Perempuan Kata-Kata (Cerpen)

Setiap kali bangun tidur di pagi hari, gadis itu akan selalu menemukan seorang pria mengasah belati di ujung tempat tidurnya. Pria yang sama, dengan gerakan yang sama. Mata mereka akan saling menatap sesaat, lalu pria itu akan meneruskan mengasah belatinya, tanpa berkata sepatah kata pun. Ia muncul  begitu saja, dan seperti biasa, lelaki itu akan pergi tiba-tiba juga, entah keluar lewat pintu atau jendela yang mana.

            Ah, perempuan pengarang itu menyentak meja di hadapannya. Stuck! Ia tercenung di hadapan layar yang entah mengapa seolah meledeknya. Sudah 30 menit berlalu dan kata kata berhenti begitu saja di ujung jemarinya.

            Ini hari ketiga sejak ia dengar suara gelisah kawan lamanya di ujung telepon.  “Sudah ya, kucatat, bahwa kau akan mengisi cerita pendek kami di Majalah yang terbit April. Sekalian merayakan hari perempuan di negeri kita.”

            “Tapi….”

            “Sudah terlalu lama kau tak menulis cerpen, padahal kami menunggu cerpen-cerpenmu. Banyak kisah yang bisa kau angkat. Realis atau surealis, terserah kau saja, yang penting jadi sebuah cerpen yang bagus untuk kami!”

            Ia ingin membantah, tetapi sesuatu yang cukup berat menindih lidahnya. Menulis baginya bukan basa basi. Bukan juga semata untuk mencari uang. Menulis adalah soal menyampaikan sebagian isi jiwanya, meski itu hanya sebuah cerita pendek atau puisi. Ia tak pernah mau menggadaikan karya-karya fiksi maupun nonfiksinya untuk apapun. Harus ada sesuatu yang menggerakkan nuraninya, baru ia bisa menulis. Kadang kawan-kawan penulis lain sering menertawakan pendiriannya itu. Menurut mereka, ia aneh.

            “Aku menulis bukan saja untuk dunia, tapi juga untuk akhiratku,” katanya suatu saat.

            Lalu teman-teman pengarang yang lain terkekeh kekeh, bahkan ada yang terbahak hingga keluar airmata.

            “Kau tahu, setiap huruf harus dipertanggungjawabkan,” tambahnya, yang disambut dengan cemoohan tak peduli dari yang mendengar.

            “Hei, kau masih di sana?” Suara di ujung telpon.

            Perempuan itu akhirnya menyerah juga.  “Baiklah. Aku akan menulis cerpen untuk edisi tersebut. Aku ingin memberi hadiah ulang tahun sebuah cerpen untuk diriku sendiri.” Perempuan itu selalu berbunga setiap kali menyadari hari dan bulan lahirnya sama dengan pengarang terkemuka HC Andersen: 2 April.

            Di ujung telepon mereka berdua mengangguk angguk, tanpa melihat satu sama lain. Tersenyum sambil menghela napas nyaris seirama

            Tetapi kini ia tercenung di depan layar komputer. Layar yang kembali kosong melompong, karena satu paragraf awal yang ia tulis telah ia hapus kembali begitu saja.

                                                                        ***

            Berhari-hari perempuan itu mencari ide untuk cerita pendek yang akan ia tulis.  Hasilnya ia malah menulis beberapa puisi. Parahnya lagi, ia justru lebih bergairah menulis sebuah novel tentang masa kecilnya, serta melanjutkan Bab IV disertasi yang harusnya telah ia selesaikan bertahun lalu.

            Lama-lama ia panik sendiri. Kawannya, sang redaktur, bahkan telah mengumumkan melalui laman facebook-nya, bahwa majalah sastra terkemuka itu akan memuat beberapa cerpen dari berbagai kalangan, dan namanya pun disebut-sebut di media sosial milik sang redaktur.

            Entahlah, mengapa kali ini begitu sukar baginya untuk menulis sebuah cerpen. Sudah memasuki tahun ke empat, ia belum menulis cerpen baru. Para pembaca setianya berkali-kali bertanya, mengapa tak lagi mereka temukan kumpulan cerpennya di toko buku? Apa yang terjadi pada dirinya? Mengapa?

            Ia lirik judul buku puisi di hadapannya: Perempuan yang Berdansa dengan Puisi. Buku itu ia tulis tahun lalu. Ah, tiba-tiba ia merasa menarik mengalihwahanakan puisi menjadi cerpen atau novel, lalu layar lebar.

