Juragan Haji

Naik Haji
Naik haji lagi?” Mata tua Mak Siti berbinar, sesaat menerawang. “Jadi sudah tiga kali ya, Bu Juragan?”

Orang yang dipanggil Bu Juragan, majikannya yang berumur sekitar empat puluh tahun itu mengerutkan kening, lalu sambil menyungging senyum berkata, “Salah, Mak. Ini untuk yang keempat kalinya bagi saya dan kelima kalinya bagi suami saya. Dan Mak tahu, saya masih punya banyak koin emas ONH buat naik haji lagi tahun depan!”

Mak Siti memandang majikannya sekali lagi dengan tatapan kagum yang lugu. Yang ditatapnya, wanita berhidung mancung, beralis tebal dengan gincu menyala di bibir mengangkat sedikit dagu, sembari mengibas-ngibaskan minyak wanginya yang tumpah terlalu banyak, pada baju panjangnya yang berkilatan. Lalu terdengar bunyi dentingan perhiasan, seperti musik pembuka pada tari Topeng.

“Hebat…, ibu sama juragan memang saleh…, lagi krismon naik haji juga,” Mak Siti geleng-geleng kepala. “Punya banyak… apa itu juragan? Koin emas seperti yang di telepisi? Hebat….”

Bu Juragan balas menatap wajah kerut merut perempuan yang berusia enam puluh tahun itu. “Habis gimana, Mak? Kalau kita punya harta kan mendingan naik haji atau ditabung dari pada buat macam-macam.”

Tatapan kagum Mak Siti belum juga hilang.

“Ya sudah, saya ada pertemuan dengan ibu-ibu pengajian, tolong sepatu hitam saya disemir dulu!”

Mak Siti mengangguk. Badannya yang mulai bungkuk itu bergegas mengerjakan perintah majikannya.

“Mak…, yang disemir sepatu hitam yang ada pitanya ya! Yang baru! Yang lain sudah sering dilihat ibu-ibu pengajian!”

Mak Siti mengangguk sekali lagi, tetapi pikirannya masih ke soal haji tadi. Hebat betul, bahagia betul majikannya… sudah berkali-kali menjadi tamu Allah, mengunjungi baitullah! Bahkan tahun ini, saat tetangga-tetangga mereka mengalami kesulitan mendapatkan sembako, majikannya masih bisa pergi juga. Bukan itu saja, Mak Siti yakin, sepulang dari sana, majikannya akan membawa oleh-oleh berlimpah. Air Zamzam, kacang, kismis Arab. Juga korma dan tasbih, untuk dibagi-bagikan pada para handai taulan.


“Dor! Pagi-pagi si Emak sudah ngelamun!”

Mak Siti tersentak. Jagung rebus dalam genggamannya nyaris terjatuh. “Astaghfirullahal azhiim! Kualat kamu Pin, bikin kaget orang tua.”

Senyum tujuh belas tahun Pipin, pembantu di rumah yang sama, mengembang. “Mak, sudah dengar berita belum?”

“Apa?” tanya Mak Siti dengan mata nyureng. Dicabutnya biji jagung satu persatu, dimasukkannya dalam mulutnya yang memerah sirih. Lalu ia mengunyah pelan-pelan.

“Nona Juragan mau naik haji!”

Mata Mak Siti terbelalak. Hampir saja ia tersedak. “Nona Juragan?” Wajah tuanya yang keriput sesaat makin berkerut. “Nona juragan kan….”

“Iya, Mak! Nona juragan kan jarang salat, genit, sering ganti-ganti pacar…, ke diskotik, pakaiannya juga sederhana banget! Maksudnya kekurangan bahan gitu lho! Ih, kok ya diajak naik haji.”

Nona Juragan memang anak satu-satunya majikan Mak Siti. Hanya saja menurut Mak Siti agak aneh. Nggak alim seperti orangtuanya. Dulu Nona Juragan pernah nyantri, tapi keluar karena kabarnya tidak betah. Bapak ibunya yang sangat memanjakan Nona Juragan tak bisa berbuat apa pun. Cuma bisa nurut. Juga ketika rambut si nona ditrondolin sehabis keluar pesantren.

“Yaa begitulah orang kaya ya, Mak.”

Mak Siti manggut-manggut. Lama sekali. “Mudah-mudahan sepulang dari sana Nona Juragan bisa jadi anak yang baik. Saleha ya, Pin!”

Belum selesai Mak Siti berkata, terdengar teriakan yang amat keras.

“Maaaaaaak!”

Itu Nona Juragan!

“Oh… eh, iya… Non…!?” jawab Mak Siti gagap.

