Darahitam

cinta

Ini adalah sebuah cerpen yang saya tulis saat terjadi Tragedi Sampit 2001. Sudah lama, ya? Namun tetap relevan hingga sekarang. Semoga cerpen ini bisa membawa hikmah bagi kita bahwa kebersamaan dalam keberanekaan adalah kekayaan dan berkah bagi bangsa ini. Salam cinta.

 

Darahitam

Perempuan itu tak pernah bisa memejamkan mata lagi. Ia tak ingin bertanya soal sebab. Ia tahu jawabannya. Beliung-beliung luka itu telah menancapi sekujur diri. Juga pada hati dan kelopak matanya. Ia tidak mengerti apakah semua patung jurong yang ditemuinya juga merasakan itu. Mungkin tidak, pikirnya lagi, sebab mereka terbuat dari kayu ulin yang selalu tahan panas atau hujan. Sedang manusia, bukankah lelaki itu pernah mengatakan ia, dirinya dan semua manusia berasal dari tanah. Bagaimanakah tanah bila dituang air atau darah? Bukankah tanah-tanah itu akan meresap semua yang tumpah?

Seperti tanah, ia pun meresap segala. Cinta, luka, airmata atau darah. Ia membayangkan ketika kehidupan hanya ada di Pulau Batu Nindan Tarung atau kelak di Lawu Tatau, tentu napasnya tak akan menghirup udara anyir yang penuh umpat dan rintih ini.

Bagi perempuan itu, hari hanyalah perulangan waktu yang memilukan. Masih dibungkus galau, ia pun pergi ke tempat itu lagi. Berdiri di tempat serupa. Di atas puing-puing reruntuhan rumah yang telah arang, di tepi kota mati. Seperti ada ribuan tangan yang menahan, ia tak mampu menggerakkan kakinya dari sana. Sementara hujan menderas-deras. Mencakar-cakar tubuh perempuan itu.

Petir menggelegar, menyambar. Kilat meninggalkan bayangan wajah di mana-mana. Perempuan itu terpekik. Ia menatap langit dan menemukan ribuan pasang mata bergayut pada gumpalan awan kelabu. Ia tatap puing-puing reruntuhan yang berserakan dan ia temukan ribuan potong bibir yang bergerak-gerak. Ia memandang sekitar dan tampak olehnya ribuan jejak kaki dewasa dan kanak-kanak dengan arah tak beraturan. Hujan tak juga melunturkan jejak darah itu. Lalu perlahan kepalanya terasa berputar. Ia merasa telah berlari mengelilingi Waringin Timur berhari-hari tanpa henti, hingga kakinya terkelupas. Hingga dirinya bernanah. Lalu muncul wajah lelaki itu diikuti wajah polos para kanak-kanak yang tertawa dan menangis, silih berganti. Nanar. Ia terjemahkan semua berulang kali. Hujan mengucur. Menderas. Merembesi dinding batinnya.

“Siapa namamu?”

Perempuan itu menatap lelaki itu setengah menunduk. Ranying Mahatala Langit memang betapa. Betapa bagusnya Dia mencipta! Namun perlahan mimiknya berubah. Demi, Jata! Dia dapat mencium bau darah lelaki yang berdiri di hadapannya. Ia tak perlu mendengarkan logatnya dengan seksama. Lelaki itu… siapa pun dia, dia adalah Madura!
Air muka perempuan itu mendadak kaku. Keras.

“Ayah! Ayaaah!” Ia menjerit, merasakan tiba-tiba pada kerongkongannya tertanam jarum-jarum kepedihan yang tumbuh dari sebuah pohon ketakberdayaan di hatinya.

Di pasar itu ayahnya terkapar dengan belasan luka nganga! Lalu hiruk pikuk. Ia menapak ke sana ke mari, merasakan tubuhnya setengah melayang. “Siapa? Siapa yang membunuh ayahku?” Ia terus berteriak, hingga suaranya galau parau.

