Ketika Tiga Mas Pergi

318030_507937522563038_1930558795_n

Banyak orang berkata mereka tergugah saat membaca buku Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP), termasuk engkau, Mas. Lebih dari sekadar menyukai dan tergugah dengan kisah KMGP, kau kemudian menjadi orang yang sangat mendukung munculnya film Ketika Mas Gagah Pergi.

“KMGP kisah yang sangat bagus, menginspirasi dan menyentuh. Kalau difilmkan KMGP ini akan menyentak kesadaran berislam para pemuda Indonesia!” katamu penuh semangat.

Tahun 2004. Kau duduk di hadapanku sambil memakan sate kambing kesukaanmu. Kau Chaerul Umam, sutradara terkemuka yang menghasilkan berbagai film terkenal seperti Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Ramadhan dan Ramona, Fatahillah, Ketika Cinta Bertasbih, dan lain-lain.

Aku tersenyum mendengar kalimat-kalimatmu. Mas Mamang, begitu panggilan akrabmu. “KMGP ini akan jadi film keren! Saya sudah bisa bayangkan tiap adegannya!” tambahmu antusias.

Masih tahun yang sama: 2004. Kau, sang penghibur terkemuka, sambil menyantap buah kesukaanmu dengan semangat berkata padaku, “Mbak Helvy, ini konsep yang saya buat!” Kau perlihatkan isi laptop dan beberapa kertas serta bagan yang telah kau print. “Kita akan buat acara televisi Mencari Mas Gagah!”

Aku menatap kertas-kertas di hadapanku. “Mencari Mas Gagah?”

“Ya, kita akan buat semacam acara atau kuis untuk “Mencari Mas Gagah”. Jadi konsepnya kita mencari sosok-sosok yang memiliki wawasan keislaman, ahlak, karakter dan postur mirip Mas Gagah. Ini bisa berdasarkan usulan yang dikirimkan ke kita, atau kita hunting. Orang-orang yang terkumpul nanti bisa “diadu” lagi di acara tersebut, sampai final. Saya yakin, lewat acara ini nanti insha Allah kita bisa menemukan Mas Gagah….”

“Terimakasih, Mas Pepeng, ini keren sekali,” ujarku dengan mata berbinar.

“Fungsi televisi yang informatif, mendidik sekaligus menghibur terpenuhi melalui”Mencari Mas Gagah” ini! Acara ini akan menginspirasi terutama buat anak-anak muda, Mbak!” katamu lagi.

Aku manggut-manggut melihat engkau, Mas Pepeng, begitu bersemangat.

“Mas Gagah itu akan jadi role model para pemuda Indonesia. Tidak bisa sembarang orang yang main. Kita cari orang yang kualitas diri, yang kesehariannya sama dengan Mas Gagah di buku dan filmnya. Itu baru mantap! Saya dukung!” tambahmu sambil tertawa.

Namun sejak 2004 hingga kini, film Ketika Mas Gagah Pergi belum kunjung dibuat. Ada beberapa kendala, antara lain ketidakcocokan dengan PH yang ingin memproduksinya.

Tahun 2005 engkau, Mas Pepeng, terkena penyakit langka multiple sclerosis yang menyebabkan kau lumpuh dan kemudian makin lama kian lemah serta hanya bisa terbaring di rumah, namun kau selalu ingat pada Mas Gagah, termasuk menanyakan perkembangan filmnya saat aku menjengukmu.

IMG_0078Tujuh tahun kemudian, tepatnya Januari 2013, sebuah PH besar yang ingin memproduksi film Ketika Mas Gagah Pergi membuat casting untuk film ini. Aku, Mas Mamang, Niniek El Karim dan kau: Mas Didi Petet, menjadi juri. Kita melihat penampilan lebih dari 500 orang dari sekitar seribu yang mendaftar dalam sehari!

Saat istirahat, kau yang familiar dalam perfileman Indonesia sebagai aktor kawakan, menghampiriku. Lalu terdengar warna suara kalem itu, “Mbak Helvy, udah ketemu sama Mas Gagah?”

“Belum, Mas. Belum ada yang benar-benar cocok dari casting ini….”

“Saya suka ceritanya. Ini akan jadi film yang berkarakter, apalagi kalau ketemu pemeran Mas Gagah seperti gambaran dalam buku. Keren-lah pokoknya. Si Boy aja mah lewat,” candamu lagi. “Itu tokoh 3 preman insap temannya Mas Gagah juga seru.”

“Ya, Mas. Tulisan itu lebih tua dari usia anak pertama saya, semoga kita segera ketemu para pemerannya, ya.”

Namun sejak pagi hingga malam makin larut kita merasa belum menemukan Mas Gagah. “Adanya separuh Mas Gagah!” ujarmu sambil garuk-garuk kening.

Ketika malam itu kita selesai merekap, kita belum juga mendapat sosok Mas Gagah yang sesuai dengan bayangan kita saat membaca KMGP.

11257229_917547078268745_2106224917061239435_n

Dengan wajah lelah, sebelum pulang, kau berkata, “Nanti kalau mbak Helvy duluan ketemu sama Mas Gagah, tolong kenalin sama saya ya! Biar saya bisa belajar juga dari Mas Gagah. Sekarang jamannya orang tua belajar sama anak muda!”

Aku tersenyum dan mengangguk menatapmu, Mas Didi.

