Dengan Ceritamu, Terbukalah Hidayah Bagi Orang yang Kucintai

1040347_536585029710166_1823068228_o

( Oleh: Ratna Kushardjanti, Finalis Lomba Menulis Pengalaman “Aku dan Kisah Ketika Mas Gagah Pergi”)

 

Perkenalkan saya, Helvy (maaf, saya lebih suka memanggilmu dengan nama ini dan bukan nama panggilanmu yang kubaca di profilmu). Panggil saya, Ratna. Saya sudah mengenalmu sejak lebih dari dua dekade lalu. Sejak cerpen-cerpenmu sering saya baca di Majalah Annida, salah satu majalah Islam yang dengan semangat ikut saya pasarkan kepada teman-teman di kampus maupun adik-adik SMP dan SMA binaanku. Namun tentu saja engkau tak merasa mengenalku. Tetapi, aku bersama ratusan bahkan mungkin ribuan penggemarmu selalu punya alasan untuk merasa dekat denganmu.

Yang jelas usia kita tak terlalu jauh beda. Hanya terpaut beberapa bulan saja. Sama-sama anak pertama dari tiga bersaudara dengan dua adik. Laki-laki dan perempuan. Kuliah di Fakultas yang sama meskipun di perguruan tinggi yang berbeda dan kota yang berbeda. Sama-sama suka menulis. Hanya saja nasib yang membedakan kita saat ini.

Tapi, ah sudahlah bukankah saat ini saya tidak sedang akan membicarakan hal itu? Saya hanya ingin bercerita tentang masa lalu. Masa lalu yang indah. Saat saya di Jogja dan mungkin juga engkau di Jakarta memiliki semangat yang sama untuk berislam dengan keislaman yang lebih baik. Untuk mengenalkan keindahan Islam itu kepada orang lain. Dan kuakui engkau memiliki kekuatan untuk itu melalui cerpen-cerpen yang kau tulis, Helvy. Salah satunya adalah ketika engkau tuliskan sebuh cerita yang berjudul “Ketika Mas Gagah Pergi”.

Sungguh, saya masih ingat ketika pertama kali cerpenmu itu terbit di tahun 1993, mungkin saya termasuk orang yang awal-awal membacanya. Setidaknya bagi pembacamu di Jogja. Bukankah sudah saya katakan tadi saya salah satu loper majalah Islam di kampus, termasuk Annida tentu saja. Jadi setiap majalah Islam yang baru terbit bisa dikatakan saya termasuk orang–orang pertama di kota saya yang bisa membacanya.

Ketika Mas Gagah Pergi. Tulisan itu, Helvy. Mengesankan sekali. Saya memang bukan Mas Gagah. Tentu saja karena saya juga bukan seorang ikhwan, tapi akhwat. Tapi saya memiliki adik yang serupa dengan adik yang dimiliki Mas Gagah. Saya memiliki adik perempuan cantik tapi tomboy serupa dengan Gita (bahkan sebetulnya bisa dibilang kami sama-sama tomboy sebelum berkerudung). Namanya Diah. Adik yang saya sayangi, yang saat itu telah menyelesaikan ujian SMP-nya. Kami sering pergi berdua sekedar keluar jajan bakso. Ikut lomba baca puisi bareng, atau sepakat diam-diam menyiapkan kado istimewa untuk mama di hari ulang tahunnya. Pergi ke mall untuk membeli sesuatu. Atau bahkan sekedar cuci mata. Membicarakan cowok kece di kampung kami atau….

Begini. Tentu saja itu cerita kami sebelum mendapatkan hidayah. Dan semua berubah ketika saya mulai berkerudung dan mengikuti kajian-kajian Islam di kampus. Tidak hanya Diah tapi seluruh anggota keluarga menuding saya. Menuduh saya ikut aliran tertentu. Menutup aurat rapat meski di dalam rumah jika ada sepupu yang bukan mahram datang. Tidak mau bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahrom. Itu merupakan hal yang aneh dan ajaib bagi mereka. Ratna, yang sebelumnya adalah ketua teater ketika SMA-nya, yang aktif pula di kepramukaan dan Palang Merah remaja, yang suka mengenakan celana jeans yang dianggap memudahkan semua aktivitasnya yang…. bukannya ge er banyak pula yang naksir saya waktu itu (ehm…). Lalu tiba-tiba saja saya berubah. Dengan jubah dan jilbab yang lebar di masa itu mungkin menyeramkan. Hehe. Dalam beberapa hal kata-kata papa saya bahkan serupa dengan dialog yang ada dalam KMGP.

