Contoh Deskripsi Diri (Saya) untuk Sertifikasi Dosen

sertifikasi copy
Bingung menulis Deskripsi Dosen yang disyaratkan untuk mendapatkan Sertifikasi Dosen? Di bawah ini adalah contoh deskripsi diri dosen yang saya buat. Memang gaya menulisnya agak berbeda dengan dosen-dosen lainnya, meski maksudnya sama. Yang jelas, tulisan ini membuat saya lulus dalam uji sertifikasi dosen, tahun 2012 lalu :).

Silakan dibaca, semoga bermanfaat.


The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires (William Arthur Ward).

Saya selalu berkata pada banyak orang bahwa pekerjaan saya adalah sebagai penulis, sedangkan hobi saya menjadi dosen. Kebanyakan yang mendengar, entah mengapa tertawa, kadang hingga terbahak.Ya, bukan rahasia bahwa selama ini saya lebih banyak mendapat uang dari kegiatan saya sebagai penulis tinimbang menjadi dosen. Meski demikian bagi saya pekerjaan itu indah ketika menjadi hobi dan hobi itu mengasyikkan ketika menjadi pekerjaan.

Saya adalah dosen bidang kesusastraaan dan hampir 10 tahun mengabdi di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta. Saya mengampu beragam mata kuliah seperti Sastra Populer, Kajian Cerita Anak, Apresiasi Sastra, Kajian Prosa, Kajian Puisi, Sejarah Sastra, Teori Sastra, Kritik Sastra, Metodologi Penelitian Sastra, Kajian Drama dan Apresiasi Drama. Namun sejak lima tahun terakhir saya lebih banyak ditugaskan fokus pada mata kuliah Sastra Populer, Kritik Sastra, Apresiasi Sastra, Kajian Drama, Apresiasi Drama dan Penulisan Kreatif.

Di bangku sekolah hingga di perguruan tinggi, pemelajaran sastra kerap berlangsung dengan metode ceramah dan diskusi yang terasa monoton. Peserta didik cenderung tidak menunjukkan antusiasme atau keaktifan di kelas. Kebanyakan di antara mereka bahkan berpikir bahwa Sastra atau Drama misalnya, merupakan mata kuliah yang tidak penting, dan mungkin tidak akan terpakai dalam pekerjaan serta kehidupan mereka kelak.

Di jurusan kami, sebelumnya saya juga melihat rendahnya minat yang berpengaruh pada rendahnya nilai mahasiswa dalam mata kuliah tersebut. Maka saat saya dipercaya mengampu mata kuliah bidang sastra, saya bertekad melakukan beberapa perubahan dalam metode pembelajaran.

Pada pertemuan awal kuliah saya selalu memotivasi para mahasiswa bahwa mata kuliah yang saya ampu itu penting untuk mereka. “Sastra adalah kehidupan. Belajar sastra adalah belajar kehidupan. Kita akan buktikan dalam kuliah ini,” kata saya pada mereka. Begitu pula dengan mata kuliah Apresiasi Drama yang kerap dipandang sebelah mata oleh mahasiswa.

“Apresiasi Drama akan membuat Anda mengerti arti penting sebuah proses, bukan hanya proses pertunjukan di panggung, namun proses dari kehidupan yang Anda jalani. Kuliah ini bukan hanya akan memberi Anda pengetahuan tentang keaktoran, penyutradaraan atau manajemen pertunjukan, namun juga akan mengasah karakter Anda dalam kehidupan bermasyarakat. Ini adalah mata kuliah tentang bagaimana kita di panggung kehidupan,” kata saya.

Saya kemudian merevisi Silabus dan Satuan Acara Perkuliahan (SAP), menyiapkan diktat untuk tiap mata kuliah, selalu siap dengan power point serta CD dan video yang sering tak diduga oleh mahasiswa. Ya, pada tiap materi pembelajaran, saya selalu menggunakan bahan audio visual, LCD dan proyektor.

Dalam semua mata kuliah yang saya ampu saya terapkan berbagai metode pembelajaran. Tidak berhenti di situ, saya juga membuat metode-metode sendiri untuk menambah pemahaman dan antusiasme mahasiswa terhadap mata kuliah yang saya berikan.
Metode Password dan Soulmate

Salah satu metode yang saya buat untuk diterapkan di kelas adalah metode kata kunci (password) dan belahan jiwa (soulmate). Misalnya pada kuliah Apresiasi Sastra yang diikuti mahasiswa tingkat I. Saya minta mereka untuk memiliki password setiap kali masuk ke kelas saya. Password itu berupa kutipan yang terdiri dari 1-3 kalimat, yang terdapat dalam sebuah karya sastra. Mahasiswa harus menghapal password yang mereka pilih hari itu lengkap dengan nama pengarang, judul karya/buku, penerbit, kota, tahun terbit hingga nomor halaman dari kalimat-kalimat yang mereka kutip. Selanjutnya di kelas saya minta mereka menyampaikannya dengan berbagai ekspresi, gerak, dan gaya, yang tak jarang mengundang reaksi riuh rendah dari sesama mahasiswa, hingga kelas bertambah semarak.

Selama satu semester kuliah, setiap mahasiswa akan mengumpulkan minimal 16 password dari 16 buku yang berbeda dari 16 sastrawan yang berbeda pula. Dengan demikian mereka terdorong untuk membaca karya sastra sebanyak mungkin dan mengetahui lebih banyak karya sastrawan. Setiap pertemuan akan kami pilih password terbaik hari itu. Saya akan mengumumkannya di muka kelas, membahas maknanya bersama mahasiswa dan memberi nilai plus bagi sang pembawa password tersebut.

Metode soulmate juga saya terapkan pada semua mata kuliah yang saya ampu. Misalnya pada mata kuliah Apresiasi Sastra. Setiap mahasiswa selama satu semester wajib memiliki seorang soulmate. Tentu saja mereka riang mendengar kata soulmate. Padahal yang saya maksud dengan soulmate adalah seorang sastrawan yang harus terus-menerus mereka ikuti secara khusus pemikiran, karya, kegiatan, dan lain sebagainya dari sastrawan tersebut. Dengan demikian setiap mahasiswa di dalam kelas akan mempunyai soulmate yang mereka pilih sendiri dan akrabi selama satu semester. Misalnya, bila salah seorang mahasiswa menjadikan Seno Gumira Ajidarma sebagai soulmate. Selama satu semester di kelas Apresiasi Sastra, semua kuliah dan pembicaraan yang menyinggung Seno Gumira Ajidarma, akan menjadi keahliannya. Mahasiswa tersebut akan menjadi orang yang paling tahu, seolah menjadi asisten yang membantu saat saya menyampaikan mengenai karya dan keberadaan Seno Gumira Ajidarma dalam dunia sastra Indonesia.