            Ia tercenung, mencoba merangkai kata kata kembali, dengan kening berkerut.

            Ya, Ia selalu duduk di taman itu, hampir sepanjang waktu, sambil menulis puisi-puisi tentang cinta yang tak pernah sampai. Ia menyadari bahwa ia harus merelakan takdir yang merengkuhnya. Jika ada 10 gadis duduk di taman itu, ia adalah gadis terakhir yang akan dipilih oleh Sang pangeran untuk menjadi istrinya. Jika ada undian berhadiah gelang atau kalung mas untuk 10 wanita, dan andaikan pesertanya hanya 11 orang, ia tahu bahwa ia adalah orang yang ke 11, yang tak akan mendapatkan apapun. Begitulah waktu memakan usianya pelan-pelan sebagai orang yang tak pernah terpilih. Dan kini ia sudah berusia 40 tahun. Sendiri. Tanpa pasangan hidup yang ia damba.

            Angin senja itu bertiup lebih kencang dari biasa, nyaris menerbangkan selendang putih yang ia lilit begitu saja menutupi kepalanya. Sayup sayup ia dengar suara kring sepeda seorang kakek tua yang setiap sore melewati taman itu. Biasanya Si Kakek membungkuk sesaat menyapa, sambil bertanya, “Belum pulang?” Lalu tak lama di belakang Si Kakek biasanya muncul seorang pemuda tampan yang selalu jalan dengan gegas dan lewat begitu saja. Ia pikir mungkin usia pemuda ini 20 tahun lebih muda dari usianya. Ia berharap suatu ketika melihat pemuda itu menyapanya, dan kala itu terjadi, sang pemuda telah jalan berdua dengan istrinya yang cantik.

            Langit kulit jeruk melumat awan yang pias. Angin senja itu bukan hanya menerbangkan angan dan kenangan, tetapi desaunya melayangkan sebuah foto yang tiba-tiba jatuh di pangkuan perempuan itu. Ia terkesiap. Perlahan jemarinya meraih foto itu. Seorang pria gagah berkemeja biru, tersenyum padanya di antara sinar senja yang memerah menambah rona foto itu. Siapa? Foto siapa dalam genggamannya itu? Tiba tiba saja  ia merasa tersedot oleh kharisma orang dalam foto tersebut! Siapa lelaki itu? Mengapa fotonya jatuh tepat di pangkuanku? Mungkinkah ini takdir? Lalu ke arah mana kini ia harus melangkah?

            Hah. 

            Sang pengarang tergeragap sendiri, dan merasa harus berhenti menulis kisah tentang perempuan yang menghabiskan waktu terlalu lama di bangku taman kota sunyi itu. Terlalu melankolis. Ia harus menemukan ide lain.

            Ia buka-buka lagi media sosial, berharap dapat ilham dari sana, namun ia terpaksa menelan kejengkelan demi kejengkelan, atas ragam berita kebencian dan gosip murahan yang berseliweran. Perempuan Cerpenis itu sempat terpekik saat menonton video 59 detik di instagram tentang seorang wanita kaya yang melabrak selingkuhan suaminya! Alih alih memuat adegan saling dorong, saling jambak, cakar atau jenis baku hantam lain, video ini justru menunjukkan istri sah tersebut menyawer uang —konon sebesar 500 juta—dalam pecahan 50 dan 100 ribu rupiah ke arah sang pelakor (perebut laki orang).  Mata tokoh kita takjub melihat adegan itu. Mengapa? Mengapa bukan ia yang menemukannya dan menuliskannya sebagai cerpen? Ia tak mungkin menulis kisah pelakor yang klise atau biasa-biasa saja. Harus ada yang berbeda sekaligus bermakna, dan video yang barusan ia lihat itu bombastis!

            Ia benar-benar gelisah sekarang, karena belum ada satu pun ide cerita yang menarik baginya untuk dijadikan sebuah cerpen. Bagaimana kalau kupertemukan Rintrik, Sukab dan Olenka, dalam satu kisah? Pikirnya. Tapi siapa yang harus kubuat lebih dominan? Siapa yang akan kumanja dan kupatahkan dalam cerita? Ah tunggu, apakah harus ada yang datang dan pergi? Yang dibelai dan dipatahkan? Ia langsung menepis kemungkinan menulis cerita itu. Biarlah, toh tokoh-tokoh itu sudah tenang di pembaringan mereka masing-masing.