“Kamu berislam jangan fanatiklah. Tuh liat Ustadz Aris biasa aja tuh salaman sama Mama. Anaknya Kyai ini, Kyai Anu kerudungnya juga enggak kayak gitu-gitu amat. Kamu ini rambutnya keliatan sedikit saja heboh.”

Beberapa kali Diah protes pada saya ketika saya nggak hobi lagi jalan-jalan ke mall atau sudah tidak antusias lagi menanggapi saat dia membicarakan cowok-cowok macho pujaannya. Bahkan ketika kami buru-buru akan berangkat ke sebuah acara keluarga, dia cukup berang menunggu saya mencari kaos kaki di kolong tempat tidur.

“Walaaah, mau pergi kondangan aja pake kaos kaki….” sungutnya. Ya inilah dakwah. Sabaar…

Satu hal yang ingin saya ungkap padamu. Tahu tidak, Vy. Majalah-majalah itu. Cerita-cerita yang setiap kali kau kirimkan pada saya lewat Majalah Annida. Itu kupikir salah satu kuncinya. Alat dakwah saya bagi keluarga. Terutama bagi adik manis yang suka membaca. Maka mulailah aksi saya. Majalah-majalah itu sengaja saya biarkan terbuka di ruang tengah seolah-olah saya selesai membaca dan lupa membereskannya. Terkadang juga tergeletak di ruang tamu.

Hanya saja beberapa kali pula saya kena marah mama karena dianggap tidak merapikan kembali barang-barang saya. Hmm, membuat saya garuk-garuk kepala mencari strategi yang lebih ampuh. Oke, saya pikir di kamar saya tidak masalah. Majalah terbuka di atas tempat tidur. Pancingan yang sempurna.

Hingga kemudian selang beberapa waktu….

Beberapa kali saya memergoki Diah yang suka sembarangan masuk ke kamar saya sedang mengusap sudut matanya. Sementara majalah Annida tergenggam di tangannya. Kubiarkan saja sosok itu nangkring di atas tempat tidur saya menikmati bacaan-bacaan yang sebetulnya ‘sengaja’ saya peruntukkan dia. Untuk misi yang satu ini saya memang harus lebih sabar. Betapa tidak? Waktu-waktu sebelum ini mungkin saya akan menggerutu jika setiap kali merapikan tempat tidur dan dia seenak pantatnya berbaring mengacak kembali sprei yang sudah rapi.  Karena ini sudah merupakan rencana saya, maka saya harus tersenyum ikhlas untuk itu. Ketika saya tahu keadaan itu saya pura-pura tidak melihat. Biarkan saja. Atau segera ke dapur berkutat di sana. Membuat pisang goreng kesukaannya atau apalah yang mampu membuat matanya terbelalak suka.

Lalu kecelakaan itu tiba-tiba mengerucutkan semua rencana saya. Diah yang terjatuh sehabis mengantar mama belanja. Knalpot motor yang menindih kaki kananya membuat luka bakar yang serius. Membuat ia harus rela selama sebulan penuh tidak bisa kemana-mana. Hanya bisa berbaring di atas tempat tidur. Ah, kabar buruk atau baikkah bagi saya?

Jadilah saya dan mama bergantian merawat adik bungsu saya. Sementara majalah-majalah Islam semakin intensif menemani hari-harinya. Teman-temannya pun bergantian datang. Bahkan gengnya selama di SMP terlalu sering datang ke rumah. Liburan panjang sembari menunggu pengumuman kelulusan SMP membuat mereka betah berlama-lama. Tentu saja kesempatan ini tak kusia-siakan. Sesekali mereka kuajak diskusi ketika menanyakan jilbab saya atau perubahan saya yang lain. Atau kadang saya sodori setumpuk Annida dan kemudian saya tinggalkan mereka ke kamar saya dengan alasan masih banyak tugas yang harus saya kerjakan. Dengan sakitnya Diah, saya bahkan mengenal teman-teman Diah lebih dekat.