“Terimakasih buku Ketika Mas Gagah Pergi sangat menginspirasi saya!” tambahmu sebelum berlalu.

Tahun 2013 itu aku masih bertemu kalian bertiga dan berinteraksi. Mas Mamang dan Mas Didi hadir saat acara “Solidaritas Sastra untuk Palestina” yang kugelar bersama Bengkel Sastra Jakarta. Usai mengisi acara baca puisi, kalian masih saling bertanya:

“Mbak Helvy, datang nggak nih Mas Gagah di acara ini? Cinta nggak dia sama Palestina? Harus cinta kayak kita ya!”

18302_492225637467560_1421805451_n

Aku ingat beberapa kali kita bicarakan keprihatinan yang sama terhadap anak-anak muda Indonesia sekarang. Para pemuda kita yang gampang marah, mudah membenci, hingga terjerat drugs dan narkoba. Para pemuda harapan bangsa kini banyak yang miskin peduli terhadap sesama, terhadap agama, bangsa dan negara.

“Mas Gagah ini film yang diperlukan anak-anak muda kita!”

“Ketika Mas Gagah Pergi akan jadi film yang mendekatkan kita dengan Allah, keluarga dan sesama.”

“Film yang menumbuhkan karakter!”

Suara-suara kalian masih terasa dekat di telinga.

Dan kini sudah tahun 2015. Mozaik kisah bersama kalian berkelebat kembali, seperti sebuah film yang tayang berulangkali di benakku dan membuat airmata bergulir, menderas membuat sungainya sendiri….

3 Oktober 2013 engkau mas Chaerul “Mamang” Umam, wafat dalam status sebagai sutradara yang dipilih sebuah PH untuk film yang kita cita-citakan: Ketika Mas Gagah Pergi. Kepergianmu pada akhirnya menjadi awal aku mengambil kembali naskah ini dari PH yang bersangkutan, selain kontrak yang sudah selesai.

6 Mei 2015, engkau Mas Ferrasta “Pepeng” Soebardi wafat. Aku sesenggukan. Menyesal sekali menunda-nunda menjengukmu kembali setelah pertemuan kita sebelumnya. Maafkan aku, ya, Mas….

15 Mei 2015 engkau Mas Didi “Petet” Widiatmoko meninggal dunia. Ini hanya beberapa saat setelah aku menemukan pemeran Mas Gagah untuk film KMGP. Sayang, aku belum sempat memperkenalkannya padamu, Mas, karena kau lebih dulu pergi….

23 tahun usia kisah KMGP, 11 tahun sudah perjuangan menuju layar lebar, kalian, tiga “Mas Gagah” dalam perjuangan ini pun satu persatu telah dipanggil-Nya. Meski selalu ada perih yang mengiris-iris setiap kali mengingat hal itu, aku tahu Allah lebih mencintai kalian, Mas.

Ya, akhir 2014, untuk menjaga keaslian cerita, ruh dan spirit KMGP, kuputuskan untuk memfilmkannya dengan cara crowd funding (pendanaan gotong royong). Aku juga melibatkan tim yang dari dulu selalu bekerjasama dengan engkau, Mas Mamang, dan kami beranikan diri menghadapi jalan terjal ini. Kau tahu, Mas, ternyata banyak yang mendukung kita. Film ini akan menjadi karya sastra Indonesia pertama yang dibiayai pembuatan filmnya dari dana patungan para pembacanya, insya Allah.

Selamat jalan Mas Mamang, selamat jalan Mas Pepeng, selamat jalan Mas Didi! Kalian memang telah pergi, tapi semangat yang pernah kalian pahatkan, terus terpatri di sini. Oh ya, kalian tahu? Saat ini setiap pekan aku keliling Indonesia untuk sosialisasi dan crowdfunding film KMGP. Sudah 120 kota! Setelah kalian pergi, teman-teman Forum Lingkar Pena dan kawan-kawan dari Aksi Cepat Tanggap menjadi tim tangguh untuk merealisasikan film ini. Kau ingat Mas Firmansyah, Mas Adha, Mas Fredy? Mereka juga ada di sini, Mas. Aku merasa diberkati karena kian hari kian banyak yang mendukung gerakan budaya “Patungan Bikin Film” ini. Aku menyebutnya selebrasi, sebuah perayaan memenangkan gagasan untuk proyek idealis seperti KMGP. Ya, seperti katamu, Mas, idealis bukan berarti tak bisa komersil, bukan? Doakan banyak pengusaha yang tergugah, agar kami dapat investor dan sponsor yang mau mempertahankan nilai-nilai Islam yang kuat dalam film ini, ya, Mas….

Insha Allah kami akan terus bergerak dan lanjutkan perjuangan ini hingga film ini tayang dan membawa seberkas cahaya bagi Indonesia.

Selamat jalan menuju Maha Cahaya, Mas!


 

Depok, 25 Mei 2015.

Helvy Tiana Rosa, semacam prolog untuk buku baru: Jejak-Jejak Mas Gagah 2, Penerbit Pipiet Senja Publishing House, Juni 2015.

unnamed

1 Comment

Filed under Jurnal, Lainlain, Sketsa

One response to “Ketika Tiga Mas Pergi

  1. Pingback: Ketika Tiga Mas Pergi | jannatibaiti2209

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s