Jilbab Traveler Love Sparks in Korea; Film Cinta yang Ramah Keluarga

gerbongKetika menghadiri gala premiere film Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (selanjutnya saya sebut JTLSIK), saya yakin film tersebut akan menjadi salah satu film terbaik Guntur Soeharjanto. Sesudah menontonnya, ternyata produksi Rapi Film ini lebih bagus dari ekspektasi saya. Betapa tidak, hampir semua unsur dalam JTLISK tergarap dengan baik. Mari kita kupas satu persatu.

JTLSIK berkisah tentang Rania Timur Samudra, gadis kecil dari tepi rel kereta api yang sejak kecil sakit-sakitan, dan karena itu tak bisa menyelesaikan kuliahnya dan meraih gelar sarjana. Namun sang ayah (Wawan Wanisar), selalu menyemangati dan mengatakan bahwa gelar kesarjanaan bukanlah satu-satunya yang membuat seseorang sukses. Rania juga memiliki seorang ibu yang selalu mendukungnya (Dewi Yull) dan kedua kakak: Tia (Tasya Nurmedina) serta Eron (Indra Bekti) yang menyayanginya.

Singkat cerita, Rania pun menemukan sisi lain dirinya sebagai penulis yang kemudian terkenal, dan sering diundang keliling dunia. Rania memang senang menjelajah, apalagi sejak kecil sang ayah kerap bercerita tentang Ibnu Bathutah, penjelajah muslim yang menjadi inspirasi para penjelajah dunia termasuk Colombus, Magelhaens, dan yang lainnya. Jadilah Rania seorang jilbab traveler sebagaimana julukan dari para pembacanya serta menjadi ‘mata’ sang ayah dalam melihat dunia.

jtSuatu hari atas permintaan sang ayah, Rania mengunjungi Baluran, tempat indah dimana kisah cinta sejati ayah dan ibu Rania dimulai. Di sana Rania bertemu Alvin (Ringgo Agus Rahman) dan Lee Hyun Geun (Morgan Oey), lelaki Korea yang tertarik dengan alam dan budaya Indonesia. “Korea lebih bagus daripada Indonesia!” kata Hyun Geun. Tentu saja Rania tak terima. Rania pun mengajak Hyun Geun dan Alvin menguak tempat-tempat indah hingga ke kawah Ijen Banyuwangi, yang menurut Rania jauh lebih indah daripada Korea. Sayangnya, itu berakibat Rania kehilangan momen terakhir bersama sang ayah.

Rania yang kesal dengan Hyun Geun akhirnya bertemu kembali saat Rania diundang mengikuti writers in recidence di Korea Selatan. Salah paham di antara mereka akhirnya terselesaikan karena peran Alvin, sebelum salah paham berikutnya muncul justru saat Hyun Geun dan Rania kian dekat.

Ilhan yang dijodohkan oleh kakak-kakak Rania, dengan Rania, memberanikan diri menjemput Rania ke Korea, sekaligus melamarnya, padahal lelaki itu takut terbang. Sementara Hyun Geun ternyata akan segera menikah dengan seorang gadis kaya asal Korea yang telah dijodohkan dengannya. Namun kemudian Rania mendapat kabar Hyun Geun malah pergi sebagai relawan ke Palestina.

Lalu siapa yang akan dipilih Rania diantara dua lelaki tersebut?

Skenario JTLSIK ditulis oleh Alim Sudio yang juga menulis Assalaamu’alaikum Beijing. Kisahnya dibuka dengan adegan menarik dimana tiga anak kecil yang tinggal di tepi rel kereta api yaitu Rania, Tia dan Eron kecil berlari sekencang-kencangnya bersama mencoba mengejar kereta api. Tia dan Eron adalah saudara yang selalu menyemangati Rania baik untuk menulis maupun untuk keliling dunia.

Sekitar 40% dari film ini merupakan kisah nyata dari penulis novelnya yaitu Asma Nadia, diantaranya Tokoh Rania yang sejak kecil tinggal di tepi rel kereta api, mempunyai ayah seorang pencipta lagu/ musisi, sakit-sakitan sejak kecil sehingga tidak bisa menamatkan kuliah karena gegar otak dan penyakit lainnya, menjadi penulis belajar otodidak, memiliki 2 saudara kandung Tia dan Eron, keliling ke berbagai negara. Asma telah keliling dunia ke 60 negara dan 316 kota sebagian besar memenuhi undangan program writers in recidence juga kegemaran menjelajah. Asma memiliki sahabat Korea bernama Hyun Geun, seorang fotografer yang banyak membantu Asma selama 6 bulan mengikuti program writers in recidence di sana.

13690678_10154287726619804_8645124985134669745_nKembali ke film, dari segi akting para pemain, hampir semuanya terbilang maksimal. Bunga Citra Lestari (BCL) mampu masuk dalam karakter yang ia mainkan. Begitu kuat karakter Rania dalam BCL hingga saya pun lupa sesaat bahwa ada BCL di layar JTLSIK. Selama layar terbentang, yang saya lihat adalah Rania Timur Samudra.

Morgan Oey mampu mengimbangi akting BCL dengan pas. Berperan sebagai lelaki Korea, Morgan sukses keluar dari peran dia sebelumnya sebagai lelaki warga Negara Cina dalam “Assalaamu’alaikum Beijing” yang juga diangkat dari novel karya Asma Nadia. Aksen Korea Morgan terdengar seperti orang Korea sungguhan . Karakter Hyun Geun yang seolah cuek namun sebenarnya sangat peduli dan penyayang tergambar jelas bukan hanya melalui dialog atau tatapan mata, melainkan juga dalam tiap gestur Morgan. Selama 8 bulan sebelum syuting, Morgan khusus memanjangkan rambutnya untuk menjelma Hyun Geun.