“Ya, kita harusnya tidak berdiam diri. Tahu gak, Tan. Perjuangan saudara kita muslim di Bosnia. Mereka dibantai, dibunuh, ditindas hanya karena mereka muslim”

Saya yang sedang menyiapkan perban di ruang tengah sontak memasang daun telinga lebih lebar mendengar perkataan Diah pada Tantri sore itu.

“Nih, liat di mana-mana ketika muslim merupakan minoritas dia selalu ditindas.”

Rupanya Diah menunjukkan majalah Sabili baru yang tadi siang saya bawakan untuknya. Menirukan kembali kata-kata saya untuk dia sampaikan pada Tantri, teman satu gengnya. Kemudian terjadi diskusi panjang lebar.

Hari pun berganti ketika akhirnya Diah pun memutuskan untuk berhijab. Dikuti oleh teman gengnya satu persatu mendapatkan hidayah. Bahagia sekali melihat kenyataan tersebut. Berkali-kali kuucap syukur kepada Allah rabbul izzati. Bahkan dengan serta merta keenam anggota geng tersebut akhirnya mau untuk sepekan sekali berkumpul di rumah untuk mentarbiyah diri bersama saya. Diah yang meminta saya menjadi pembina mereka. Ketika mereka memutuskan untuk berhijab, saya bahkan mengeluarkan sebagian baju panjang saya berikut jilbab, agar bisa mereka kenakan sebagai baju ganti.

Seiring dengan berjalannya waktu keenam binaan awal saya masing-masing diterima di SMA yang berbeda. Alhamdulillah pertemuan pekanan masih terus berlanjut. Mereka juga rajin mengikuti acara tarbawi baik pertemuan pekanan, berbagai dauroh maupun mabit yang rutin diadakan di rumah mereka masing-masing secara bergantian. Sesekali saya diminta untuk mengisi kajian keislaman di sekolah mereka maupun di acara FKPM (Forum Komunikasi Remaja Muslim) acara kajian rutin gabungan SMA Negeri di Jogja saat itu. Itulah yang saya katakan sebagai kenangan indah, Helvy. Ukhuwah yang terus terjalin berkepanjangan demi kecintaan terhadap dakwah ini.

 

Tahun 1998….

Diah ada bersamaku. Menggendong keponakannya sementara aku masih sibuk meredakan dua anakku yang lain, yang sedang bertengkar berebut buku yang barusan kubelikan. Masih di toko buku yang sama.

“Wow… dicetak ulang. Sekarang dibukukan.” Gumam Diah tidak begitu jelas di telinga saya karena rengekan si sulung.

“Apa…?”

“Ketika Mas Gagah Pergi…”

“HTR….” sambungnya menyodorkan buku kumpulan cerpen yang diraih dari rak buku di depannya.

Saya mengernyitkan dahi mencoba mengingat-ingat judul cerpen itu. Rasanya pernah membaca. Oh, ya di Majalah Annida. Sekian tahun yang lalu. Tapi ketika mencoba mengingat keseluruhan cerita, saya agak kesulitan mengingati secara utuh. Maklumlah sudah sekian ratus cerpen saya baca tak terkecuali cerpen-cerpen Helvy.

“Hebat kamu. Masih ingat detil cerita itu.” ungkapku takjub sambil menyendokkan es buah ke bibir putri sulungku. Keluar dari toko buku kami mampir ke kedai es buah yang ada di depan toko. Barusan Diah bercerita panjang lebar tentang tokoh Mas Gagah di dalam cerpen HTR.

