10 PUISI HELVY TIANA ROSA TENTANG SOSIAL/ SEJARAH

WhatsApp Image 2020-07-05 at 20.33.52 (1)

 

KEUMALAHAYATI

Aku perempuan badai
tubuhku adalah senjata
laut merah biru
yang memburumu

Aku perempuan badai
tentara terbaik Mahad Baitul Maqdis,
komandan utama pasukan istana
suamiku mati, anak-anakku terbunuh,
tapi air mataku cuma sunyi

Maka seratus kapal lepas dari rahimku
berlayar membawa seribu janda
seribu gadis pemberani.
jiwa-jiwa merah sagaku bertarung
ditempat paling karib itu; samudra

Aku perempuan badai
Gerard de Roy, James Lancaster kusiasati
di meja perundingan
Alfonso de Castro dan pasukannya
kuperangi hingga terbirit
Cornelis de Houtman kuhunus sendiri
di atas kapalnya
Aku yang membangun benteng Inong Balee,
seratus meter dari permukaan laut,
lubang-lubang meriam dengan moncong siaga
ke pintu teluk
Akulah yang melepas Dharmawangsa
dari penjara
hingga berjaya
menjelma Sultan Iskandar Muda
yang paling raja di Darussalam

Aku perempuan badai sahabat laut
meski sejarah napasku lara,
aku tak sudi menangis
di hadapan manusia

Aku perempuan badai
tubuhku adalah senjata
laut merah biru yang memburumu
sampai jauh, sampai haru

(Depok, 2 April, 2011)

 

 

SALAM NEGERIKU

Salam airmata, negeri cinta
Aku masih memeluk merah putih, berdiri di sini. Mendengar desau suara darah yang sama, menyayat-nyayat cakrawala abu. Siapakah yang membakar asa dan cinta
yang dulu setia kita pelihara? Sementara secara tiba-tiba kita gadaikan kemanusiaan kita pada sesuatu yang bernama kebiadaban

Aku masih memeluk merah putih, berdiri di sini. Menyaksikan jutaan jiwa mengigau dan mencabik-cabik saudara sendiri, sementara jutaan jiwa lainnya jadi pengungsi jeri. Mereka makan lapar, mereka minum haus. Darah, airmata mereka tumpah, menjelma sungai-sungai perih di sepanjang jalan sejarah.

Aku memeluk merah putih, berdiri di sini, menatap para pemimpin tercintaku. Kini kata-kata mereka hampir angin. Mereka cari nurani di balik kursi. Aku bertanya-tanya, apa mereka tahu di mana menempatkan Tuhan dan rakyat dalam diri serta diskusi-diskusi itu. Bisakah mereka istirah dari perseteruan, karena waktu telah semakin debu. Kota-kota berteriak parau, merdeka!

Masih kupeluk merah putihku, berdiri di sini. O, para ulama, mata air kesejukan kami, yang menatap dengan mata langit. Dari hati yang khusyu dan mulut mereka
akan keluar mutiara yang bercahaya. Tapi ayat-ayat telah dibakar dalam tanah air yang api. Mereka menangis, airmatanya menjelma curah hujan di pekarangan negeri. Lantas samar mata nyeriku melihat orang-orang kabut bergentayangan. Tak ada tanda sujud, tiada izzah, tetapi mereka kenakan jubah ulama kami

Aku pun tetap berdiri di sini, masih memeluk merah putih. Kutatap mata hitam para kanak-kanak di pengungsian kumuh dan kutemukan diriku terhempas dalam lalu. Kembali pada masa kecil yang binar di negeri damai. Hati-hati berpelukan, tebaran senyum, uluran tangan, hasil tanah melimpah. Kebahagiaan seperti kupu-kupu yang kembara di taman-taman kasih.

Salam cinta negeriku airmataku, salam airmata negeriku cintaku. Kini di atas puing-puing luka yang meninggi, sambil berdiri memeluk merah putih, kutepis kemungkinan pergi. Tak akan ada perpisahan itu. Suatu hari jiwa matahari akan mencerahkan segala yang telah darah. Jutaan tekad, daya dan doa akan membelai, mengusap wajah duka. Dan para pemimpin, para ulama, rakyat yang lara, kita akan tumbuh dewasa disebabkan hikmah. Entah kapan, kuharap kita segera kembali dari pengungsian panjang yang melelahkan ini. Membangkitkan negeri cinta kita sekali lagi, sambil tak henti berzikir.