Saya juga mendorong tiap mahasiswa agar tak hanya mengikuti karya-karya dan kehidupan sang sastrawan dari sosial media, koran, majalah atau sekadar data pustaka, tetapi sebisa mungkin berusaha mengenal sastrawan tersebut. Karena itu mereka saya minta untuk mencari soulmate dari kalangan sastrawan yang masih hidup. Mereka juga saya minta untuk memasukkan foto sastrawan ‘belahan jiwa’ mereka itu dalam dompet yang mereka bawa kemana-mana, sehingga setiap kali mereka membuka dompet, mereka ingat ada sastrawan yang mereka cintai dan terus menerus mereka ikuti kiprahnya, di samping foto keluarga atau orang yang mereka sayangi.

Selain itu sebagai dosen saya mengikuti perkembangan Iptek guna pemutakhiran pembelajaran. Dalam proses pembelajaran saya memanfaatkan kemajuan teknologi dan pengetahuan secara maksimal di dalam maupun di luar kelas. Salah satu contohnya dengan memanfaatkan twitter sebagai media pembelajaran.

Saya memiliki akun twitter @helvy. Setiap mahasiswa saya wajibkan pula memiliki akun twitter hingga kami bisa saling interaksi secara cepat dengan saling mention dan follow. Dengan demikian saya bisa memantau dan mengenal lebih dalam para mahasiswa lewat interaksi mereka di twitter. Hal tersebut juga mempermudah saya dalam memahami mahasiswa-mahasiswa tipe introvert. Pada umumnya saya temukan mereka yang cenderung tertutup atau pendiam di kelas justru lebih ramai berceloteh di ranah maya, termasuk di twitter. Ekspresi dan sikap terbuka mereka baru bisa terlihat melalui facebook atau twitter.

Saya juga meminta para mahasiswa membuka akun pribadi di http://www.goodreads.com. Situs yang saya sebut ini adalah perpustakaan virtual yang memiliki koleksi jutaan buku dari seluruh dunia lengkap dengan sinopsis dan data detail buku. Sebagai pengguna, kita bahkan bisa menjadi pustakawan di situs tersebut, termasuk mengunggah buku-buku terbaru yang belum terdaftar. Sebagai pengguna, setiap orang bisa memberi rating 1-5 bintang bagi buku-buku yang telah mereka baca, memberi resensi, dan memasukkan buku-buku yang telah atau akan mereka baca dalam perpustakaan virtual pribadi mereka. Sebagaimana facebook, setiap orang bisa menambahkan teman ribuan orang, termasuk mereka yang memiliki minat sama pada genre buku tertentu. Hanya bedanya, di goodreads.com setiap orang terhubung disebabkan oleh buku. Menariknya lagi, di http://www.goodreads.com tiap pengguna bisa langsung berinteraksi dengan para sastrawan/penulis idola mereka yang juga membuka akun di goodreads. Demikian dengan adanya goodreads.com saya bisa mengetahui buku-buku apa yang telah dan akan dibaca para mahasiswa, berikut komentar mereka, sehingga bisa menjadi bahan pula dalam diskusi kelas dan menambah pemahaman saya terhadap minat mereka akan buku.

Hal lain yang saya lakukan adalah mengadakan semacam Jumpa Tokoh Sastra. Dalam satu semester, pada mata kuliah yang saya ampu, sekurang-kurangnya akan saya hadirkan dua sastrawan kenalan saya untuk berbagi inspirasi dengan para mahasiswa, dalam waktu yang berbeda. Salah satu dari mereka biasanya seumuran atau lebih tua dari saya, sedangkan yang lain usianya tak jauh dari rata-rata usia mahasiswa saya. Hal tersebut membuat mereka menjadi lebih akrab dengan tokoh sastra, dunia sastra, mengetahui proses kreatif dua sastrawan tersebut serta situasi kepengarangan di Indonesia.

Setiap bulan saya akan memilih mahasiswa favorit saya di tiap kelas, berdasarkan evaluasi dari progress yang mereka tunjukkan. Mahasiswa favorit akan mendapat hadiah buku sastra karya sastrawan terkemuka Indonesia lengkap dengan tandatangan sang sastrawan yang sudah saya minta sebelumnya.
Mengembangkan Mata Kuliah Drama Lewat Festival

Untuk peningkatan kualitas mata kuliah Apresiasi Drama, sejak 2008, saya mengusulkan pada jurusan agar bisa didampingi oleh seorang praktisi teater. Dengan memiliki rekan, saya bisa mengajar seluruh kelas Apresiasi Drama pada semester tersebut (biasanya 5-7 kelas), sekaligus bisa mengadakan ujian akhir semester bersama dalam bentuk Festival yang kemudian diberinama Festival Teater Sastra Indonesia. Usulan itu diterima. Tahun 2008-2010 saya dibantu oleh Drs. Edi Sutarto, MPd., dari Teater Koma. Tahun 2011 hingga kini saya dibantu Sdr. Madin Tyasawan, SPd., yang juga merupakan Anggota Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta.

Ujian akhir dalam bentuk “Festival Teater Sastra Indonesia” (FIESTA) mengharuskan mahasiswa membuat pertunjukan teater atau drama secara kelompok di akhir perkuliahan. Diharapkan dengan penugasan ini mahasiswa mampu mementaskan sebuah naskah drama secara profesional. Melalui proses pembelajaran di dalam maupun di luar kelas, mahasiswa akan memahami, merasakan, dan melakukan manajemen seni pertunjukan dan manajemen teater/drama secara utuh, mulai dari sosialisasi dan adaptasi kelompok sampai dengan tata pentas yang meliputi penataan cahaya, penataan kostum, penataan rias, penataan musik, penataan seting/panggung, akting pemain, sampai pada kerja manajemen panggung dan penyutradaraan serta manajemen pertunjukan.

Oleh sebab itu secara teknis yang dilakukan oleh mahasiswa adalah: (a) Membentuk kelompok minimal terdiri dari 10 orang. (b) Melakukan pertemuan-pertemuan di luar jam tatap muka perkuliahan untuk latihan sesuai jadwal yang telah disepakati bersama. (c) Membuat naskah drama sendiri (individu maupun tim dari kelompoknya) atau memilih naskah yang sudah ditulis oleh sastrawan dengan kriteria: estimasi durasi minimal 60 menit maksimal 120 menit, naskah sarat dengan nilai-nilai hidup dan kemanusiaan. (d) Menganalisis naskah secara struktur teks dan struktur teknik pementasan/pemanggungan dibawah bimbingan dosen pengampu. (e) Memilih sutradara dan pemain serta tim kerja secara musyawarah dalam kelompoknya dan dikoordinasikan dengan dosen pengampu mata kuliah. (f) Memberi nama pada kelompoknya dengan musyawarah. (g) Melakukan sosialisasi seminggu sebelum pementasan dalam bentuk karnaval (keliling kampus) bersama kelompok yang lain. (h) Mementaskan drama secara profesional pada waktu yang telah ditentukan, serta (i) Pemberian anugerah (award) bagi kelompok terbaik beserta komponennya.