“Tahu nggak, Mbak. Sehabis membaca cerpen itu semalaman aku gak bisa tidur. Mewek. Mbak begitu baik, kenapa aku gak bisa meraih hidayah yang Allah sodorkan. Maka pagi harinya aku bersegera untuk menutup aurat dan meminta agar Mbak Ratna membimbingku mengaji. Mengumpulkan teman-teman agar bisa mengaji pekanan dan saling mengingatkan agar istiqomah dalam berislam”

“Wah, berarti mbakyumu ini pengganti tokoh Mas Gagah di kehidupanmu. Keren…” ungkap saya tertawa kecil. “Jadi titik baliknya hidayahmu, ketika kamu membaca cerpen itu?”

“Kurang lebih begitulah.”

“Kok dulu enggak cerita? “

Diah hanya nyengir.

Saya beranjak bermaksud masuk kembali ke dalam toko. Jadi penasaran menyimak kembali cerita itu. Jadi cerita Mas Gagah itu….

Pengakuan Diah barusan yang tiba-tiba membuat saya antusias.


 

Begitulah sepenggal kisah yang ingin saya bagikan padamu, Helvy. Saat ini Diah, adik manis saya telah menjadi guru di sebuah SMA Negeri di pelosok Jogja. Ia bahkan sudah menikah dan memiliki dua putra yang ganteng dan solih. Dia suka pula menulis. Beberapa kali memenangkan lomba menulis. Beberapa tulisan dia pun pernah dibukukan meskipun masih berupa penerbitan bersama dengan teman-teman lain. Sering pula menyemangati saya untuk menulis.

“Ayolah, Mbak, menulislah. Tulisan Mbak cukup oke. Aku saja ngerasa kalah bagus denganmu dalam urusan ini”

Di kesempatan lain dia bahkan kadang memotivasi seperti ini.

“Ayo kita terbitkan tulisan bareng. Kita berdua kan seperti HTR dan Asma Nadia” ungkapan yang membuat saya terkekeh. Tentu saja saya jauh dibanding denganmu Helvy. Bukankah sudah saya katakan di awal meskipun memiliki beberapa kesamaan, tetapi takdir Allah membuat kita berada dalam keadaan yang berbeda. Selama kita sama-sama berjuang di jalan Allah, maka saya yakin Allah pulalah yang akan menyatukan hati kita, tak peduli jabatan apa yang kita sandang di dunia ini.

Saat ini saya hanya hidup dengan kehidupan sederhana, membantu suami saya dengan berdagang kecil-kecilan. Membersamai dan membesarkan enam anak saya yang saya harapkan akan mampu meraih cita-cita yang tinggi. Ah, Helvy, ketika di dunia kita berada dalam tataran dan status sosial yang berbeda, sehingga tak memungkinkan kita berjumpa di dunia, saya tetap memiliki harapan. Saya berharap suatu saat nanti Allah akan mengijinkan saya bertemu dengan seorang sahabat saya yang sekian lama saya rindukan di jannahNya. Dan itu adalah engkau, yang dengan cerita yang engkau tuliskan terbukalah hidayah orang-orang yang kucintai.


STOP PRESS!
Mari wujudkan film Ketika Mas Gagah Pergi SESUAI SPIRIT BUKUNYA! Caranya? Ikut crowdfunding/ “Patungan Bikin Film” Ketika Mas Gagah Pergi bersama para Sahabat Mas Gagah (@sahabatmasgagah). Kamu bisa urunan semampu kamu. Catat rekeningnya! BNI Syariah 0259296140 a.n Yayasan Lingkar Pena. Konfirmasi sms 08121056956. Info: http://www.masgagah.com atau http://www.sastrahelvy.com

“Ini film kita! Kita yang modalin, kita yang buat, kita dan dunia yang nonton!”

1 Comment

Filed under Cerpen, Jurnal, Lainlain, Sketsa

One response to “Dengan Ceritamu, Terbukalah Hidayah Bagi Orang yang Kucintai

  1. Bagus2 ceritanya…

    Bila berminat kami dari penerbit dan percetakan CV Herya Media bersedia membantu menerbitkan tulisan-tulisan di blog ini menjadi buku porfesional. Pokoknya kami bantu dari sisi layout (perwajahan) buku, desain kaver, pengurusan ISBN ke Perpusnas, sampai laik terbit.

    Pricelistnya bisa dilihat disini>> https://heryamedia.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s