Orang-orang berbisik-bisik. Ia menangkap desau angin, juga risau suara-suara itu. Ayahnya bertengkar dengan jagoan pasar. Lelaki berusia lima puluh tahun itu menolak ketika si pemberang itu meminta uangnya. Lalu pendatang yang merasa dirinya jagoan mengamuk. Membabat ayahnya berulangkali dengan clurit. Darah muncrat di mana-mana. Meresap tanah, meresap nyeri. Carok. Berbagai desau masuk dalam risaunya, sebelum kemudian ia tak sadarkan diri.

Setelah hari itu, ia terus menangis sesenggukan dan ketika ia bangkit pertama kali untuk menyisir rambutnya, ia temukan dirinya hilang di dalam potongan kaca yang kusam. Yang ada hanya kebencian. Begitu menyala-nyala.

Dulu, ia tak pernah membenci siapa pun. Tidak juga ketika sebagian tanah milik mereka tiba-tiba berpindah tangan menjadi milik Sobari tua. Ia dan ayahnya hanya mengelus dada, ketika orang-orang pendatang itu memperkosa hutan-hutan yang selama ini menjadi kerabat sukunya. Dulu sekali ayahnya pernah menjadi pegawai kecil di kelurahan. Tapi kemudian ayah kembali menjadi basir seperti kakeknya dulu, setelah disingkirkan secara kasar dan diganti oleh warga pendatang yang dianggap lebih pintar. Padahal orang itu selalu berjalan dengan dagu diangkat dan mata yang didelikkan.

Lalu, apakah ayahnya saja yang diperlakukan sedemikian oleh para pendatang? Tidak. Hampir semua orang Dayak selama ini hanya mendapat sisa-sisa dari tanah mereka sendiri. Orang-orang Dayak digeser dan tergeser ke tepi-tepi. Mereka dikasari, diinjak-injak setiap hari oleh kecongkakan para pendatang itu.

“Masalahnya bukan orang-orang pendatang itu, anakku…,” kata ayahnya seraya berhenti memainkan gerdek di tangannya. “Dengar, Sayang. Di mana pun, akan kita temukan orang jahat dan orang baik. Itu tidak tergantung pada dari suku mana mereka berasal. Tetapi tergantung kepribadian tiap orang.”

Ah, ayah. Entah dengan mata apa ia memandang. Apakah semua basir memang selalu menatap dengan mata langit? Bahkan isu-isu di sekitar yang mengatakan para pendatang itu menyimpan banyak bom, tak juga membuatnya resah.
Kalau saja ia pernah mengenal ibunya. Ibu. Ibu. Betapa inginnya perempuan itu memanggil seseorang dengan panggilan ibu. Apakah ibu sama dengan ayahnya?

Ia memandang seekor burung yang menggigil di pucuk dahan yang basah dan merasakan kehampaan menyerbu ruang-ruang dalam dirinya. Pasti berdarah sekali ketika ibunya melahirkannya. Sebuah kelahiran yang harus ditebus dengan nyawa, karena kelalaian seorang bidan. Bidan pendatang, dengan bau darah yang sama.

Angin menderu dalam dirinya. Ia benci para pendatang itu. Kini kebencian itu bagai badai yang memenuhi dirinya. Ibunya mati. Ayahnya dibantai oleh orang yang dulu kedatangannya mungkin pernah disambut dengan tari manawi.
Angin berkali-kali. Hujan berkali-kali. Matahari yang sendiri masih merintih dalam dirinya. Pembunuh ayahnya masih bergentayangan. Tak ada polisi yang menangkap orang itu. Tak ada suara yang mempertanyakan.

