk kita cerna
 tapi bermukim di batin
  
 Semangat pagi kamu 
 Yang terbit dan merekah dari sudut hati, 
 yang tersenyum serta menari 
 di sela sela imaji
 kamu menyelinap di jemari 
 sebagai sepi yang selalu ditangkap puisi
  
 Selamat pagi kamu yang menari 
 dan menanam cinta bersama Rumi 
 yang tak pernah percaya pada ilusi
 dan janji janji para politisi
  
 Setiap kali matahari terbit 
 berjanjilah pada diri 
 untuk tak membiarkan kebajikan 
 dikalahkan begitu saja di depan matamu
 Pada setiap matahari terbit 
 berjanjilah untuk bangkit 
 dan menebar cinta 
 di sepanjang jalan raya hidupmu
  
 Selamat pagi kamu,
 Semangat pagi, kamu!
  
 (Depok, Juli 2012)
  
  
  
  
 RAZAN
  
 Razan
 bagaimana aku memulai kisahmu
  
 Detak rindu yang tumbuh 
 dari bukit-bukit matamu 
 menyeruak jauh menembus dinding pulazi, 
 melewati perbatasan Gaza, Palestina
  
 Razan 
 kilau keberanian dan ketulusan 
 dua puluh satu tahun di jubah putihmu 
 telah memperpanjang napas cinta 
 dunia yang kian sekarat. 
 Adakah yang pernah kau lakukan 
 selama hidupmu, 
 selain menolong sesama?
  
 Tapi peluru para sniper zionis 
 tak pernah kenal wajah kemanusiaan 
 atau kebaikan. 
 Bengis  mereka bidik 
 bukan hanya jantung 
 para pejuang tanah airmu, 
 namun tanpa malu mereka bantai 
 para bocah, jurnalis, 
 atau relawan medis sepertimu
  
 Razan
 apa yang harus kuucapkan tentangmu? 
 Aku merasakanmu
  
 Ketika kau terkapar hari itu di Khan Younes, 
 aku menangis sesenggukan di kamarku
 Parau memanggil manggil namamu 
 dalam ketidakberdayaan, 
 sambil mengutuk penembak itu,  
 Netanyahu, Trump dan entah siapa
  
 Tiba tiba kucium aroma langit 
 para bidadari 
  
 Di sudut sepi, 
 puisi puisiku rebah berlumuran darah, 
 mendekap tubuhmu yang kesturi
  
 (Depok, 3 Juni , 2018)
  
  
  
  
  
 TAHUN BARU DI NEGERI TANPA SUARA
  
 Tahun baru tersungkur, 
  menangis di depan pintu rumahku
  Wajahnya memar, 
  dihajar petasan dan prasangka
  Tubuhnya limbung 
  dicekoki bersloki-sloki resolusi basi
   
  Bibirnya pucat tertutup rapat
  Dari matanya yang nyaris buta
  berjatuhan kata-kata
  Tolong, tolong! Hak asasi manusia, 
  demokrasi, keadilan, telah hilang
  diculik dari almanakku!
   
  Tapi kata jadi apa 
  tanpa nurani dan suara,
  sementara keran-keran kekuasaan 
  meluapkan drama-drama
  tanpa logika
   
  Telah bertahun lalu 
  kata-kata tak lagi gemuruh
  Ia jatuh sakit karena terlalu sering dibantai 
  dan dibungkam.
   
  Orang-orang menyeret mayatnya pagi ini
  bersama kisah-kisah serta puisi
  yang bergelimpangan,
  dan membusuk di kerongkonganmu
   
   
  
  
 LELAKI DALAM RINDU ABADIKU
  
 Suatu hari ia melintas dalam mimpiku. Aku mengejarnya 
 Ia melambaikan tangan, mengajakku bergegas 
 "Aku ingin melihatmu lebih jelas, Kekasih!" seruku, 
 "Aku ingin memelukmu!" Aku menangis
 Ia terus berjalan bersama awan yang tak henti menaunginya 
 Lalu sebuah suara indah terdengar, 
 "Setialah melangkah bersamaku di sabilillah"
  
 Aku terbangun, 
 tetapi lelaki itu tak pernah pergi dari denyutku 
 Sejak dahulu hingga kini tiap kata dan langkahnya  
 memantik cahaya di jiwa 
 Semesta menjalin asa dari keteduhannya 
 Bulan terbelah oleh kegagahan cintanya
  
 Aku tersaruk saruk menahan rasa yang kian buncah, 
 dari sunnah ke sunnah,  dari sirah ke sirah, dari shalawat ke shalawat 
 Di tiap gerak dan perjalanan rindu kusebut dan kusemat namanya: 
 Muhammad SAW Pahlawan utama,  Kekasih Sejati Ummat, 
 rindu abadiku hingga surga
  
 (Depok, April, 2013)
  
  
  
 SAFIA
  
 Aku bukan ratu, aku raja
 yang berpolitik lewat geliat sajak 
 dan cerita para sahaya
 kepedulian yang tak pernah selesai 
  
 karena cinta mereka tak terhingga 
 tiga puluh lima tahun aku memerintah 
 padahal para petinggi mengira
 aku tak akan pernah setara pria
 dan Darussalam Jaya tak akan niscaya 
  