            Sesungguhnya ia ingin menunjukkan kepedulian dan mengajak orang lain untuk peduli. Perempuan itu kemudian berpikir menulis cerita yang mengangkat realitas sosial yang sedang terjadi di negerinya. “Cerpen-cerpenku bahkan harus bisa melawan hoax,” katanya pada diri sendiri. Misalnya ia bisa menulis cerpen tentang orang miskin dan buruk gizi yang kian menjamur di negeri ini. Tentang kelaparan yang melanda suku Asmat. Kartu merah kuning hijau yang menjelma dagelan politik. Tentang bangunan-bangunan baru dua tahun yang tiba-tiba ambruk dan membawa korban cukup banyak. Bagaimana bangunan yang terbuat dari beton bisa serapuh itu? Tentang hutang luar negeri yang membubung tak terbendung, tentang harga bensin yang selalu naik diam-diam, dan baru diketahui saat ia berada di pom bensin untuk mengisi bahan bakar mobilnya. Harga listrik yang kian mencekik leher. Tentang artis yang menghina lambang negara namun malah diangkat menjadi duta dari lambang negara tersebut. Penanganan hukum yang membuat masyarakat sesak karena tebang pilih benar benar nyata di hadapan mata. Lalu orang-orang baik yang kian kuyup oleh fitnah. Sebagian menghadapi teror dari mulai disiram air keras usai salat subuh hingga sebelah matanya buta, sampai yang dibacok di tepi jalan tol. Pelakunya?  Ajaib. Tak terendus polisi manapun.  

            Kisah kisah berkelebatan di benaknya, hilir mudik antara dunia nyata dan fiksi. Tapi tak ada yang ia tulis juga, hingga keresahan dalam dirinya merembes, meluap kemana mana. Ia mulai merasa bahwa dunia nyata telah merebut dunia fiksi yang diciptakan para pengarang. Fiksi telah menjelma menjadi realita baru di negerinya. Fiksi dan Fakta menjadi saudara kembar yang sulit dibedakan.  Bahkan ia beranggapan banyak pemimpin di negerinya yang muncul dan besar dari kisah fiksi itu.

            Ia kesal sendiri dan hampir saja melempar sebuah jambangan mungil tanpa bunga di hadapannya ke tembok, saat ia dengar suara suaminya, “Hai kau pernah cerita tentang kebiasaan sastrawan favoritmu Putu Wijaya padaku,” ujar suaminya.

            “Cerita yang mana?” Perempuan itu mengerutkan kening.

            “Bahwa Putu Wijaya pernah beberapa kali tampil membawakan cerpen yang baru ia kisahkan, namun justru belum ia tuliskan. Mungkin kau bisa mencoba metode itu dengan bercerita padaku tentang sesuatu. Aku bisa menerima bila kau bercerita dengan gaya teaterikal Putu Wijaya,” ujar suaminya tersenyum. “Ayolah, nanti itu bahan cerpen yang akan kau tulis!”

            Ia langsung teringat masa kecilnya. Ibunya selalu mendongeng, dan setiap kali selesai mendongeng, perempuan paling muia dalam hidupnya itu selalu memintanya untuk balas mendongengi Sang Ibu. Mulanya ia heran, mengapa ibunya begitu pamrih? Sebuah dongeng harus dibayar dengan dongengan lain. Ibu bahkan memintanya bukan sekadar mendongeng, melainkan juga memperagakan tokoh-tokoh dalam dongeng tersebut. Setelah besar ia tahu bahwa hal tersebut menjadi cara ibunya mengajarinya berani bercerita di muka kelas atau di mana saja di hadapan banyak orang, serta memupuk bakatnya sebagai tukang cerita.  Sampai suatu saat ibunya berkata, “Tidakkah sebaiknya kau tulis semua kisah yang pernah kau dongengkan pada Ibu, agar anak-anak lain bisa membaca kisah kisah seru itu?”

            Dua cangkir kopi berhasil memaksanya tetap terjaga. Jam berdentang 12 kali, namun kata-kata masih tertahan di kepala hingga ujung jari-jarinya. Layar komputernya putih. Lalu gelap. Lalu putih lagi saat ia tekan tombol apapun agar layar itu tak tertidur.

            Pikirannya berkecamuk saat ia dengar suara langkah banyak orang di beranda. “Nyai….nyai!” beberapa memanggilnya, mengetuk ngetuk pintu rumahnya yang berada di lingkungan pesantren.

            Ia membuka pintu dengan perasaan debar yang campur baur.

            “Kyai…,Nyai. Kyai Abdullah….”

