Gotong Royong Memenangkan Gagasan dengan “Patungan Bikin Film”

PrintKetika Mas Gagah Pergi sangat menginspirasi saya sebagai remaja saat itu dan membuat saya jadi pribadi yang lebih peduli pada sekitar serta lebih mencintai Islam. Kisah ini abadi dan mampu mengubah banyak pembacanya menjadi lebih baik. ” (Asma Nadia)

Pernyataan penulis bestseller Asma Nadia tak jauh berbeda dari Habiburahman el Shirazy. Bahkan penulis yang populer dipanggil Kang Abik ini mengusulkan agar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memasukkan buku ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ ke perpustakaan sekolah-sekolah dan universitas untuk membangun karakter pemuda Indonesia.

Kang Abik dikenal sebagai penulis novel best seller Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih (KCB) yang ketika difilemkan sukses meraih lebih dari tiga juta penonton serta mengawali munculnya genre drama-religi baik dalam bentuk filem maupun sinetron televisi.

Saran kang Abik ini diperkuat oleh hasil riset yang dilakukan ahli sosiologi asal Jepang, Yo Nonaka Ph.D. Nonaka, yang juga menerjemahkan kisah ini ke bahasa Jepang, menyimpulkan, “buku ini turut berperan dalam membentuk karakter generasi muda muslim tahun 1990-an- 2000-an hingga sekarang.”

Tidak banyak kisah seperti ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ (KMGP) yang punya pengaruh demikian kuat dan masih relevan sejak diterbitkan pertamakali tahun 1993 dalam bentuk cerpen di Majalah Annida. Cerita KMGP sendiri pertamakali ditulis Helvy tahun 1992, dan terbit sebagai buku baru tahun 1997. Hingga kini, buku tersebut sudah dicetak ulang 39 kali ( 10 kali cetak ulang terakhir dilakukan oleh Penerbit Asma Nadia Publishing House) dan permintaan masih terus mengalir, baik melalui berbagai toko buku maupun penjualan langsung.

Tak kurang dari tiga rumah produksi kemudian mengincar untuk memfilemkan kisah ini. Tapi upaya-upaya tersebut kandas, diantaranya karena terjadi beberapa ketidaksepakatan antara penulis KMGP dan produser tersebut menyangkut hal-hal yang prinsipil.

Alih-alih kecewa, keluarga, kerabat dan kawan-kawan penulis kisah ini, Helvy Tiana Rosa, lalu membentuk komunitas “Sahabat Mas Gagah” dan menggulirkan upaya gotong royong menghimpun dukungan dalam bentuk gerakan “Patungan Bikin Film” (crowd-funding) guna mewujudkan KMGP menjadi film, sesuai ruh aslinya.

Gayung bersambut. Para remaja yang membaca buku ini saat sekarang maupun sejak 23 tahun lalu, menyambut baik upaya gotong royong ini. Umumnya mereka kini sudah menjadi bagian dari keluarga menengah Muslim yang jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun seiring perkembangan ekonomi Indonesia.

“Buku Ketika Mas Gagah Pergi menjadi jalan hidayah ketika saya masih di pengungsian, untuk berhijab, belajar giat, tidak pacaran dan menulis diary,” tulis Raidah Athirah, asal Maluku, “Kini di pucuk Aurora Norwegia, memori saya kembali. Semoga KMGP menjadi the inspiring movie.” Athirah menulis ini di status Facebook-nya sambil memajang foto bersama suami bule-nya.

Lain lagi menurut Nursyda Syam. KMGP yang ia baca bertahun lalu, telah menempanya menjelma pribadi yang bukan saja peduli,bahkan membuatnya menjadi inisiator serta penggerak di berbagai kegiatan kemasyarakatan, di wilayahnya: Lombok Timur. “Cerita yang tak pernah bisa saya lupakan, terus menyemangati saya untuk berbuat hingga hari ini,” tuturnya. Nursyda bahkan meraih berbagai penghargaan nasional, termasuk SCTV Award atas perannya sebagai agen pengubah masyarakat. “Ada peran Mas Gagah di sini! Begitu kuat dorongan buku KMGP!” tambahnya.

“Tokoh utama Mas Gagah bisa menjadi role model. Film ini dapat membangun karakter juga kepedulian luar biasa pada sekitar yang selama ini perlahan hilang dari anak-anak muda kita,” dukung Abdur, Pemenang II Stand Up Comedy 4. “Saya nangis baca bukunya,” tambahnya melalui akun twitter @abdurarsyad.