Untuk tercapainya hal-hal tersebut dibutuhkan proses latihan di luar jam tatap muka perkuliahan. Oleh karena itu tiap kelompok di dampingi oleh seorang “mentor”. Mentor adalah mahasiswa yang dipilih oleh dosen pengampu dengan kriteria mampu, memiliki dedikasi serta masuk sebagai nominator dalam Festival Teater Sastra Indonesia (FIESTA) yang diadakan kelas Apresiasi Drama tahun sebelumnya. Proses latihan tetap dalam kontrol dosen pengampu. Biaya proses kreatif ini mandiri, namun setiap kelompok diperkenankan melakukan pengadaan dana melalui rekrutmen sponsor, donatur, maupun tiket pertunjukan. Hal ini seluruhnya tetap dalam kontrol dan bimbingan dosen pengampu.

Seperti yang disebutkan di atas, penyelenggaraan festival, didahului oleh karnaval seluruh kelompok teater sebagai bentuk sosialisasi pementasan. Karnaval ini minimal dilakukan keliling UNJ, bahkan sambil berjualan tiket pertunjukan (di samping ada tiket box). Setelah berlangsungnya festival, diadakan Malam Penghargaan Fiesta Award yang dimirip-miripkan dengan Malam Penghargaan Piala Oscar. Dewan Juri yang terdiri dari dua dosen pengampu dan satu praktisi teater dari luar akan memilih 14 kategori pemenang, diantaranya aktris/aktor, sutradara, pemeran pembantu pria/wanita, penata cahaya, penata musik, penata artistik, penata rias, poster, teater terbaik, dan lain-lain. Hingga tahun 2012, sekitar 70 teater telah terbentuk dan sekitar 850 mahasiswa menjadi pegiat teater baru dalam Festival Teater Sastra Indonesia (FIESTA).

Sebagai dosen, saya juga mendokumentasikan banyak kegiatan di kelas bersama mahasiswa dalam berbagai mata kuliah, terutama Apresiasi Sastra dan Apresiasi Drama yang salah satu pembelajarannya adalah dengan menampilkan pertunjukan. Dokumentasi itu berupa foto, video, CD dan arsip-arsip tugas yang saya simpan dengan baik. Beberapa proses pembelajaran dan hasil pertunjukan mereka saya publikasikan di channel HelvyTV yang saya buat dengan memanfaatkan youtube dan bisa diakses oleh siapa saja, di mana saja. Proses kuliah Apresiasi Drama bisa dilihat dalam banyak link di http://www.youtube.com, diantaranya di http://www.youtube.com/watch?v=XuZDfraGKvY
Dampak Membahagiakan dan Sks Tak Terhingga

Adakah dampak perubahan dari semua hal yang saya lakukan itu?

Tentu! Dampak yang paling saya rasakan adalah semangat belajar para mahasiswa yang semakin tinggi dalam mengikuti perkuliahan. Melalui berbagai metode dan cara yang saya gunakan di atas, saya bukan saja mampu menarik perhatian, menambah pemahaman dan memotivasi mahasiswa, melainkan juga membuat mereka belajar dengan passion. Penggunaan ragam animasi dan teknik visualisasi membuat mereka tak jenuh dan lebih fokus pada apa yang saya sampaikan.

Di samping itu daftar mahasiswa yang absen menjadi minim. Bahkan yang membuat saya terharu bila jadwal kuliah pekan selanjutnya merupakan tanggal merah, mahasiswa seperti kecewa, Ini membuat saya juga berupaya untuk selalu menjadi lebih baik lagi menjadi dosen mereka dari waktu ke waktu. Sungguh merupakan kebahagiaan tersendiri ketika melihat para mahasiswa masih dengan wajah ingin tahu, enggan beranjak padahal kuliah hari itu sudah selesai sehingga saya harus berkata, “Ayo, kenapa kalian belum bubar? Kuliah hari ini sudah selesai!”

Sejak sistem password dan soulmate diterapkan, para mahasiswa bahkan seperti berlomba-lomba memperindah status update mereka di facebook atau twitter dengan ragam password yang saya tugaskan. Mereka saling mengomentari, menilai dan berbagi status-status dari password tersebut yang kian membuat mereka penasaran membaca secara keseluruhan buku-buku bermutu yang telah mereka cuplik.

Dampak lain adalah meningkatnya kepercayaan diri mahasiswa secara signifikan. Mereka menjadi lebih berani tampil. Mahasiswa yang tadinya tampak tertutup dan mengikuti kuliah sekadarnya, menjadi lebih percaya diri, kian ekspresif, terlibat penuh dalam tiap kuliah, bahkan mampu meningkatkan prestasi mereka.

Acara Jumpa Tokoh Sastra di kelas Apresiasi Sastra sangat menambah motivasi mahasiswa untuk menulis karya sastra. Di samping itu mereka menjadi lebih paham bahwa sastra bukan menara gading. Mahasiswa menyadari bahwa karya sastra tidak bisa dipisahkan dari masyarakatnya. Memahami, menyukai sastra, menulis karya sastra bisa kian mendekatkan kita pada kehidupan yang seharusnya kita isi dengan empati dan cinta serta upaya untuk memahami sesama.

Dalam mempelajari Apresiasi Drama mahasiswa sampai pada kesadaran bahwa sesungguhnya mereka sedang belajar kehidupan itu sendiri. “Kehidupan” yang mampu mengasah karakter mereka menjadi lebih baik. Secara guyon beberapa dari mereka pernah berkata bahwa meski cuma 2 atau 3 sks, sesungguhnya mata kuliah sastra dan drama adalah mata kuliah dengan sks tak terhingga yang akan terus menuntun mereka dan bisa mereka praktikan dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat dan bernegara.

Saya merasakan bahwa empati para mahasiswa terhadap orang lain dan sekitar tumbuh pesat pada mata dua mata kuliah tersebut. Pada mata kuliah Apresiasi Drama, hal itu tampak nyata pada proses mempersiapkan pertunjukan sebagai ujian akhir yang berlangsung selama hampir satu semester.

Malam Anugerah Piala Fiesta (Fiesta Award) yang dikemas ala Anugerah Piala Oscar menjadi hal yang tak bisa dilupakan mahasiswa. Hasil penjurian atas 14 kategori bisa sangat tak terduga karena persaingan ketat mahasiswa untuk tiap kategori nominasi yang diperebutkan. Sejak tahun 2008, Fiesta Award menjadi salah satu acara mahasiswa paling meriah, melibatkan 10-16 teater dan digelar selama sebulan di kampus.

Dampak lainnya dari kuliah ini, para mahasiswa terus berproses meski kuliah sudah selesai dan masing-masing telah mendapatkan nilai. Mereka yang dulu tak pernah berpikir untuk berkecimpung di dunia teater, kemudian memiliki kebutuhan untuk berteater dan meningkatkan aktivitas bersastra. Jadilah di jurusan kami banyak berdiri teater. Tak jarang pula yang kemudian bergabung dengan teater profesional seperti Teater Koma maupun teater lainnya. Ada pula yang langsung (diterima) membantu mengajar ekstra kurikuler teater di sekolah-sekolah.

Oleh karena itu, untuk menampung minat dan bakat mahasiswa lepas kuliah, saya sebagai dosen pengampu mata kuliah Apresiasi Sastra dan Apresiasi Drama mengusulkan dibentuknya Bengkel Sastra UNJ (Bengsas), tahun 2008 sebagai laboratorium sastra/teater di jurusan, yang disambut baik oleh jurusan. Tahun 2009 Bengsas menjadi bagian dari program IMHERE dan mendapatkan berbagai peralatan yang bisa mendukung mata kuliah terkait.