Keseriusan berakting dalam JTLSIK juga dapat kita temukan pada Giring Ganesha yang berperan sebagai Ilhan, sosok yang selalu memilih menjadi seorang lelaki sejati, sang ‘gentleman’ yang bertahan pada sebuah prinsip tentang cinta yang tak pernah bisa dipaksakan, namun selalu takut untuk terbang. Penampilan Giring dalam film ini jauh melampaui ekspektasi penonton. Sosok Ilhan yang cool, tidak banyak bicara, tegas, penuh cinta dan bertahan pada prinsip tampak begitu nyata. Giring mewujudkan Ilhan dengan inner, aura yang cukup memukau.

Kehadiran Ringgo Agus Rahman menjadi penyegar semua kisah Rania. Ringgo menjadi pemantik tawa penonton sepanjang film lewat ucapan, mimik, dan semua gerak geriknya sebagai Alvin. Sementara itu kehadiran Dewi Yull sebagai ibu yang sabar dan selalu mendukung langkah anaknya meski dalam was was, menjadi magnit yang lain dari JTLSIK.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, hampir semua elemen yang diperlukan oleh sebuah film bagus terdapat dalam film ini, seolah menu yang komplit dan lezat. Director of Photograpy Enggar Budiono memanjakan mata penonton dengan angle dan gambar-gambar yang indah mulai dari Baluran Banyuwangi, hingga Korea, lengkap dengan mozaik gambar berbagai negara dunia, termasuk Palestina. Oh ya, berbeda dengan banyak film Indonesia lain yang kerap mengambil setting luar negeri, Korea dalam film JTLSIK sangat kuat dan menentukan alur cerita, bukan sekadar latar tempelan bagi kisah cinta dua negara. Meski demikian film ini tidak terjebak semata mempromosikan Korea, namun menekankan akan keindahan Indonesia dan kebanggaan Rania sebagai orang Indonesia. “Indonesia jauh lebih indah daripada Korea!” kata Rania pada Hyun Geun.

Hal lain yang cukup mengejutkan dari film ini adalah keputusan untuk memasukkan Palestina sebagai negeri impian Rania. Mengapa Palestina? Mengapa bukan yang lain? Dalam kisah ini Palestina dengan semua konflik kemanusiaan didalamnya bukan sekadar jadi negeri dimana empati Rania dan Hyun Geun terhadap sesama bertemu, namun juga simbol “pertemuan” cinta yang tulus.

Film JTLSIK memang tidak terlalu setia pada novelnya, misalnya dengan mengubah Nepal di buku menjadi Banyuwangi atau Palestina. Atau berbeda dari novel, dalam film kondisi fisik Hyun Geun dibuat berbeda sepulang dari Palestina. Meski demikian makna dan inspirasi yang didapatkan dalam film sama sekali tidak berkurang.

Keunggulan lain film ini juga pada soundtrack film. Lagu cantik Melly Goeslow: “Aku Bisa Apa” yang dinyanyikan BCL membawa perasaan penonton lebih jauh dan dalam alias bikin baper. Lagu tersebut menjadi penguat beberapa adegan JTLSIK.

Di luar itu semua bagi saya, film bagus bukan sekadar persoalan teknik dan estetika, melainkan juga nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Film bagus adalah film yang tanpa harus menggurui mampu menginspirasi dan menggugah para penontonnya. Bagi saya film JTLSIK bukan sekadar membuat penonton baper namun mampu menginspirasi kita terus semangat mengejar cita-cita lewat berbagai cara yang bisa ditempuh. Sakit dan kemiskinan tak bisa menghalangi kita meraih cita-cita. “Tidak harus menjadi sarjana untuk bisa sukses”, bahkan “Cita dan mimpi-mimpi tak harus pergi hanya karena orang yang kita cintai menghadap Illahi.” Film ini juga bisa memotivasi anak dan remaja untuk punya cita-cita melihat dan menjelajahi dunia luas, serta menambah kedekatan mereka pada Sang Pencipta. Kesadaran untuk menjadi “duta Indonesia” dan “duta Islam” menghias diri dengan ahlak yang baik dimanapun kita berada, juga menjadi pesan tersirat dari film yang menampilkan romansa cinta nan santun tanpa adegan sentuhan fisik sama sekali di antara tokoh Rania, Hyun Geun dan Ilhan ini.

“Kamu mencuri mimpiku (ke Palestina), tapi aku suka kamu yang mencuri mimpi aku,” kata Rania pada Hyun Geun saat kemudian mereka bertemu kembali.

Tidak mudah untuk membuat film cinta yang ramah keluarga. Satu sampai lima, saya beri empat setengah bintang, untuk film dengan menu komplit yang in sya Allah bisa menginspirasi para penonton semua usia. Selamat menonton!

2 Comments

Filed under Jurnal, Karya, Lainlain

2 responses to “Jilbab Traveler Love Sparks in Korea; Film Cinta yang Ramah Keluarga

  1. Sayangnya ada kesalahan, Bund. Baluran itu terletak di Situbondo bukan Banyuwangi. Ikut sedih sebagai warga Situbondo. 😭😢

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s