Vidiara

Vidiara
1
Aku mengira cinta adalah
samudera pengorbanan tanpa tepi
kesetiaan yang semakin menjadi
dan ketika cintanya
terdefinisi sebagai ilalang patah
waktunya bagiku untuk mengapung
dalam realitas imaji
dan lebur
di kedalaman laut
matamu

2
Inilah taman hening
Tempat merakit realita.
Realita?
Aku meragukan realitaku sendiri

Yang mana realitas itu sebenarnya?
Mungkin bagiku
mimpi dan fiksi
itulah realita sejati
sedang hidup yang kata mereka kujalani
hanyalah mimpi, cerpen, bahkan novel
yang belum selesai

Dan tercabik tiga kali cukuplah bagiku
setelah tak terhingga kali
terus berusaha mencinta
dan menangkan cintanya

Kini aku hanya mampu
menjaga cahaya mataku
agar ia tetap ada
di sana

3
Aku sudah pernah bicara
pada semua yang berwarna
dan tidak berwarna
pada semua yang bernama
dan tidak bernama
pembicaraan kami dirahasiakan
angin
tapi mereka tahu
luka akan memecahkan jiwa
dari tubuhku
yang menciptakan tubuhmu.

4
Malam ini taman hening
penuh cahaya biru dan ungu
Vidiara bisu

Sesungguhnya aku telah
mendapat kekuatan
mungkin bernama engkau
dan airmata

5
Singgahlah sejenak

Air minum untukmu
kuambilkan dari sungai samara
yang mengalir melintasi Vidiara
Sungai itu menjanjikan air jernih
sepanjang masa,
cukup dengan ramuan
dari kristal airmataku

Musik atau tembang apa
yang kau pinta?
Aku tinggal berbisik
pada Vidiara
ia akan meliuk,
menari
dan angin pun mendesaukan
nada-nada itu
bersama kunang-kunang

6
Setiap malam kusiapkan hal berbeda
untuk menawanmu di sini
Kau tahu, tengah kusiapkan
makan malam di atas
sebuah perahu
yang akan membawa kita
melintasi jalur samara
yang hening bening
tak perlu lampu atau lilin
karena seribu bintang, seribu kunangkunang
akan menemani
jangan bawakan aku bunga,
sebab semua bunga tunduk padaku di sini
“Mata Elang, bawakan aku setangkai puisimu!”

7
Apakah artinya semua ketibaan
dibandingkan kehadiranmu
malam ini?
Lihat, kemeja hitammu
dihinggapi serangga malam
yang riuh mengantarmu setengah
berlari menuju rinduku.

:”Perempuan mata hujan, aku akan selalu ada untukmu.”

8
Angin yang bersijingkat
merintih di depan Mahatta
Kau aku menggigil kala menanggalkan
lara di pembaringan itu
waktu henti
kita pun saling menyentuh
dan menemukan kunang-kunang bertebaran
dalam tubuhku tubuhmu

9
Tiba di paragraf akhir pertemuan
perempuan itu menulis tergugu
Seseorang telah ditakdirkan
untuk selalu kembali ke
taman hening betapa pun jauh
ia berlari dan menghindari

Helvy Tiana Rosa, Depok, 2008

Leave a comment

Filed under Drama, Karya, Puisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s