Lalu muncul dia. Lelaki yang menjadi pembicaraan seluruh orang di desanya.
Sebenarnya beberapa bulan belakangan ia sudah melihat lelaki itu bersama tiga temannya, mengawasi pembangunan sebuah rumah, tepat di depan rumahnya. Kadang ia sempat melihat kulit lelaki itu berkilatan di bawah terik matahari, saat turut mengangkat bata atau mengaduk-aduk semen bersama buruh-buruh bangunan lainnya. Hanya saja ia tak mengerti, mengapa lelaki itu selalu memelihara senyuman dalam setiap cuaca.

Bangunan itu memang akhirnya berdiri dan menjadi bangunan yang kokoh serta termasuk megah di desanya. Di depan halaman bangunan yang luas terpancang sebuah plang putih bertuliskan: Panti Asuhan Bina Insan.

“Dulu panti asuhan itu berada dekat Danau Burung. Namun tanah tempat panti asuhan itu berada katanya milik pemerintah. Karena menjadi sengketa, pemuda yang mengasuh panti itu mengalah dan membangun kembali panti tersebut di tempat ini,” kata Nerang, lelaki Dayak, tetangga sebelah rumahnya.

Perempuan itu sering mengintip keadaan di panti tersebut dari balik jendela kayu rumahnya yang rapuh. Mula-mula ia melihat sekitar sepuluh anak berusia 4-12 tahunan turun dari sebuah minibus dan bersorak-sorak masuk ke rumah itu. Hari-hari berikutnya, tiba-tiba sudah begitu banyak anak-anak di sana.

“Panti itu untuk semua anak yatim atau tak mampu. Bukan cuma yang dari Jawa, tapi juga anak-anak Dayak. Muslim, atau Helu,” ujar Nerang lagi sambil mengedipkan mata dan tersenyum lebar pada perempuan itu.

Perempuan itu hanya diam. Mengunyah kalo-kalo di tangannya tanpa mimik.

Tak seorang pun di desanya yang pernah mengeluh tentang lelaki pendatang itu. Ia bagai bulan yang menerangi desa tersebut. Para penduduk selalu membalas senyuman dan jabat eratnya. Berbagai kalangan di desanya seolah berlomba mencintai lelaki itu.

Sebenarnya beberapa kali lelaki panti itu mencoba menyapanya baik-baik. Bahkan dengan suara yang lebih lembut dari suara ibu mana pun.

“Siapa namamu? Kenalkan saya….”

Perempuan itu selalu berlalu begitu saja sebelum lelaki itu sempat menyelesaikan kalimatnya. Mereka memang bertetangga. Tinggal berhadap-hadapan. Namun ia dapat mencium bau darah itu. Ia memutuskan untuk tidak akan membiarkan dirinya diusik.

Namun diam-diam perempuan itu terus mengintip lewat celah-celah jendela kayu rapuh itu. Di antara pepohonan dan semak-semak liar di depan rumahnya.

Ia melihat ketika belasan anak itu merangkul atau menggelayuti lelaki itu sambil tertawa. Ketika mereka berkejaran di halaman, bermain bola dengan riang. Atau saat mereka menyanyikan lagu-lagu yang asing di telinganya namun terdengar bersahaja. Ya, seakan tiada yang bernama duka di sana. Kadang ia mengerutkan kening, ketika di halaman dilihatnya lelaki itu mengajarkan anak-anak membuat kerajinan tangan dari kayu seolah tempat itu adalah Getah Nyatu. Ia mendengar suara lelaki itu dan beberapa kanak-kanak mengaji setiap matahari terbenam, setiap matahari menyingsing. Lalu dirasakannya sesuatu menyergap-nyergap jalan aliran darahnya.

Perempuan itu masih berdiri di atas puing-puing sisa pembakaran yang mengarang dan menemukan dirinya adalah puing yang sama. Ia menengadah dan menjumpai begitu banyak wajah melekat di atas langit biru, langit perih. Wajah ayah, wajah ibu yang samar. Wajah lelaki itu, wajah polos para kanak-kanak yang tersenyum darah, wajah-wajah penuh amarah…. Lalu kembali dilihatnya dirinya di langit yang sama. Mencoba melipat sunyi dan jeri yang serupa, namun terhempaskan.
Tidaaak!