            Matanya terbelalak. “Apa? Kenapa? Kenapa Kiai Abdullah?” tanyanya pada sekelompok santri itu.

            “Kyai diserang orang, Nyai! Di masjid tak jauh dari pesantren, abis isi pengajian tadi!”

            Suara perempuan itu tercekat di kerongkongan, membayangkan suaminya roboh berlumuran darah.  “Si…siapa…yang menyerangnya? Apakah suamiku….”

            “Luka Kiai cukup parah. Kami sudah langsung membawa beliau ke RS terdekat. Penyerangnya juga sudah kami tangkapnya, Nyai. Tapi orang itu menceracau seolah-olah gila. Kami akan membawanya ke kantor polisi!”

            “Aku harus segera ke sana!” Ia beranjak, mencoba gegas menyusul ke rumah sakit, tetapi tubuhnya limbung, terasa melayang. Beberapa santriwati memapahnya.

            Sudah tiga bulan ini ia kurang tidur,  turut berjaga jaga setelah mendengar kabar maraknya penyerangan terhadap kiai- kiai di lingkungan pesantren, di negeri ini. Ia mencoba mengatur napasnya yang kian tersendat.  Kiai Abdullah, suaminya yang lembut dan membawa kesejukan senantiasa.  Siapa yang mau menyerang salah satu ulama terbaik yang dicintai santri-santri dan masyarakat di daerah mereka itu?  Ia tidak percaya para penyerang kiai itu gila. Mungkin hal tersebut hanya dalil agar  lolos dari jerat hukum. Tapi kalau mereka memang betulan gila, mengapa mereka bisa mengenali para kiai dengan akurat? Kalau mereka gila, siapa yang memelihara, mengorganisir, dan melepaskan orang-orang tak waras itu ke pesantren pesantren?

            Carut marut.  Tak ada yang betul betul bisa membuatnya tenang di negeri ini.  Tiba tiba bulu kuduknya meremang, tubuhnya gemetar. Ia bergidik. Menggigil, sebagaimana tokoh-tokoh dalam cerita fiksinya saat harus menghadapi pertarungan di dalam maupun di luar diri mereka.

            Kopi di hadapannya masih mengepulkan asap berbentuk ragam wajah yang meledeknya berkali-kali. Wajah-wajah itu menjelma seringai para politisi dan publik figur yang ia follow di media sosial. Cerita-cerita kembali terpasung. Bergelantungan. Tak ada kisah utuh yang sangat ia rindukan sebagaimana dahulu.  Argh!

            Dari dalam komputer muncul titik titik hitam. Makin lama makin banyak, menyemut, lalu tampak makin nyata membentuk huruf. Huruf huruf itu menjelma kata-kata, menjelma kalimat demi kalimat yang terus berhamburan memenuhi layar. Ia terbelalak, sambil sesekali mengucek ngucek kedua matanya. Kata kata terus mengalir, berloncatan di hadapannya, keluar dari komputer, beberapa terjun bebas dari atas meja komputer.  Dari dalam televisi 32 inci-nya yang menyala, kata-kata berkerumun, keluar, dan mengaum-ngaum. Ia menjerit melempar ponselnya, saat ia dapatkan kata-kata telah beranak pinak di ponsel tersebut. Mereka beterbangan dari komputer, televisi, ponsel, lalu hinggap di langit-langit rumah, memenuhi pinggiran jendela dan pintu, lalu memenuhi ruang-ruang kosong di rumahnya.

            Panik. Perempuan itu mengira dirinya sedang tertidur. Ia cubit lengannya kuat kuat dan mengaduh sendiri. Kata-kata terus menyeruak keluar. Saling sikut dan berebut, tumpah ruah, terus menyesakkan rumahnya. Kata-kata mulai mencakar dan mencabik. Naik ke kaki, lengan, dada, leher, memanjati, melompat, dan berayun-ayun di tubuhnya, terus menjalar ke wajah dan kepalanya. Menyelusup masuk ke dalam telinga, hidung dan kedua matanya. Ia berteriak sekeras yang ia bisa, tetapi kata-kata berjejalan masuk ke mulut, dan memenuhi kerongkongannya. Sesaat sebelum terjatuh, sekilas ia lihat sebuah belati besar terbuat dari kata-kata, menancap tepat di jantungnya.

                                                                        ***

            Helvy Tiana Rosa, Depok, 2 April 2018

Keterangan: Cerpen ini dimuat di Majalah Sastra Horison, Edisi 2/ 2018

Leave a comment

Filed under Cerpen, Karya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s