Pipin manyun. Sambil membetulkan serbet di pundak kirinya, ia melenggang ke dapur.

“Ambilin baju!” suara itu hampir tenggelam oleh musik dangdut yang keras terdengar dari kamar Nona Juragan. “Yang ada belahannya ya, Mak! Yang pendek merah itu lho! Yang mengkilap!”

Tergopoh-gopoh, Mak Siti menuju lemari besar di ruang belakang, tempat baju-baju Nona Juragan digantung dan disimpan. Sambil mencari baju tersebut, kepala Mak Siti geleng-geleng. Sungguh, kalau mau naik haji, Nona Juragan mesti beli beberapa baju baru yang pantas dipakai untuk mengunjungi rumah Allah. Soalnya semua bajunya aneh.
Ah, andai saja ia yang pergi ke Tanah Suci. Pikiran itu bertubi-tubi datang dan berjejalan di dalam benaknya. Ya, andai saja….

Mak Siti tersenyum menjelajahi lamunannya. Angin berhembus menembus teralis jendela dan menyebar sejuk ke dalam kamar yang luas itu. Lalu tiba-tiba saja ia telah berada di depan sebuah lemari putih yang mengkilap. Dan ketika ia membuka isinya. Mak bertasbih. Semua bagus! Ada baju dan celana putih panjang, mukena, sarung dan sajadah baru…. Tentu ia akan memakai itu semua. Ia akan menghadap Yang Maha Cinta dengan tampilan yang indah. Dan apakah yang berkilauan itu rangkaian tasbih? Ia akan….

“Maaaakk! Cepetan!”

Baju-baju putih itu lenyap, juga warna-warni batu tasbih. Kini di depan Mak Siti hanya lemari kokoh yang terbuka, dengan baju-baju mini menyala dan baju panjang yang bolong-bolong. Bibirnya bergetar mengucap istighfar.


Akhir-akhir ini Mak Siti sering sekali melamun. Dan ia tak pernah tak terpaku setiap kali memandang gambar Ka’bah besar berbingkai emas, yang tergantung megah di ruang tamu. Seperti hari ini. Perlahan sekali tangan tuanya menurunkan bulu ayam yang sejak tadi dipakainya untuk membersihkan gambar tersebut. Kini ia berjinjit. Lalu dengan wajah penuh kerinduan, diciumnya gambar Ka’bah itu beberapa kali.
Mata tua Mak Siti berkaca-kaca. Di depan Ka’bah, dilihatnya dirinya tersenyum. Udara panas Kota Mekkah seakan membelainya lembut. Di tengah kerumunan berjuta manusia, dirasakannya keteduhan dan kedamaian itu. Lalu ia mendengar namanya dipanggil berulangkali oleh suara-suara yang terus bergema. Labbaik, Allahumma Labbaik! Labbaik, Allahumma Labbaik! Aku datang pada-Mu ya Allah, aku datang!
Lalu tiba-tiba, di depan Ka’bah, tangan Mak Siti telah menyentuh Hajar Aswad. Gelombang manusia mendorongnya, tetapi Mak Siti dapat mencium batu hitam itu berulangkali! Lamat didengarnya alunan murottal. Air matanya berkejaran. Orang-orang mendorong Mak Siti lagi. Tetapi dirasakannya pelukan yang kuat sekali menahannya di depan bangunan hitam yang megah itu. Allah! Allah memeluknya! Airmata Mak Siti berkejaran.

“Mak, ngapain di situ?”

Mak Siti hampir melompat. “Eh, Non.” Diusapnya buliran bening di matanya, seraya mengangguk pada Nona Juragan. “Mata Mak kena debu.”

“Oh,” kata Nona Juragan acuh tak acuh. “Saya pergi dulu, Mak! Itu Si Roni sudah jemput saya. Mak nggak dengar suara mobilnya?”

Mak Siti terdiam sesaat. “Hati-hati, Neng,” katanya dengan suara serak. Baiknya jangan berduaan, lanjutnya. Tapi cuma dalam hati, sebab ia pernah nyaris diusir Nona Juragan gara-gara mengucapkan kalimat itu. Sungguh, ia tak suka dengan Roni, Alex, Bobi atau siapa pun teman-teman Si Non. Mereka bukan anak yang sopan. Datang juga kadang hanya membunyikan klakson. Kadang turun dan menunggu di beranda sambil merokok. Sering juga malam minggu datang maghrib-maghrib. Boro-boro salat. Mak sebal.