Video-video proses pembelajaran mahasiswa di bidang sastra/drama di youtube melalui channel HelvyTV yang saya buat sejak awal hingga akhir kuliah mendapat perhatian dan tanggapan positif dari mahasiswa dan berbagai kalangan masyarakat, terutama guru-guru bahasa dan sastra Indonesia. Hal tersebut tampak dari komentar-komentar mereka di youtube. Video-video tersebut kemudian diunduh dan digunakan oleh guru-guru dan dosen universitas lain sebagai media pemelajaran sastra/drama di tempat mereka.

Komentar paling sering juga muncul dari para mahasiswa yang senang dan merasa eksis ketika wajah mereka muncul dalam video di youtube tersebut. Bagi angkatan-angkatan sesudahnya yang akan mengikuti kuliah saya, mereka bisa mendapat informasi tentang bagaimana keberlangsungan hingga tahap akhir kuliah melalui youtube sehingga mereka memiliki ketertarikan dan bisa mempersiapkan diri sebelumnya.
Bengkel Sastra UNJ

Tahun 2008 saya mengusulkan pada Ketua Jurusan agar di tingkat jurusan dibuat semacam sanggar sastra/teater atau bisa dibilang sebagai laboratorium sastra/teater di jurusan yang bisa mendukung pelaksanaan beberapa mata kuliah terutama Apresiasi Sastra dan Apresiasi Drama. Tahun 2008 bersama rekan pengampu mata kuliah Apresiasi Drama yaitu Drs. Edi Sutarto, MPd., kami membuat konsep Bengkel Sastra UNJ (Bengsas). Ada dua bagian besar dalam tubuh bengkel, yaitu: Penulisan Kreatif dan Teater.

Tanggal 3 Juli 2008 bertempat di Perpustakaan UNJ bersama 30 mahasiswa dibentuk Bengsas. Bengsas kemudian diresmikan oleh Pembantu Dekan I FBS dan Ketua Jurusan, 4 September 2008. Saya ditunjuk sebagai Pembimbing Bengsas. Atas kesepakatan dengan para pimpinan jurusan, Bengsas kemudian diintegrasikan dengan program IMHERE, Februari 2009. Dalam rangka pengembangan Bengsas, saya sempat dikirim lewat program IMHERE untuk magang teater selama tiga bulan pada tahun 2009, di komunitas Celah-Celah Langit (CCL), Bandung, yang dipimpin Iman Soleh, salah satu dari praktisi teater terbaik Indonesia yang juga dosen di STSI Bandung.

Hingga tahun 2013 ini saya masih dipercaya sebagai pembimbing Bengsas. Berbagai kegiatan yang telah dilakukan Bengsas Sejak 2008 hingga sekarang antara lain: (1) Pelatihan Elementer/ Pelatihan Alam, (2) Forum Sastra Jumat, (3) Pementasan Keliling, (4) Solidaritas Sastra untuk Palestina, (5) Festival Monolog Jakarta, (6) Parade Monolog, (7) Festival Musikalisasi Puisi/ Falsindo, (8) Seminar/ Lokakarya Nasional, (9) Seminar Internasional Kesusastraan, (10) Peluncuran dan Diskusi Buku, (11) Selebrasi Cinta, (12) Workshop Penyutradaraan dan Keaktoran, (13) Workshop Make Up Karakter, (14) Mentoring untuk Kuliah Apresiasi Drama, (15) Program Bank Naskah, (16) Parade Baca Puisi, (17) Penerbitan Buletin, (18) Penerbitan Buku.

Debut nasional Bengkel Sastra UNJ saat kami berhasil mementaskan naskah saya “Tanah Perempuan” di Gedung Kesenian Jakarta, 2009. Pagelaran teater ini didukung lebih dari 100 kru digelar dalam rangka Hari Pahlawan. Menariknya, Wakil Walikota Banda Aceh: Ibu Illiza Sa’aduddin Djamal bersedia untuk latihan dan bermain dalam pementasan tersebut. Begitu juga sastrawan terkemuka Aceh: D. Kemalawati serta aktris Oki Setiana Dewi dan Habiburrahman elshirazi. Alhamdulillah ketiadaan dana tak mengecilkan sedikit pun tekad keluarga besar jurusan kami untuk bersama-sama memajukan Bengsas. Tempaan ini juga membuat Bengsas lebih semangat dan kreatif mencari dana agar bisa menggelar pementasan, antara lain dengan membuat proposal (mencari sponsor), menulis, berjualan buku, mengadakan berbagai workshop, menggelar pertunjukan sederhana dan lain sebagainya.

Pementasan “Tanah Perempuan” berhasil digelar kembali di Auditorium RRI Banda Aceh, Desember 2009. Meski hanya saya bersama 31 kru yang berangkat, kami kembali mendapatkan dukungan transportasi dan akomodasi dari Pemerintah Daerah Banda Aceh yang menganggap bahwa pagelaran tersebut akan sangat bermakna bagi masyarakat Aceh khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Saya sendiri terkejut bahwa saya bisa selalu mempunyai waktu bersama anak-anak Bengsas. Saya jadi ingat ketika pertama kali bergabung sebagai CPNS di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, seorang rekan dosen di Fakultas pernah berkata bahwa ia heran pada saya.

“Bu Helvy ini orang yang sudah sangat sibuk dan sudah punya nama top di luar. Kenapa mau bergabung di UNJ? Seberapa besar Ibu bisa mengerjakan semua tugas dan kewajiban serta bertanggung jawab terhadap itu semua nantinya, mengingat kegiatan Ibu pasti sudah banyak?”

Waktu itu saya tersenyum dan menjawab bahwa saya sangat menyadari hal tersebut, dan bahwa semangat mengabdi yang tulus akan membawa saya pada tanggung jawab.

Semua tugas merupakan amanah bagi saya, karena itu saya tak pernah melemparkan tugas yang telah diamanahkan pada saya kepada orang lain, dan karena itu pula, tak pernah ada satu tugas pun yang saya anggap kecil.

Saya ingat ketika tiba saatnya harus mengawal kegiatan tahunan Bengsas yaitu latihan alam di luar kampus. Biasanya kegiatan ini dilakukan Jumat-Minggu di Puncak. Padahal Kamis itu sepulang mengajar saya masih harus menghadiri undangan dari Kedutaan Amerika Serikat karena seorang pengarang terkemukanya berkunjung ke Indonesia dan ingin bertemu beberapa pengarang Indonesia, termasuk saya. Pulang dari sana sudah sangat larut dan saya demam. Meski para mahasiswa mengatakan tidak apa kalau saya datang malam terakhir saja, dan jurusan mengatakan bisa mengusahakan dosen pengganti untuk mengikuti kegiatan Bengsas, saya tetap memaksakan untuk hadir. Saya berusaha makan, minum dan memanfaatkan waktu istirahat yang minim dengan benar. Alhamdulillah akhirnya saya bisa menunaikan tanggung jawab saya berangkat latihan alam dan pulang bersama anak-anak Bengsas dalam tronton yang mereka sewa. Kegiatan lancar, sukses, penuh kesan, tanpa ada keluhan dari saya, peserta maupun panitia.