Ia bergidik! Tiba-tiba saja Nerang, tetangganya itu, sudah berada di rumahnya. Liar. Beringas. Sebelum ia sempat berkata apa pun, lelaki beristri dan beranak dua itu menerkamnya seperti macan buas yang kelaparan. Ia mencoba berteriak, namun Nerang yang memegang parang, sudah membekap mulutnya. Ia meronta-ronta. Ia hampir saja dapat melepaskan diri, ketika bajingan itu menarik kalung manik yang dipakainya. Lehernya pedih. Begitu cepat pohon ketakberdayaan beranak pinak dalam dirinya. Airmatanya tumpah tanpa suara. Berderai-derai, seperti untaian kalung maniknya yang berserakan di lantai.

Pada saat itulah sekonyong-konyong lelaki dari panti asuhan itu masuk dan menyerang Nerang. Mereka bergumul. Tangan lelaki itu berdarah terkena goresan parang, namun ia terus melawan dengan tangan kosong. Perempuan itu masih gemetar. Ia tergeragap sesaat, lalu melolong-lolong dengan suara yang benar-benar lengking. Nerang pun kabur dengan mata merah.

Lelaki dari panti asuhan itu bangkit. Ia meringis, antara menahan sakit dan melempar seulas senyum tipis pada perempuan itu. Lalu dengan tubuh terhuyung keluar dari rumah tersebut.

Sesaat perempuan itu merasakan lagi aroma darah yang dibencinya. Tetapi lelaki dengan bau darah seperti itulah yang menyelamatkannya. Matanya mengabut.

Perlahan ia seret langkahnya satu-satu. Ia kunci semua pintu dan jendela. Ia berbaring di dipan dengan tubuh menekuk. Menggigil sepanjang malam. Nerang itu memang pemabuk. Tetapi ia tak menyangka tetangga yang dikenalnya sejak lama tersebut tega mencoba melucuti kehormatannya.

Perempuan itu tergugu, di atas puing-puing sisa pembakaran dan bercak darah yang mengering. Dirinya adalah puing itu. Bercak itu sendiri.
Ia masih bisa mendengar suara ramai yang riang di depan rumahnya. Juga sapa itu.
“Saya dengar kamu tamat sekolah kejuruan? Mau membantu anak-anak membuat ketrampilan? Atau mungkin sekali-kali mengajak mereka buat kue bersama?” laki-laki itu bicara padanya sambil menggendong Ikot, bocah Dayak, yang baru berumur empat tahun. Orangtua Ikot belum lama meninggal karena kecelakaan.

Ikot tersenyum selebar-lebarnya. Matanya yang bulat memendarkan cahaya kanak-kanak yang paling bulan. Ia mengangkat kedua tangan, meminta perempuan itu menggendongnya.

Perempuan itu ingin bicara tetapi sebukit batu menindih lidahnya.

“Saya tahu kamu memperhatikan anak-anak itu. Di panti kami tidak cuma ada anak dari Jawa, tapi juga beberapa anak asli tanah ini. Mereka pintar-pintar. Ada juga yang kami sekolahkan di SD dan SMP di Sampit. Mereka ada yang berasal dari suku Ngaju, Ot Danum, Ma’anyan, Lawangan, Siang, Dusun atau Tamuan.…”

Airmata perempuan itu menganak sungai. Ia terduduk di atas puing-puing sisa pembakaran yang sama.
Entah mengapa, sekarang ia begitu ingin mendengar ayat-ayat yang biasa dilantunkan lelaki itu dan beberapa kanak di panti. Ia ingin melihat lagi para kanak-kanak bergandengan tangan dan tertawa bersama, seperti hari-hari lalu di panti itu. Tetapi tak ada yang pernah mampu mengembalikan hari. Tak ada yang mampu menyulap hari menjadi kumpulan peristiwa yang membahagiakan.