 Akulah sultan yang dipanggil Sultanah 
 Safia yang tak kenal selesa masa
 setia menyelusuri tiap jejak
 memungut tiap perih 
 yang ditinggalkan rakyat 
 di beranda hari 
 Aku berjalan tanpa pengawal 
 ke tiap lembah
 sebagai perempuan biasa 
  
 kubuka pintu-pintu peradaban
 kutitahkan Nurrudin Ar-raniri, Abdul Rauf Singkel, 
 para ulama, untuk menulis cahaya
 kukirim para tokoh muda sekolah
 hingga Mekkah Madinah.
 Ilmu di pikiran di sanubari ditulis
 jadi kitab jadi nadi umat
 perpustakan negeri adalah firdaus 
 bagi kanak-kanak hingga para tetua
  
  
 Pada masaku diumumkan 40 Qanun 
 undang-undang kerajaan tentang keberadaan
 dan jumlah perempuan di parlemen
 sedang pasukan khusus wanita kami
 salah satu yang tercakap di dunia
 Penuh izzah kami tetapkan aturan berniaga 
 dengan Inggris, Portugis, Belanda dan lainnya 
 Pada masa itu, tak satu pun dari rakyatku 
 yang sudi mendapat zakat 
 sebab harta, ilmu dan cinta 
 berlimpah ruah di lumbung kami
 Maka zakat dan sedekah kami 
 sampai hingga Mekkah 
 dibawa ulama mereka Yusuf Al Qadri
  
 Aku Safiatuddin Syah Tajul Alam 
 Putri Sultan Iskandar Muda
 mereka memanggilku kemurnian iman, 
 mahkota dunia 
  
 Aku bukan ratu, aku raja
 yang berpolitik lewat geliat sajak 
 dan cerita para sahaya
 kepedulian yang tak pernah selesai 
 mengalir sampai kepala dan hati 
 ke denyut-denyut zamanmu.
  
  
 (Depok, 2 April, 2011)
  
  
  
  
 SEKIAN, UNTUK YANG KUKIRA CINTA
  
 “Aku tak mencintaimu,” katamu malam itu
 
 
 Aku terpelanting, terjerembab
 disergap ilusi dan diksi
 yang pernah berhamburan
 dari kedua matamu
 
 Tercekat, tergesa
 menuruni tangga tangga kisah
 yang telah susah payah kususun
 untuk sampai ke pelukanmu,
 yang semu
 Luka menjulur julurkan lidahnya
 menutupi pias cahaya bulan
 “Aku telah salah menafsir”
 
 Tertatih, kutanggalkan,
 kucampakkan jubah kenangan,
 kuletakkan wajahmu,
 tumpukan rindu, dan airmata
 di tempat yang tak akan pernah
 kusinggahi lagi

 Di jalan raya puisi puisiku
 berkecamuk, remuk,
 digilas mimpi buruk,
 dan sebuah akhir anyir
 tentang perempuan yang mati
 ditikam dongengnya sendiri
  
 (Maret, 2018)
  
  
  
 PUISI UNTUK SEORANG IBU YANG MENDOBRAK PULAZI
 (Untuk Yoyoh Yusroh)
  
  
 Seperti mendengar lagi namamu 
 dibawa angin ke berbagai benua
 berdenyar di nadi-nadi waktu
 Matahari yang leleh memahat langkahmu
 yang tak pernah lelah
 sebagai jejak cahaya
 pada musim-musim airmata dan darah
  
 Adakah ibu yang hidupnya tanpa istirah selama itu?
 Mendobrak pulazipulazi yang tumbuh dari kelaliman
 melipatnya dalam sapu tangan bunga 
 yang kau pakai
 untuk mengusap keringat kanak-kanak Palestina
  
 Hidup bagimu adalah mengabdi Illahi
 dan perjuangan membahagiakan sesama
 dari rumah tangga hingga ke tingkat dunia
 Tak seperti yang lain, politik adalah jalan
 yang kau luruskan sepenuh cinta
  
 Kau terus menebar maslahat, Ibu
 tanpa menghitung, tanpa hirau posisi di dunia
 namun kau, sering tak bisa pejamkan mata
 sebab resah memikirkan tempatmu kelak di akhirat 
 padahal engkau adalah orang yang selalu 
 bersandar pada Alquran
  
 Oh ibu Indonesia, ibu Palestina, Ibu segala benua 
 Kau embun yang menetes di lara dunia
 dalam ada dan tiada
 menjelma binar kekal 
 di pucuk-pucuk semesta cinta…
  
  
 (14 Agustus 2011)
  
  
  
  
 DI JURANG PUISI
  
 I
 Menampung rindu 
 dari hari ke haru,
 Menanggung resah yang berlarian
 hingga jantung,
 Jarum jarum hujan 
 menikam mata kita
  
 Katamu tak apa
 Karena duka cuma
 museum kebahagiaan
 yang retak dan pecah di dada kita
  
 II
 kita pun saling meninggalkan 
 menanggalkan semua kenangan 
 yang hinggap 
 dan meleleh di dahi musim
 sejak saat itu kutemukan diriku
 yang beku, terperangkap dalam kulkas
 berisi puluhan kilogram
 puisi puisi setengah jadi 
  
 III
 tanpa peta aku kembali ke sini:
 jalan raya yang terbuat dari parasmu
 Katakata canggung, waktu gugu
 Bagaimana kau menerjemahkan kekosongan? 
  