Saya sangat peduli terhadap perkembangan mahasiswa saya. Saya akan bantu apa yang saya bisa saat mereka meminta maupun saat mereka tak memintanya.

Sejak berdirinya Bengkel Sastra UNJ (Bengsas) tahun 2008, saya langsung membimbing dan melatih mahasiswa dalam berbagai kegiatan sastra/teater. Jumat tiap pekan kami mengadakan Forum Sastra Jumat. Dalam kegiatan tersebut karya-karya mahasiswa diapresiasi, dibahas atau ”dibantai” bersama. Di lain waktu, buku karya para sastrawan terkemuka Indonesia atau dunia yang dibedah secara akademis dengan menggunakan berbagai metode dan teori sastra kontemporer.

Setiap tahun kami mengadakan acara Selebrasi Cinta selama sepekan atau tiga hari. Biasanya acara ini diadakan bertepatan dengan bulan wafatnya Chairil Anwar, April, sebagai penanda bahwa meski Bapak Puisi itu pergi, ia terus melahirkan generasi penerusnya. Pada acara tersebut mahasiswa maupun dosen bisa ikut menyumbang puisi untuk ditempelkan di sekitar Puri Lingua atau lorong jurusan. Puisi-puisi tersebut akan dibaca dan dipilih warga UNJ. Puisi yang paling banyak mendapatkan tanda hati akan diberi hadiah sebagai puisi favorit. Pada acara tersebut juga diadakan Bincang Sastra, pembacaan puisi spontan, musikalisasi puisi serta repertoar. Yang unik pula adalah pembuatan ”Puisi Berantai” oleh siapapun sivitas akademika yang berminat. Di puncak acara puisi-puisi itu akan dibacakan dengan berbagai gaya teaterikal. Biasanya saya selalu diminta ikut memberi pengantar, membaca puisi dan menempelkan tanda-tanda hati pada puisi-puisi yang menurut saya bagus.

Program rutin lain, setiap tahun saya juga selalu menemani para mahasiswa yang tergabung dalam Bengsas, untuk Latihan Alam (latihan elementer) selama beberapa hari di puncak. Di sinilah momen dimana kami menjadi semakin dekat. Tak ada perploncoan, yang ada hanya kegiatan mengasah intelektualitas, kreativitas dan mengekalkan persaudaraan.

Sejak 2009 saya juga membimbing Bengsas menerbitkan Buletin Kaktus sebagai wadah apresiasi dan kreasi mahasiswa. Hingga sekarang buletin ini masih terus terbit.

Khusus untuk pementasan teater, produksi Bengsas antara lain: Dokter Gadungan (Moliere, sutradara Ferdi Firdaus), 2008, Menunggu (naskah/sutradara Ferdi Firdaus), 2009, di Aula S Universitas Negeri Jakarta. Tahun 2009 mementaskan Tanah Perempuan karya Helvy Tiana Rosa dengan sutradara Ferdi Firdaus (UNJ, CCL-Bandung, Gedung Kesenian Jakarta dan Auditorium RRI Banda Aceh), Receh dan Ricuh (sutradara Sumihar Deny), Kenapa Cinderella? (naskah Ferdi Firdaus, Sutradara Aris Abdullah), Pinangan (Sutradara Dwi Suprabowo). Tahun 2010 mementaskan Catatan Pemimpin (naskah dan Sutradara Dwi Suprabowo) di UNJ, CCL dan ISI Yogyakarta, Sidang Susila (sutradara Ferdi Firdaus). Tahun 2011 mementaskan lakon Surat dari Surga di Graha Bhakti Budaya TIM (sutradara Maulana Husada), Pementasan Hantu Pohon Putih (naskah dan sutradara Ferdi Firdaus) serta: Gelaran Tangga: Patjar Merah Indonesia (sutradara: Ahmad Mulyadi), di Universitas Negeri Jakarta, 2011, Tokoh-Tokoh (Naskah dan Sutradara: Sumihar Deny Tampubolon), 2012, dan kini tengah mempersiapkan pentas Allogo karya Sumihar Deny.

Bengkel Sastra juga kerap mengadakan beberapa penampilan teaterikal di berbagai tempat antara lain Warung Apresiasi Bulungan, Taman Ismail Marzuki, Taman Mini Indonesia Indah, CCL, dll (2008-2012). Kegiatan rutin yang melibatkan Bengkel Sastra sebagai penyelenggara adalah Festival Teater Sastra Indonesia yang diselenggarakan bekerjasama dengan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni UNJ tiap tahun sejak 2008.

Bila mahasiswa akan mengikuti lomba penelitian, penulisan maupun pertunjukan, saya akan meluangkan waktu di luar jam kuliah untuk melatih mereka. Karena kebanyakan mahasiswa kos di sekitar UNJ, kami sering diskusi atau latihan sampai malam di kampus, padahal rumah saya di Depok. Itulah sebabnya para mahasiswa yang tergabung di Bengsas kadang menyebut saya ”Dosen 24 Jam”, yaitu dosen yang siap ”diganggu” mahasiswa kapan saja.

Setiap pribadi itu unik. Saya selalu berpendapat bahwa mereka yang berinteraksi dengan saya adalah orang-orang penting. Demikian juga para mahasiswa. Mereka bukan sekadar mahasiswa melainkan anak, sahabat bahkan “guru” bagi saya.

Tahun 2010 saya membimbing beberapa mahasiswa untuk mengikuti Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Daerah (Peksimida) dalam berbagai tangkai lomba antara lain: Dwi Suprabowo, Karina Tanjung dan Dwi Febri untuk tangkai Lomba Penulisan Lakon. Mereka berhasil menjadi Pemenang I, II dan III lewat lakon Catatan Pemimpin, Kuda Sewaan, dan Opera Kelamin. Saya juga membimbing Siska Nur Anggraini dan Ana Fauziyah mengikuti tangkai Lomba Penulisan Cerpen Peksimida dan mereka berhasil menjadi Pemenang I (”Membunuh Ayah) dan II (”Taksi”). Saya membimbing Hikmawan Nurdiansyah dalam tangkai Lomba Penulisan Puisi dan berhasil meraih Pemenang II. Selain bidang penulisan kreatif, saya melatih secara khusus Rahmi Yulia Ningsih dan Shandy mengikuti tangkai Lomba Baca Puisi Putri dan Putra. Keduanya berhasil menjadi Pemenang I dan II. Dalam tangkai Lomba Monolog, saya melatih Muhammad Bagya yang kemudian menjadi Pemenang I.

Dengan demikian, sembilan perwakilan mahasiswa dari jurusan kami menyumbangkan 9 gelar dalam Peksimida. Jumlah ini kemudian ditambah dari kemenangan para mahasiswa dari jurusan lain di UNJ, khususnya Fakultas Bahasa dan Seni dan membawa UNJ untuk pertamakalinya menjadi Juara Umum Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Daerah DKI Jakarta mengalahkan IPB, UI, IKJ, Trisakti, Tarumanegara dan lain-lain.