Perempuan itu menjerit, memekik pilu. Kali ini memanggil nama Tuhan lelaki itu. Namun tak ada suara yang keluar sejak tragedi lalu.

“Allah selalu mendengar. Allah tahu yang terbaik. Allah memberi hikmah pada setiap kejadian yang menimpa kita. Percayalah pada Allah. Bila kita berbuat baik, tak ada yang lebih indah selain surga.”

“Tapi bagaimana kalau kita dibunuh orang, Kak?”

“Iya, bagaimana?”

“Kalian ada-ada saja…, ayo kita main bola….”

“Jawab dulu, kak…, bagaimana?”

Lelaki itu tersenyum. “Bila kita orang yang saleh, surga buat kita. Insya Allah….”

“Horreeee! Horrreeee!”

Angin menampar-nampar. Hujan mencakar-cakar. Kilat menyambar dan sinarnya memantulkan bayangan puluhan kepala tanpa badan yang ditemuinya di sepanjang jalan desa. Juga tubuh kanak-kanak yang hangus terbakar di dalam panti itu. Segalanya telah api. Telah arang karena peperangan. Ia ingin tak percaya pada mata, tetapi ribuan pewaris asli tanah ini bangkit konon bersama Pangkalima Burung dan Pangkalima Kumbang, menyerang ribuan sosok dengan aroma darah yang berpuluh tahun menanamkan kesumat itu.

Seperti ada yang meledakkan dirinya, saat ia temukan kepala lelaki itu, tepat di depan pintu rumahnya. Siapakah yang tega mengayau manusia penolong seperti lelaki itu? Lalu sebelum tak sadarkan diri, dilihatnya Nerang melintas dengan mandau yang masih menetes-neteskan darah di tangannya. Nerang melompat-lompat dan bernyanyi dalam bahasa yang tak ia mengerti.

“Jangan kubur! Awas kalau kau kubur bola itu!” teriaknya berkali-kali sambil menyeringai.

Perempuan itu masih terduduk di atas puing-puing yang sama. Masih merasakan api. Asap. Darah. Sejak kejadian itu ia tak bisa lagi bicara, bahkan untuk sekedar menyebut namanya sendiri.

“Memang saya keturunan Madura, tetapi lahir di Palangkaraya. Saya bahkan belum pernah ke Madura…, orang tua saya sudah puluhan tahun menetap di sini. Oh ya, nama saya Alawy. Siapa namamu?”

Susah payah ia bangkit. Hujan telah membasahi segala. Kota mati yang menyaksi dan batinnya yang nanah. Meski pohon ketakberdayaan itu terus tumbuh dalam hatinya, ia harus bangun. Mungkin besok masih ada matahari atau pelangi. Ia akan pergi ke sebuah jalan baru. Jalan yang pernah dibentangkan lelaki itu dalam ketakpeduliannya. Jalan paling cinta, yang tak pernah membedakan bau darah seseorang.


Helvy Tiana Rosa, Cipayung, Maret 2001

Keterangan:
Patung jurong: patung sesembahan
Pulau Batu Nindan Tarung: tempat tinggal manusia sebelum berada di bumi
Lawu Tatau: surga
Ranying Mahatala Langit: tuhan penguasa langit
Jata : tuhan penguasa bumi
Carok : jagoan (Madura)
Basir : pemuka ritual dayak ngaju
Gerdek : seruling tempurung, alat musik tradisional Kalteng
Manawi : tari penyambutan
Helu : Kaharingan, dianggap sebagai agama paling dulu oleh Dayak Ngaju
Kalo-kalo : Makanan khas Kalteng
Getah Nyatu : salah satu tempat industri souvenir dari (getah) kayu yang terkenal

Leave a comment

Filed under Cerpen, Karya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s