Selama 23 tahun usia kisah ini, Helvy memperkirakan KMGP sudah dibaca jutaan orang, dan banyak sekali yang menginginkan kisah ini bisa menjadi film sesuai ruh aslinya.

“Kita dukung film KMGP tapi tolong sesuai aslinya, ya! Spirit yang selama ini telah menggerakkan kita! Jangan sampai filmnya dibuat aneh dan terlalu banyak kompromi atas nama komersialisme,” kata Estining Pamungkas, salah satu pembaca KMGP wanti-wanti. “Harapan kami, pemeran Mas Gagah juga sebisa mungkin pemuda yang ahlaknya bagus, seperti di buku dan filmnya nanti. Jangan asal pakai artis ganteng dan terkenal saja. Cari yang bisa jadi teladan,” tambah Esti penuh harap.

Helvy mengaminkan. Sebagai penulis ia bertekad untuk turut menjaga nilai-nilai Islam dalam film ini nantinya. “Yang paling penting “ruh”, spirit ceritanya itu tdk diubah!” tutur Helvy. Sementara untuk latar cerita, berbeda dengan di buku, selain Jakarta, Maluku Utara akan menjadi salah satu latar. “Kami ingin mengangkat potensi alam dan keindahan wilayah tersebut. Insya Allah kita akan kerjasama dengan pemda setempat,” tutur Helvy. “Maluku Utara merupakan provinsi yang sangat indah juga relijius. Mas Gagah banyak mendapat inspirasi juga dari sana,” tambahnya.

Terkait crowd funding, rekening untuk “patungan bikin film” sudah dibuka dan akan terus dibuka hingga film ini diproduksi. Siapapun bebas memberi berapapun untuk wujudkan film ini bersama-sama.
Selain itu, setiap patungan Rp. 50 ribu otomatis akan memperoleh satu pohon yang ditanam atas namanya, yang akan dikelola seorang petani selama lima tahun ke depan. Dengan demikian tiap orang yang ikut “patungan bikin film” bukan hanya akan menonton film, tapi juga telah menyumbang oksigen bagi Indonesia dan dunia, serta menambah penghasilan petani. Bia uang produksi film Rp. 5 milyar terkumpul, itu akan setara dengan 100 ribu pohon.

Tak sampai di situ, sebagian keuntungan film kelak juga akan disumbangkan pada gerakan literasi bagi anak negeri (terutama di Indonesia Timur) serta sebagian lagi untuk anak-anak Palestina.
Jadi, cukup dengan Rp.50 ribu, kita bersama akan mampu mewujudkan KMGP menjadi film, menanam pohon, menyumbangkan oksigen bagi bumi, membantu petani, menggiatkan aksi literasi di negeri ini, dan membantu anak-anak Palestina. Beberapa lembaga yang mendukung film ini antara lain Forum Lingkar Pena, Aksi Cepat Tanggap, hingga Komunitas One Day One Juz (ODOJ).

Nomor Rekening “Patungan Bikin Film

  1. Bank Mandiri Cabang Margo City Depok 1570087778883 a.n. Lembaga Forum Lingkar Pena
  2. BNI Syariah cab Margonda 0259296140 a.n Yayasan Lingkar Pena
  3. Bank Mandiri 1640000965592 a.n Aksi Cepat Tanggap

Konfirmasi via sms ke 08121056956 (Risty)
Format konfirmasi: Nama _Jumlah_Rekening yang dituju Contoh: Ramadhan F_Rp 100.000,-_BNIS. Pelaporan dana akan dilakukan di web resmi http://www.masgagah.com
Mari bergabung juga di fan page Sahabat Mas Gagah di FB dan twitter @kmgpkita @sahabatmasgagah, serta @filmkmgp.

Ini film kita! Kita yang modalin, kita yang buat, dunia yang nonton!

IndonesiaGagah

5 Comments

Filed under Acara, Agenda, Kabar, Karya, Lainlain

5 responses to “Gotong Royong Memenangkan Gagasan dengan “Patungan Bikin Film”

  1. Semoga sukses ya, Bunda

  2. Yuyun Rachma

    Saya, teman2 dan masyarakat yang sudah mengenal mas Gagah sejak awal kemunculannya, memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap KMGP The Movie ini. Akankah para pemerannya mampu menghidupkan karakter masing2 dan membuat imajinasi kami jadi nyata? Mungkin memang tak dapat sempurna impian kami terpenuhi. Tapi saya yakin, ruh dan semangat kebaikan dalam kisah aslinya akan benar-benar tersampaikan di filmnya. Baarakallahu fiikum bunda…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s