Dalam Pekan Seni Mahasiswa tingkat Nasional 2010, naskah Opera Kelamin karya Dwi Febri menjadi Pemenang Harapan. Cerpen Siska berjudul ”Membunuh Ayah” menjadi Pemenang III pada tangkai Lomba Penulisan Cerpen Peksiminas.

Tidak ingin hasil lomba Peksimida/Peksiminas 2010 tercecer begitu saja saya berupaya menerbitkan buku yang memuat karya para mahasiswa pemenang lomba tersebut. Jurusan mendukung, namun lagi-lagi terbentur dana. Akhirnya dengan berbagai cara, di bawah Penerbit Sastralica Publishing yang merupakan usaha bersama beberapa mahasiswa tingkat akhir di Bengsas, terbitlah Mataharu: Kitab Sastra Mahasiswa, 2011. Saya memberi judul seperti itu karena Mataharu terdiri atas beragam tulisan bermutu karya para mahasiswa mulai dari puisi, cerpen, lakon dan esai. Saya menjadi editor dari buku tersebut. Kami juga menjual buku tersebut untuk mencari dana bagi pementasan Bengsas.

Dua tahun kemudian, saya melatih Ahmad Mulyadi dan Ayu Puspa Nanda dan masing-masing berhasil menjadi Pemenang I Tangkai Lomba Baca Puisi Putra/Putri Peksimida 2012. Pasangan ini kemudian menang masing-masing di posisi kedua pada Peksiminas 2012. Sebelumnya mahasiswa perwakilan jurusan juga Yulia Rahma menjadi Pemenang I Tangkai Lomba Monolog Peksimida 2012, Sumihar Deny menjadi Pemenang II Tangkai Lomba Penulisan Lakon dan Hawatip menjadi Pemenang III Tangkai Lomba Penulisan Cerpen.

Pada tahun 2012 saya juga membimbing Wahyudi Christyo, salah satu mahasiswa untuk mengikuti Lomba Pidato Antar Bangsa memperebutkan Piala Perdana Mentri, di Malaysia. Saya membimbing Yudi menyiapkan naskah pidato yang harus ia buat dan melatihnya menyampaikan pidato dengan baik. Sebenarnya tak ada permintaan resmi dari jurusan maupun universitas kepada saya untuk melatih mahasiswa tersebut, namun biasanya mahasiswa yang akan lomba sering mendatangi saya untuk minta masukan, bimbingan hingga pelatihan. Dan saya tentu saja akan membantu semaksimal mungkin sesuai kemampuan saya. Pada acara yang digelar Februari-Maret 2012 itu, Wahyudi berhasil menjadi Pemenang III.

Masih banyak lagi mahasiswa yang saya bimbing secara pribadi dan berhasil mendapatkan prestasi di tingkat provinsi maupun nasional. Ketika para mahasiswa berhasil saya bangga bahwa saya bisa mengikuti proses mereka. Tentu saja saya merasa mereka tak perlu berterimakasih karena tak ada jasa saya sama sekali di sana. Mereka memperoleh itu semua karena usaha dan kegigihan mereka sendiri, sedangkan saya hanya melakukan apa yang saya bisa sebagai dosen, sebagai sahabat.
Sastra itu Cinta

Berinteraksi dengan mahasiswa di luar jam kuliah adalah salah satu hal yang saya sukai. Dengan sering bersama mereka saya merasa bisa lebih mengenal karakter mereka, lebih bisa berempati dan bersahabat dengan para mahasiswa. Salah satu hal paling inspirasional buat saya selama menjadi dosen adalah kisah yang akan saya sampaikan di bawah ini….

Suatu hari saat ruang dosen sepi, saya tengah menyiapkan bahan ajar. Datanglah seorang mahasiswi yang belum pernah saya lihat dan belum pernah saya ajar sebelumnya, sebut saja namanya X. Ia menghampiri saya dan dengan suara sangat lirih berkata, “Ibu helvy, saya mau bunuh diri.”

Tentu saja saya terperanjat, apalagi saya bukan Pembimbing Akademik-nya, tak pernah mengajar, bahkan belum pernah melihat sosok tersebut sebelumnya.

“Kata teman-teman saya bisa percaya Ibu.” Tiba-tiba ia menarik lengan baju yang ia pakai ke atas. Saya melihat luka-luka bekas sayatan pisau. Ia tunjukkan pula luka-luka di kepalanya yang dibalut jilbab pendek. “Kalau saya tidak bunuh diri, perempuan itu akan membunuh saya!”

Tak lama ia mengatakan hal yang lebih tak masuk akal: “Apa ibu sudah tahu sebuah rahasia besar di UNJ?”

Saya menggeleng.

“Semua orang di sini adalah mahluk planet Mars!”

Kening saya mengernyit.

“Ya, kecuali saya…dan…ya, Ibu! Kita harus segera bergerak, Bu. Sebelum mereka menangkap atau membunuh kita!”

Saya tersentak. Apa yang terjadi pada mahasiswi ini?

Saya bertanya tentang ayah ibunya yang ia bilang sibuk. Saya tanya tentang kuliahnya yang ia bilang hancur karena ia tak bisa konsentrasi dan merasa “terancam” dalam kelas, bahkan bila dosennya sangat baik. Saya minta ia untuk bicara dengan orangtuanya, sekadar menyatakan ia sayang pada mereka. X berjanji melakukan itu.

Hari berikutnya ia kembali menemui saya. Dengan wajah lebih pias, ia terbata-bata bercerita tentang IPK-nya yang kritis (ia terancam drop out), tentang ketakutan-ketakutannya di dalam kelas, perempuan berambut panjang yang mengancam membunuhnya, seorang lelaki yang tak henti mengasah belati setiap pagi dan malam di dalam kamarnya, dinding-dinding yang muncul tiba-tiba dan memisahkannya dari semua orang dan konspirasi global para mahluk Mars. “Saya dulu pernah diculik beberapa bulan waktu masih kecil. Saya sering dapat perlakukan buruk dari orang-orang yang dekat dengan saya. Tiba-tiba semua suara membuat saya sampai di hadapan ibu.”

Sesungguhnya saya sangat sibuk, tapi saya tak bisa tak mendengarkannya. Saya tak bisa tak peduli dengannya. Saya prihatin. Saya curiga X punya masalah yang serius, barangkali ia mengidap sesuatu seperti autis atau mungkin lebih dari itu.

Maka yang saya lakukan kemudian adalah membawa X ke Bimbingan Konseling di Universitas. Hasilnya: X mengidap autis. Secara rutin saya terus menemaninya konsultasi dan melihat perkembangannya. Saya bahkan menemaninya masuk kelas karena ia selalu menggigil sebelum masuk kelas. Beberapa mahasiswa yang bisa dipercaya saya minta mendekati dan menjadi teman dekatnya karena ia betul-betul sendiri.

“Kamu suka baca? Kamu suka menulis?” Tanya saya padanya suatu hari. Saya berpikir bila ia suka membaca, itu akan menyibukkan pikirannnya dari berbagai hal aneh yang kerap menyelusup dalam pikirannya. Kalau suka menulis, ia bisa melepaskan kepedihan serta keresahannya lewat tulisan.