(Cipayung, Maret 2001)

 

 

SAJAK BUAT CUT NYAK

Lama sejak kau pergi, Cut Nyak
kami tak lagi mengenal cuaca kecuali yang bernama kebengisan,
hari-hari telah terbakar bersama rumah dan kenangan
airmata, darah nanah merembesi tanah yang retak meratap
ribuan tubuh terluka dan pecah berhamburan dalam jurang,
rencong-rencong kami patah

Di mana serambi kita, Cut Nyak,
kami mencarinya dalam peta dan sejarah yang koyak
tapi yang kami temukan hanya tempat penjagalan
wajah-wajah sepucat mayat menggigil dalam antrian,
ditemani irama igauan gadis-gadis,
kala mencari kehormatan mereka yang tercecer
lalu suara serak kyai yang tak henti membaca kitab suci
dan salawat nabi sebelum dieksekusi

Sekolah-sekolah terbakar setiap hari,
para cendekiawan tanah ini tak henti ditembaki,
dan bayi-bayi yatim piatu mengira tengkorak-tengkorak itu
sebagai ayah dan ibu

Sungguh mereka bukan Belanda, Cut Nyak
mereka bernama kebiadaban
dan hanya mengerti arti kesengsaraan yang purba
mereka bicara dengan bahasa senjata dan prahara

Maka seperti mendengar kembali suaramu
di abad yang lalu, Cut Nyak
Kami yang dimangsa senantiasa
telah memutuskan untuk menghadapi segala kebiadaban
meski dengan nyeri, airmata dan rencong patah

(April, 1998)

 

 

SELALIM APA ENGKAU

Laa ilaaha illallah
Muhammad rasulullah
adalah detak pertamaku
kala membuka mata di dunia

Laa ilaaha illallah
Muhammad rasulullah
adalah udara yang kuhirup
dari hari ke hari
masuk ke sekujur panca indra,
ke rongga dan sumsum diri
adalah denyut,
kalimat yang akan mengantarku
kelak ke paling kubur
hingga dibangkitkan kembali

Laa ilaaha illallah
ucapan mana lagi
yang lebih berat dari langit bumi
dan seluruh isinya
Muhammad rasulullah
insan kamil teladan
dari zaman ke zaman
yang membawa dunia
pada kemilau cahya

Sezalim apa kau
hingga berani membungkamnya
selalim apa kau
hingga merobek dan membakarnya
Sedajal apa kau
hingga terus menginjak injaknya

Laa ilaaha illallah
Muhammad rasulullah
mengalirlah terus dari nadi ke nadi
dari airmata ke airmata
dari sunyi ke paling bunyi

Sekuat dan sebanyak apapun makar
panjipanji janji suci itu
tak akan pernah berhenti berkibar
hingga mahsyar

Laa ilaaha illallah
Muhammad rasulullah
Laa ilaaha illallah
Muhammad rasulullah

( Depok, 24 Oktober, 2018)

 

 

SELAMAT PAGI, KAMU

Pada sebuah buku yang berbicara
tentang masa depan,
aku melihat wajahmu menjelma pagi
yang terbit di tiap halaman
bersama asaku

Aku dan kamu
telah dipersaudarakan oleh huruf dan kata
paragraf juga bait
kalimat-kalimat yang kadang
terlalu rumit untuk kita cerna
tapi bermukim di batin

Semangat pagi kamu
yg terbit dan merekah dari sudut hati,
yang tersenyum serta menari
di sela sela imaji
kamu menyelinap di jemari
sebagai sepi yang selalu ditangkap puisi

Selamat pagi kamu yang menari
dan menanam cinta bersama Rumi
yang tak pernah percaya pada ilusi
dan janji janji para politisi

Setiap kali matahari terbit
berjanjilah pada diri
untuk tak membiarkan kebajikan
dikalahkan begitu saja di depan matamu
Pada setiap matahari terbit
berjanjilah untuk bangkit
dan menebar cinta
di sepanjang jalan raya hidupmu

Selamat pagi kamu,
Semangat pagi, kamu!

