“Nak, Bisa Buatkan Syairnya?”

PapaSaya paling jarang bercerita tentang Papa. Tapi banyak orang mengatakan dari semua anaknya, sayalah yang paling mirip dengan papa. Apanya? Kata mereka dari segi wajah, gaya dan bakat. Ah apa iya?

Papa saya berasal dari keluarga terkemuka di Sumatera. Ayah papa: Teuku Muhammad Usman El Muhammady seorang ahli kimia, musikus sekaligus ulama dan ahli islamologi pertama di Indonesia, berdarah Aceh-Padang-India. Ibunya: Siti Arfah adalah keturunan Tapanuli dan Deli. Papa lahir di Medan 2 Oktober 1942 dengan nama Teuku Aminullah Syaifullah Usman. Tapi ia biasa dipanggil dengan nama Amin Usman.

Sejak kecil saya tidak begitu dekat dengan papa. Papa selalu sibuk dengan teman-teman senimannya. Dulu waktu saya SD, ibu guru pernah bertanya: “Apa pekerjaan ayahmu?” Saya selalu menjawab: seniman. Yang saya tahu Papa tak pernah berhenti menciptakan lagu, membuat aransemen musik dan sesekali bernyanyi di berbagai tempat. Tahun 1970-an ia bersama teman-temannya membuat band dengan nama Ivo’s Group. Nama itu dipakai karena band mereka selalu mengiringi Ivo Nilakresna—kakak papa yang waktu itu terkenal sebagai penyanyi.

Percakapan-percakapan saya dengan Papa sejak kecil, terbilang unik. Sejak saya belum sekolah, Papa lebih banyak menceritakan tentang musik, termasuk memperkenalkan saya dan adik-adik dengan banyak sekali musisi dunia. Bila kami sedang jalan-jalan, misalnya, Papa mengajak kami main tebak-tebakan. Ia memutar sebuah lagu di tape mobil, dan meminta kami menebak judul lagu dan penyanyinya. Kalau kami bisa Papa akan memberikan hadiah. Sebaliknya kalau kami tak bisa, ia akan menatap kami tak percaya dan kecewa.
Group band favorit Papa terutama adalah The Beatles. Sejak kelas I SD saya hafal puluhan lagu The Beatles! Papa bisa seharian duduk bercerita pada saya tentang makna lagu Golden Slumbers dan mengapa The Beatles mencipta serta menyanyikannya! “Cerita yang tak biasa!” seru Papa. “Bagaimana mereka bisa memikirkan itu!”

Kisah yang dahsyat, kata benak saya yang baru berumur 7 tahun, tentang lagu-lagu The Beatles. Suatu hari saya juga ingin menulis cerita yang unik! Biasanya sambil menulis diari, saya memutar lagu I Will, Till There Was You, Golden Slumbers, For No One, The Long and Winding Road, Something, Here There and Everywhere, I’ll Get You, I want to Hold Your Hand, Let it be….

Pada usia tujuh tahun itu pula saya sangat akrab dengan lagu-lagu Elvis, Cliff Richard, Frank Sinatra, Andi Williams atau Matt Monro. Saya bisa mencirikan lagu-lagu The Platters, The Beatles, Rolling Stones, dan semacamnya dengan band lainnya. Kalau ada acara keluarga besar, papa, juga kami pasti disuruh menyanyi dan hadirin tinggal menyebut lagu apa yang mereka inginkan.

Di luar itu, saat saya masih SD, hampir setiap hari papa mencipta lagu. Ia membuat lagu rock, pop, bahkan dangdut. Kebanyakan lagu ciptaannya sampai saat ini saya anggap bermutu. Lucunya, kalau Papa sedang merekam lagu karangannya, kami semua dilarang bersuara. Mama harus berhenti masak dulu, dan kalau bisa ayam tetangga pun dilarang ribut di area rumah kami. Geli sekali membayangkan saat itu. Ketika kami sudah lebih dewasa, kami sering protes soal itu dan Papa hanya menatap kami dengan memasang wajah tak bersalah.

Waktu saya kelas III SD dan adik saya Rani kelas I SD kami sudah mencoba menciptakan lagu sendiri lho, dan Papa tertawa mendengarnya. ‘Boleh juga!” katanya. Dan yang tak mungkin saya lupakan—barangkali hal ini juga yang mengasah bakat saya menulis–entah bagaimana, Papa selalu meminta pendapat saya mengenai syair lagu yang dibuatnya sejak saya masih kecil! Kadang ia bahkan berkata, “Nak, bisa bantu Papa buatkan syair lagunya?”

Jadi begitulah. Saat duduk di kelas V SD saya sudah pernah membuat syair utuh dari lagu yang ia ciptakan! Sampai sekarang, kalau mengarang lagu, ia masih minta pendapat saya soal syair. “Habis kalau Evi yang buat syairnya jadi lebih bagus dan keren,” puji Papa yang sudah mengarang ratusan lagu.
Lucunya, saat kami remaja, Papa sering merekam suara kami menyanyikan lagu-lagu karyanya untuk didengarkan pada produser. Bukan agar kami menjadi penyanyi, namun sekadar penyambung dalam menawarkan lagu karangannya.

Kini Papa sudah semakin tua. Beberapa lagunya seperti “Kau Bukan Dirimu”, “Kini Baru Kau Rasa”, “Kau dan Aku Sama” menjadi lagu andalan tiga album Dewi Yull. Lagu “Kekasih” juga menjadi salah satu hits Rafika Duri. Penyanyi lain yang pernah membawakan karya Papa sebagai lagu unggulan antara lain: Christin Panjaitan, Andi Meriam Matalatta, Ermy Kulit, Desy Ratnasari, Broery Pesolima, Sam Dloyd, Meggy Z, Rita Sugiarto, Henny Purwonegoro, dan masih banyak lagi.

Sekarang Papa sudah jarang sekali mencipta lagu dan bermain musik. Aeron adik kami yang banyak mewarisi bakat musiknya Sementara Papa lebih sering di rumah, jual beli mobil bekas, sambil menunggu buku-buku baru karya saya dan Asma Nadia (Rani, adik saya). Kepada Faiz anak saya, beliau masih sering bergumam: “Bunda-mu dulu mulai menulis dengan membantu Opa membuatkan syair lagu.”

Ah, Papa. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, ia telah menjadi sebuah lagu sejarah yang unik dalam hidup saya.

Leave a comment

Filed under Jurnal, Karya, Sketsa, Video

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s