“Saya tidak suka baca. Saya tidak suka menulis. Itu semua cuma bikin sakit kepala. Tapi saya sayang ibu.”

“Sudah pernah baca buku saya?”

Ia menggeleng. “Tapi kalau buku ibu saya mau baca,” ujarnya segera.

Maka keesokan harinya saya bawakan ia dua buku saya: Wanita yang mengalahkan Setan serta Lelaki Kabut dan Boneka.

Tiga hari kemudian ia mengembalikan kedua buku itu seraya berkata: bahwa ia tiba-tiba keranjingan membaca dan ingin saya meminjamkannya banyak buku lain.

“Mungkin suatu saat kamu akan suka menulis!” kata saya gembira sambil merangkulnya.

Hari-hari setelah itu kami semakin dekat. Kami kerap bertemu makan dan minum bersama di kantin. Ia ingin tahu bagaimana saya bisa menuliskan itu semua. “Apakah mereka semua nyata?” tanyanya beberapa kali.

Namun suatu hari pernah pula ia bertemu saya di koridor jurusan dan melengos begitu saja seolah ia tak pernah mengenal saya. Saya terkejut dan menghampiri, menyapa X. Ia hanya memandang saya lalu berkata, “Perempuan itu bilang kamu tidak nyata, ibu Helvy. Kamu tidak nyata. Kamu cuma hidup dalam kepala saya.”

Saya terperanjat lagi dan menyadari barangkali X memiliki masalah yang lebih besar dari sekadar autis.

Suatu malam X mengirim sms pada saya: “Perempuan itu menyuruh saya membunuh Mama, Bu.”

Saya tercekat dan segera menelponnya berkali-kali, tapi tak ada tanggapan. Saya khawatir sesuatu terjadi. Saya terus menerus sms dan menguatkannya untuk melakukan hal-hal yang benar. “Kamu anak baik, X. Begitu pula Mama-mu. Perempuan berambut panjang itu yang tidak ada. Ia hanya tumbuh dan numpang hidup di kepalamu. Ia tidak nyata. Mama, saya itu nyata dan kami mencintaimu.”

Malam itu saya sama sekali tak bisa tidur, berharap dan berdoa tak terjadi apapun. Alhamdulillah demikian. Namun saya melihat luka-luka di lengan X bertambah banyak.

Saya membujuk X ke psikiater.

“Apa ibu sama dengan yang lain, menganggap saya gila?” tanyanya gusar.

Saya jelaskan padanya, bila seseorang berkunjung ke psikiater bukan berarti orang itu gila. “ Kamu tahu, Nak…setiap orang bahkan memiliki sisi “gila”nya sendiri. Barangkali malah saya dan psikiater yang akan kita kunjungi itu lebih ‘gila’ daripada yang pernah kamu kira!”

Ia tertawa dan akhirnya menurut pergi ke psikiater. Lalu apa analisa psikiater terhadap X?

Skizofrenia! Bukan hanya itu, X mengidap skizofrenia paranoid! Dokter menyatakan X mengalami kesukaran luar biasa untuk membedakan hal-hal yang nyata dan tak nyata. Dan tiba-tiba saya ingat akan John Nash yang diperankan dengan apik oleh Russel Crowe dalam film Beautiful Mind.

Maka dimulailah penelaahan saya terhadap skizofrenia, yang diperkenalkan Eugen Bleuler (1857-1939) dalam buku Psychiatrisch-Neurol Wochenschr. Schizein dalam bahasa Yunani berarti ‘belah, pisah’ (to split), phren berarti ‘pikiran’ (mind). Menurut Bleuler, skizofrenia mengakibatkan terpecahnya pikiran, emosi dan perilaku. Gejala utamanya adalah waham (keyakinan salah dan tak dapat dikoreksi) serta halusinasi (seperti mendengar dan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada). Skizofrenia mempengaruhi wicara serta perilaku pengidapnya. Salah satu jenisnya: Skizofrenia Paranoid, yaitu skizofrenia yang ditambah dengan ketakutan / kepanikan bahwa ia dikejar-kejar dan akan dijahati oleh sekitar. Halusinasi berupa suara satu atau beberapa orang yang menyuruh-nyuruh, berkomentar, atau bercakap-cakap sendiri selalu mengisi hari-harinya. Pengidapnya harus meminum obat-obatan yang tergolong mahal semacam olanzapine, perphenazine, quetiapine, risperidone, atau ziprasidone.

Saya membaca beberapa literatur bahwa para pengidap skizofrenia bisa sembuh bila mendapat dukungan yang luar biasa dari keluarga dan sekitarnya. Saya pun mulai menemui orangtua X yang hidup sangat sederhana, berkenalan dengan kakak-kakaknya dan berbicara tentang perlunya kami mendukung X melalui semuanya.

Namun semua tak semudah itu. Ayah X tiba-tiba mengalami gangguan jiwa yang parah hingga harus dipasung karena mengganggu warga sekitar, sementara keluarga mereka tak mampu membawanya ke rumah sakit.

Entah bagaimana saya makin peduli pada X. Saya berpikir anak itu sebenarnya baik hati, cerdas dan manis. Pembicaraan-pembicaraan kami selama ini bagi saya bahkan sangat filosofis.

Saya menyodorinya berbagai buku dan X menjadi keranjingan membaca serta lebih terbuka pada saya. Selain berbicara tentang dirinya, ia sangat antusias membicarakan ragam dunia yang ia temukan dalam berbagai buku. Saya juga ceritakan persoalannya pada PA-nya, pada jurusan dan mendapatkan kepedulian dari dosen lain tentang X. Setidaknya mereka tahu bahwa bila X tampak aneh, cenderung gagal dalam berkomunikasi, melamun, jarang hadir di kelas dan secara keseluruhan asosial, itu semata karena ia pengidap skizofrenia paranoid dan kami semua perlu mendukungnya untuk melalui masa-masa sulit. Dukungan yang paling besar datang dari Bengkel Sastra UNJ yang membawa X pada sebuah keluarga besar baru, meski di satu sisi X tak suka dengan keramaian yang menjadi ciri khas anak-anak Bengsas.

“Perempuan itu semakin aneh. Dan kini ia dan tiga temannya selalu mengikutiku. Mereka para lelaki yang jahat dan mereka semua menyuruh saya membunuh ibu karena ibu telah menjadi mata-mata Mars!” ujarnya suatu hari.

Kadang ada kengerian saat saya berinteraksi dengannya. Namun kian hari saya justru semakin terlibat dalam dengannya. Saya bahkan berpikir barangkali menulis bisa menjadi salah satu terapi bagi persoalannya, apalagi diksi yang ia gunakan saat berinteraksi dengan saya sungguh cemerlang.

Saya kian mendorongnya untuk menulis tentang semua yang berkelebat dalam benaknya, tentang perempuan yang tumbuh di kepalanya, lelaki yang selalu mengasah belati setiap pagi dan malam hari di kamarnya. Evangelis, Elmo, Karibia dan semua yang ia ceritakan pada saya. Saya berharap ia menulis agar sesak di dadanya berkurang. Lagi pula secara sastra saya lihat kisah-kisah itu akan menarik bila ditulis. Saya mulai berpikir bahwa ia akan menjadi seorang sastrawan hebat.