(Depok, Juli 2012)

 

 

NEGERI YANG TERBELAH

Pikiran siapa yang bertubitubi dikebiri
dalam katakata yang api
lalu kebenaran menjadi canggung, asing
dan tak lagi mudah dikenali,

Nalar siapa yang digerus berulangkali
ketika kebajikan dipersekusi
Penjaga risalah difitnah dan didiskriminasi,
pencari keadilan berduyunduyun jadi terdakwa
dikunci di balik jeruji
O, kaki hukum yang kian pincang dan rejang
pemantik kebencian, para pendusta, peneror
di mana mereka kau semat?
Sedang para penjilat
tumbuh sebagai musim semi

Kesalahan demi kesalahan diamini
bahkan dirayakan secara terbuka
di antara serpihan janji yang ditiup angin,
dan diskusi purba
tentang melepas mereka
yang hilang ingatan ke bilik bilik suara,
serta teriakan berisik kelompok picik
yang selalu mengaku paling toleran

Di sepanjang jalan itu kutemukan
tubuhtubuh kita yang lama menyatu
terbelah pecah, ditebas entah apa
sementara orang orang tak dikenal
dari negeri antah berantah
terus membanjiri tanah ini,
bermimpi jadi penghuni baru sebuah negeri
yang terus membelah dirinya sendiri

(Jakarta, 2018)

 

BEGITU INDAH CARA ALLAH MENCINTAIMU

(Untuk: Mas Pepeng)

Sungguh indah cara Allah mencintaimu
Ia menghadirkanmu ke dunia
lewat rahim seorang ibu yang bersahaja,
dan kekal dengan tawakkal
Ibu yang menjadikan anak sebagai sahabat,
guru dan matahari
ibu yang sanggup hadirkan
sosok dan petuah ayah yang tiada lewat cerita

Betapa indah cara Allah mencintaimu
Ia beri sifat jenaka yang menjadikanmu
sang penghibur dalam segala
musim dan cuaca
Maka tawa yang kau cipta
membuat hidup sekitar lebih bermakna

Allah mencintaimu
Ia beri ketinggian nalar
dalam mencerna
Kau pun masuk ke dalam
bukubuku tanpa pretensi
dan selalu kembali sebagai orang
yang mengerti dan memberi pengertian

Begitu indah cara Allah mencintaimu
Ia anugerahkan ketenaran
nan memancar
agar berlimpah rizkimu,
agar tiap orang mengenal sosokmu
hingga ke jarijari mereka

Lalu tiba saat yang tak akan
pernah kau lupakan itu
Ketika Allah memberi sakit
yang mengiris iris
perih dan nyaris membuatmu
tak berdaya: multiple sclerosis
Mengapa?
Mengapa saya?
Mengapa tidak?

Pertanyaan-pertanyaan yang kau jawab sendiri
Di dalam kamar putih lengang pasi
Mungkinkah dalam sakit
ada sesuatu yang lebih berharga
dari yang pernah dikira manusia?

Begitulah. Kau sakit
Namun dalam sakitmu yang divonis langka,
parah dan menahun
kau menjelma orang yang membaca lebih banyak
Kau mengamati lebih detail,
merasakan lebih dalam
bersabar tanpa lagi kenal tepi
meski kau hanya bisa terbaring

Namun begitulah cara Allah mencintaimu
Dalam sakit Ia bahkan menjadikanmu
lebih banyak jalin silaturahim.
Orang berbondong bondong mengunjungimu
untuk berbagai alasan
Mereka ingin menghibur
namun mereka yang kau hibur
Mereka ingin menyemangati,
namun mereka yang tersemangati
Mereka ingin memberi informasi
tentang dokter, tabib dan obat bagi penyakitmu
tapi kau menjelma penyembuh paling mujarab
bagi jiwa-jiwa yang lalai, luka,
dan hampa syukur

Bahkan di antara berbagai suntikan,
luka-luka nganga, darah dan nanah
kau masih sempat berpikir
tentang keadaan sekitar
tentang bagaimana
memberdayakan masyarakat negeri ini
dan mencari cara menghapus lara mereka

Allah telah memberimu daya
yang membuat kami terperangah
Maka percik percik cahaya kisahmu pun
menjelma inspirasi tanpa batas

Begitulah cara Allah mencintaimu
dengan menguji dan mengasahmu
hingga kilau
sampai tiba masa berjumpa kelak
tapi yang pasti, seperti katamu,
“Sebelum ajal pantang mati!”