Mak Siti mengantarkan Nona Juragan ke luar, memandang sosok semampai itu naik ke atas mobil mengkilap, dan berlalu, hingga menjelma titik di kejauhan. Tiba-tiba Mak Siti merasa sesak. Ia telah bekerja di sini sejak anak itu masih kecil. Baginya Nona Juragan sudah seperti darah dagingnya sendiri. Bahkan setelah suami dan anak Mak Siti satu-satunya meninggal tertabrak mobil, waktu mau menyusul Mak Siti ke Jakarta, Mak Siti memutuskan untuk tetap bekerja di rumah ini. Hanya ia tetap rutin pulang kampung setahun sekali, menjelang lebaran.

Ya, rasa sayangnya pada keluarga ini memenuhi rongga-rongga diri, menimbuni batinnya tahun demi tahun. Namun, apa daya, ia tak pernah mampu menanamkan ajaran agama pada Nona Juragan. Tak pernah bisa. Sebab kata Ibu Juragan, itu bukan pekerjaannya. Orang bodoh seperti dirinya hanya boleh mengurus pekerjaan rumah tangga. Bukan mengurusi Nona Juragan.

“Kalau soal agama, biar saya yang ajarkan. Saya dan suami ini haji! Mak Siti kan belum?!” Ujar Bu Juragan, saat ia memergoki Mak Siti mengajar Nona Juragan kecil salat atau membaca Juz Amma.

Dan sekarang, Mak Siti merasa iba dengan gadis yang muda, manis, kaya dan akan naik haji itu. Naik haji? Mata Mak Siti memendam rindu yang mendalam. “Andai itu aku,” lirihnya dihembus angin. Ya, andai saja ia dapat menyambut panggilan suci itu.


“Memang naik haji itu ongkosnya berapa, Pin?”

Pipin memandang Mak Siti dengan heran. “Ya, banyak Mak. Satu orang bisa dua puluh lima jutaan. Tapi kata orang-orang sih tergantung dolarnya.”

“Dolar? Dolar itu apa, Pin?”

Pipin menarik napas panjang lalu memijit hidungnya sendiri kuat-kuat. “Udah deh, Mak. Tidur dulu. Ini sudah malam.”

“Kalau sejuta belum bisa ya, Pin. Masih lama?”

Pipin menguap panjang.

“Ada nggak yang bisa naik haji pakai uang sejuta, Pin. Mak mau….”

“Pipin ngantuk Mak. Jangan ngomong lagi ya.”

Mak Siti menghitung-hitung uang kertas lusuh di pangkuannya. Begitu lama, begitu lambat. Gajinya delapan puluh ribu rupiah perbulan. Separuhnya selalu ia kirimkan ke kampung. Ia masih punya tanggungan. Lalu sisanya dipakai buat hidup di Jakarta. Juga ditabung.

Perempuan tua itu menggulung-gulung uang lusuh tersebut dan mengikatnya dengan karet. Lalu dengan tangan gemetar ia masukkan ke dalam plastik lusuh yang kemudian ia gulung-gulung lagi. Perlahan ia bangkit dan membungkuk di depan tempat tidurnya. Urat-urat tangannya menonjol ke luar kala ia mengangkat sebagian kasur dan meletakkan bungkusan uang itu di bawahnya.

Perlahan pula ia kembali berbaring. Matanya yang mulai tak awas menatap langit-langit kamar. Ia kembali melihat Ka’bah. Ia melihat orang-orang berkerumun di depan rumah Allah dengan pakaian ihram. Mak ingin menyentuh semua. Jari-jarinya bergerak dan tiba-tiba ia melihat kaligrafi bertuliskan asma Allah dengan tinta emas menyinari kamarnya. Begitu cerlang, hingga ia merasa silau sesaat. Ia mendengar kembali gema suara itu. Suara yang memanggil-manggil namanya untuk datang.

Airmata Mak Siti jatuh ke atas bantal tempat kepalanya bersandar. Rindu itu menghentak-hentakkan batinnya. Apakah umurnya masih ada, jika kelak uangnya cukup untuk berhaji? Mak Siti memejamkan matanya. Namun matanya yang keriput masih dapat menangkap sosok renta di kampungnya. Sosok yang senantiasa menunggu. Yang kini dirawat kemenakannya. Mak Nyai, ibu yang melahirkannya dan kini berusia lebih dari delapan puluh lima tahun. Ibu yang berpuluh tahun memahat kerinduan yang sama dengannya.

Terngiang-ngiang lagi di telinga Mak Siti, suara yang sangat lemah itu berbisik. “Siti…, aku ingin… ke rumah Allah….”


Helvy Tiana Rosa, Cipayung, April 1997

Leave a comment

Filed under Cerpen, Karya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s