 IV
 Ini malam tak ada jejak 
 yang membaca cinta. 
 rindu siapa nganga 
 di jurang puisi? 
  
 (Februari 2013)
  
  
  
 NEGERI YANG TERBELAH
  
 Pikiran siapa yang bertubi-tubi dikebiri 
 dalam kata-kata yang api
 lalu kebenaran menjadi canggung, asing
 dan tak lagi mudah dikenali,             
  
 Nalar siapa yang digerus berulangkali
 ketika kebajikan dipersekusi
 Penjaga risalah difitnah dan didiskriminasi, 
 pencari keadilan berduyun-duyun jadi terdakwa
 dikunci di balik jeruji
 O, kaki hukum yang kian pincang dan rejang
 pemantik kebencian, para pendusta, koruptor, peneror
 di mana mereka kau semat?
 Sedang para penjilat 
 tumbuh sebagai musim semi 
  
 Kesalahan demi kesalahan diamini
 bahkan dirayakan secara terbuka
 di antara serpihan janji yang ditiup angin,
 dan diskusi purba 
 tentang melepas mereka 
 yang hilang ingatan ke bilik bilik suara,
 serta teriakan berisik kelompok picik 
 yang selalu mengaku paling toleran 
  
 Di sepanjang jalan itu kutemukan 
 tubuh-tubuh kita yang lama menyatu 
 terbelah pecah, ditebas entah apa  
 sementara orang orang tak dikenal 
 dari negeri antah berantah
 terus membanjiri tanah ini, 
 bermimpi jadi penghuni baru sebuah negeri 
 yang terus membelah dirinya sendiri
  
 (Jakarta, 2018)
  
  
                                                 
 KALAM
  
 Kalam manusia kalam kita
 sering sekali cuma debu di piranti waktu
 terkadang hanya jadi sajak kurus
 yang mengendap di kantong pilu
 atau menjelma merpati
 terbang telusuri angkasa
 hinggap di pokok-pokok
  
 Kalam kita
 sekali waktu jadi buah pikir
 dan bermilyar tulisan
 dengan satu masa pretensi
 berjalan, kembara pada satu kala
 satu peradaban
 kemudian samar, pupus 
 jadi bunyi senyap
 atau abadi
 dalam lukisan semu gagap
  
 Kalam mulia,kalam Allah
 kalam langit dan bumi
 diturunkan dari gemilang arsy, lauhul mahfuz
 keabadian yang mengatur segala
 bunga kata yang tak pernah berubah
 dengannya pelangi berwarna
 dan matari jadi panas
 dengannya air mengalir
 dan manusia bernapas
  
 tapi dengannya pula tanah kita
 bisa retak meratap
 gunung-gunung berhamburan
 dan manusia menjelma anai-anai
  
 dengannya akan terjaga
 ruh-ruh yang beriman
 di tiap lekuk liku kehidupan
  
 Kalamullah
 sesuci-suci kalam
 petunjuk cinta terpatri
 di sabil hamba terpilih
  
 (Depok 1992)
  
  
  
 BEGITULAH KISAH KITA MENUTUP MATA UNTUK SELAMA LAMANYA
  
 Aku akan bergegas meninggalkanmu, 
 semua jejak, bayangan, dan gurat kenangan itu 
 Tak akan ada pintu, jendela atau satu celah pun 
 untuk kembali. 
  
 Kita mungkin hanya akan melihat 
 satu sama lain dari jauh 
 sambil menyeduh secangkir kopi 
 berisi mimpi masing masing 
  
 Jalan kita adalah simpang empat 
 yang terlalu ramai oleh harapan 
 dan ucapan terimakasih  
 "Kau terlalu baik," katamu. 
 Tapi kau berpura tak tahu, 
 bahwa cinta selalu menjadi pembuka 
 bagi semua jalan kebaikan 
 yang terjal dan mendaki itu
  
 Di pelupuk mataku, seorang gadis, 
 bergelayut manja padamu 
 sambil melambai lambaikan hatinya 
 yang berwarna warni
  
 Malam yang bimbang, 
 berhenti mencumbu purnama 
 Di baris baris kidungmu, rindu tersengal sengal 
 diterjang kenyataan, 
 lari tertatih tatih, terkapar 
 dan bersembunyi 
 di halaman halaman novel, 
 cerpen dan puisi 
  
 Begitulah kisah kita menutup mata 
 untuk selama lamanya.
  
 (Depok, 18 Agustus 2016)
  
  
  
   

Leave a comment

Filed under Acara, Agenda, Kabar, Karya, Lainlain, Puisi