Tak lama kemudian X mulai menulis. Dalam waktu tiga hari, saya terperanjat membaca 40 halaman kertas yang ia tulis bolak balik dengan tulisan tangan. Saya terkejut karena karyanya sangat dalam, indah dan berkarakter. Saya tak akan percaya jika tak berinteraksi rutin dengannya. Ia bilang ia hanya memindahkan apa yang ada di kepalanya lalu menuliskannya dengan hati, namun hasilnya sungguh membuat saya yakin bahwa pada suatu hari nanti ia benar-benar akan menjadi salah satu sastrawan terkemuka Indonesia.

Ketika ayahnya wafat dan keluarganya menyuruhnya berhenti kuliah karena soal biaya dan skizofrenia itu, saya membujuknya untuk menyelesaikan novelnya. X pun terus menulis. Saya datang pada penulis Asma Nadia, adik saya yang mengelola penerbitan dan memintanya membaca serta memberi uang muka bagi penerbitan buku tersebut. Dengan demikian X bisa terus kuliah. Dan X membuktikan pada saya, dari terancam D.O, kemudian IPKnya mulai beranjak naik.

Saat ada seleksi mengikuti sayembara penulisan tingkat provinsi, saya berusaha meyakinkan jurusan hingga rektorat (tim PR3) bahwa cerpen X layak untuk diikutsertakan mewakili UNJ. Dalam hal ini keraguan institusi saya terhadap X sangat wajar. Mereka melihat fakta keberadaan X sebagai mahasiswi yang terancam drop out, punya persoalan berat serta cenderung asosial. Bagaimana ia bisa memenangkan sebuah lomba bergengsi? Mengapa bukan mahasiswa lain saja yang lebih kompeten, yang tidak membuat cerpen seabsurd yang dibuat X?

Waktu itu selain naskah X menurut saya paling bagus dibandingkan yang lain, saya ingin X mendapat kesempatan untuk bisa membuktikan diri bahwa ia juga memiliki potensi, sebagaimana layaknya orang lain. Dengan demikian kepercayaan dirinya akan meningkat. Syukurlah akhirnya semua bisa menerima hal itu dan mendukung usul saya.

Alhamdulillah X menjadi Pemenang I di tingkat provinsi dan kemudian menjadi pemenang ke III di tingkat nasional. Saya peluk ia. Saya tunjukkan beritanya di media dan warta kampus. Airmata saya menitik ketika ia katakan dengan ekspresi datar: “Ini tidak nyata. Bukan saya yang menang. Kata mereka kamu bukan dosen saya. Kamu tidak nyata. Yang nyata hanya kekalahan.”

Karena X mahasiswi program pendidikan maka ia harus mengikuti PPL. X cenderung antisosial, saya khawatir ia banyak menemukan kendala. Apalagi ia susah konsentrasi dan tidak mau serta tak bisa bicara di depan umum. Meski saya bukan pembimbing PPL-nya secara pribadi saya menemui guru pamong X di sekolah tersebut dan meminta pengertian sang guru. Alhamdulillah guru tersebut bisa memahami dan sabar menghadapi X.

Situasi X yang sering tak stabil, ekonominya yang sulit hingga sering ia tak bisa membeli obat, membuat saya dan para mahasiswa yang tergabung dalam Bengsas memikirkan berbagai cara agar bisa menghibur dan selalu ada untuknya. Kadang meski baru mendarat dari luar kota usai seminar, saya paksakan mampir sekadar mengajaknya makan es krim dan ngobrol sambil bimbingan skripsi.

Saya turut menjadi pembimbing skripsi X. Ia menulis skripsi tentang kecemasan dan delir, sebuah kajian psikoanalisis dalam drama Arifin C Noer. Di antara kecemasan dan delir X sendiri, ia berusaha memahami hal yang sama pada para tokoh dalam naskah drama tersebut. Dan itu menjadi sesuatu yang mengiris batin saya sebagai pembimbing.

Akhirnya setelah terseok-seok kuliah, saya bersyukur pada Allah SWT karena X lulus tahun ini dengan nilai skripsi A. IPK-nya yang dulu kritis kini mencapai 3,4. Kepercayaan dirinya bangkit. Ia mulai sering tersenyum menghadapi sekitar.

Kini X sedang merampungkan novelnya untuk diterbitkan. Atas persetujuan X dan Bengsas, saya pun tengah menulis novel terbaru saya yang mengisahkan berbagai interaksi yang cerdas, menyentuh dan inspirasional berdasarkan kisah kebersamaan saya, X dan Bengsas. Semoga novel tersebut kelak bisa menyentuh dan menginspirasi dunia pendidikan dan sastra Indonesia. Dan sastra? Sastra akan tetap menjadi pembelajaran seumur hidup tentang manusia, cinta dan kehidupan. Sastra tetap akan menjadi ilmu yang tak akan pernah terdefinisi, kecuali dengan satu kata: cinta.

Rawamangun, 2012
Helvy Tiana Rosa

12 Comments

Filed under Jurnal, Karya, Lainlain, Sketsa

12 responses to “Contoh Deskripsi Diri (Saya) untuk Sertifikasi Dosen

  1. Mohon izin share untuk kawan-kawan guru yang juga masih kebingungan dengan Deskripsi Diri untuk memenuhi salah satu syarat sertifikasi 2015 ya Bu Tiana Rosa.

  2. sangat bermanfaat bu helvy, terimakasih banyak

  3. yy

    mohon ijin mengambil untuk referensi

  4. Thanks y ibu. bu,,minta tolong untuk deskripsi diri guru SD apa aja yg dideskrisikan????? Trimakasi sebelumny.

  5. Terima kasih sudah menyampaikan contoh deskripsi diri Ibu, menjadi salah satu referensi bagi saya.

    Saya juga sedang mencoba membuat dokumen deskripsi untuk serdos 2015 ini

    http://gigihfordanama.wordpress.com/2015/07/03/contoh-dokumen-deskripsi-diri-sebagai-salah-satu-komponen-penilaian-sertifikasi-dosen-serdos/

  6. Tara

    Ibu Helvy yg saya hormati, ingin sekali sy kontak Fb dengan ibu. Tp tdk bisa masuk. Sy Noesantara Toyoki. Sy membaca sastra itu cinta terutama masalah mahasiswa x. Ibu Dosen yang baik hati, saya jujur benar adanya mengatakan bahwa prempuan berambut panjang memang ada bersama mhs x. Semoga diberikan jalan agar dijauhkan dr godaan prempuan setan itu. Psikiater tdk cukup. Ibu Helvy… Prempuan setan jahat itu mmng ada. Maafkan saya. Dan sy mndoakan selamat.

  7. Tata

    Mba Helvy..Ini keren bangeeet…Apakah novelnya sudah terbit Mba?

  8. Great …. !! Sya jd belajar banyak hal….
    Ijin blajar dari deskripsi diri ibu yaa…
    trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s