Menolak Bidadari

Helvy dan TomiSungguh, saya tak pernah benar-benar tahu, apa kesan suami yang paling dalam tentang saya. Saya pernah berpikir mungkin saya bukan perempuan yang terlalu istimewa baginya karena sepanjang hidupnya suami saya banyak bertemu perempuan hebat: cantik, pintar, keturunan baik-baik dan tentu juga sholihat. Jadi berapa nilai saya sebenarnya di matanya? Namun menyadari bahwa ia toh memilih saya, tentu ada sesuatu pada saya.

Dulu, ketika baru menikah ia pernah bilang bahwa kelebihan saya dibandingkan banyak perempuan lain yang ia temui, yang sangat menonjol adalah karakter saya yang kuat. Waktu itu saya hanya mengernyitkan kening sembari tersenyum. Karakter? Kuat?

Suami saya orang yang sangat baik hati.

“Tapi maaf ya sayang, aku tidak romantis,” ucapnya yang rata-rata saya dengar setahun sekali.

Ya, ia misalnya, tak pernah mengajak saya pergi berlibur berdua di suatu tempat terpencil nan indah, atau membawakan seikat atau setangkai saja bunga. Ia juga tak pernah menciptakan puisi walau sebaris untuk saya. Candle light dinner? Pernah, dua kali dalam 12 tahun. Tapi bagaimana pun, saya tahu ia selalu mencintai saya. Ia selalu siap untuk saya meski ia jarang menyatakan secara lisan.
Namun begitulah perempuan, bukan? Selalu ingin tahu setiap saat. Hari ini sebesar apa cintanya padaku? Bagaimana kesannya padaku? Apakah lebih baik dari kemarin? Bertambah? Berkurang?

Saat-saat kami berdua, saya sering mencoba menangkap sesuatu di matanya: diri saya. Sedalam apa saya menghunjam di mata, juga batinnya? Sejauh mana saya mampu mengesankannya? Seluas apa cintanya…?

Begitu juga, beberapa hari lalu, saat kami pulang bersama. Waktu-waktu seperti itu kami pakai untuk berdiskusi soal anak-anak, pekerjaan, keluarga besar…, dan yang lainnya, seraya mata saya terus lekat menatap matanya. Lagi-lagi: selalu mencari saya!

Ah, hari-hari kami memang berlalu begitu cepat. Tiba-tiba pernikahan kami sudah berumur belasan tahun. Limpahan kebahagian menyergap, meski kadang ada saja sandungan yang harus kami hadapi, yang kami harap dapat lebih mematangkan cinta kami.

“Sebenarnya, apa sih kesan terdalam Mas terhadap aku?” tiba-tiba saja kata-kata tersebut meluncur dari mulut saya, malam itu. Saya sempat terkejut sendiri.

Mas tersenyum.
Saya terdiam. Salah tingkah.
Sekitar kami hening. Hanya deru mesin mobil.

“Maaf ya, Mas…, gini hari nanyanya kayak orang pacaran…,” kata saya lagi.

Mas masih tersenyum. Saya makin salah tingkah.

“Kemarin ketika sholat di masjid, ustadz yang berceramah menyampaikan tentang bidadari-bidadari yang akan diberikan Allah, yang akan menjadi istri para lelaki beriman di surga nanti….”

“Iya…terus?” tanya saya. Saya ingat hadits itu…berapa bidadari? Puluhan?

“Bunda tahu, aku berharap aku tak akan pernah mendapatkan para bidadari itu. Aku hanya ingin bersama bunda, menjadi suamimu di dunia dan di surga nanti.”

Hening lagi. Beberapa mobil melintas, Sorot lampu bergantian menyergap kami.

Lalu lidah saya kelu. Sebentar lagi airmata saya akan tumpah. Saya tahan sebisa saya.

“Itulah kesanku untuk bunda,” ujarnya pelan. Ia tumpukan tangan kirinya di atas tangan kanan saya. Membelai tangan saya lembut.

Saya tersenyum dalam diam. Kalau tak di dalam mobil, mungkin sudah saya peluk ia erat-erat. Ah, ia tak perlu tahu, airmata saya jatuh juga. Itu kata-kata paling romantis yang pernah saya dengar di dunia ini!
Malam ganjil di bulan Ramadhan yang berkah. Sebait doa saya kirim ke petala langit. Semoga kami berdua dan anak-anak selalu bersama. Selalu bersama di dunia dan di akhirat. Selalu bersama. Ya, lebih lama dari selamanya….amiiin.

(Helvy Tiana Rosa, dari buku: Catatan Pernikahan, 2008)

5 Comments

Filed under Jurnal, Karya, Sketsa

5 responses to “Menolak Bidadari

  1. aagrh! buun, its too sweet! nangis bacanya

  2. aamiin, bunda…
    saya harap mama dan papa juga punya impian kaya gitu,
    Pun suami saya nanti, hehe
    aamiin..

  3. Reblogged this on belajar sampai gila! and commented:
    Terlalu romantis dan so sweet sampai saya ikut menangis :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s