Maka duhai,
betapa indah cara Allah mencintaimu
Dia karuniakan empat Mohammad
sebagai cahaya mata dan sukma

Dan untuk menjagamu selamanya
Ia tak kirimkan pendamping
dari kalangan biasa
tetapi seorang bidadari
yang dalam dirinya berpadu
ketulusan Maryam
serta cinta dan kecerdasan Aisyah
Bidadari yang tertidur
setelah yakin kau lelap
dan bangun sebelum kau terjaga
diselimutinya kau dengan doa doa
yang tak henti getarkan langit

Begitu Indah cara Allah mencintaimu
Begitu indah…sampai di airmataku

(Perjalanan Rawamangun-Depok, 26 November 2014)

 

 

PERJUMPAAN MALAM ITU DENGAN KARTINI

Ibu
Fotomu telah berulangkali dicetak untuk dipajang di pigura zaman negeri ini
Sejak Snouck Hugronje, Abendanon dan Estelle dari negeri merah putih biru
berilusi tentang gelap yang jadi terang, kami digiring percaya
hingga ujung-ujung kebayamu

Maka setiap tiba pada hari itu, kami diingatkan
untuk berdiri tinggi di atas tebing hidup atas nama emansipasi
dan segala bentuk perjuangan sebagai gadis, istri, ibu, sebagai manusia
Meski kadang kami tak mampu mengeja makna bahkan kerap
membolak baliknya semau kami, kami katakan itu mimpimu
dan kami rayakan atas namamu, ibu
Sebab selalu habis gelap terbitlah terang

Malam merayap sampai ke ubun-ubun hari
bulan pucat mengantar bayanganmu di beranda
Angin beringsut perlahan, sepi suara serangga
Seperti perih yang terlempar kembali ke abad lalu,
tiba-tiba kudengar lirih tangismu di antara alunan gending yang gigil
Lalu sejumlah tanya mencabik, bergema menyelusup ke sumsum masa

Kau bilang ada tangan-tangan yang mencipta
sosokmu sebagai ibu kami
dan itu bukan tangan pertiwi

Malam itu dalam gelap bibirmu mengucap nama-nama.
Angin menuntun tangan putihmu
menulis para puan pemahat matari sejati
yang tak pernah bisa sungguh-sungguh disembunyikan musim
:Safiatuddin Syah Tajul Alam, Keumalahayati, Cut Nyak Dhien,
Rohana Kudus, Christina Martha Tiahahu, Rasuna Said, Siti Aisyah We Tenriolle
dan ribuan perempuan lain.
“Mereka yang paling sejarah!” katamu. “Tidakkah kalian bisa menyaksi?”

Lalu kau hampiri aku yang termangu, pias dan menggigil.
Dengan tangan gemetar kau serahkan penamu padaku.
“Tuliskan ribuan nama lain!”isakmu.
Aku ingin mengucap sesuatu atas hormatku padamu, Ibu,
tapi suaraku hilang dihisap malam.

Dan pena itu meliuk sendiri di udara, menuliskan lagi nama-nama
di atas pulau-pulau negeri, menjelma kembang api
dan lempengan cahaya paling kemilau: para puan pemahat matari,
yang tak pernah bisa sungguh-sungguh disembunyikan musim
:Safiatuddin Syah Tajul Alam, Keumalahayati, Cut Nyak Dhien, Rohana Kudus,
Christina Martha Tiahahu, Rasuna Said, Siti Aisyah We Tenriolle dan ribuan perempuan lain.

Lalu sayup kudengar lagi suaramu dibawa angin sampai jauh
aku adalah hanya, tercipta dari surat-surat lara yang paling entah
aku lahir dari sejarah yang dikebiri

Malam itu aku tersedak, bahkan tak bisa mengucapkan resah
yang berlarian melintasi tingkap jendela
Kupeluk fotomu sambil terus menulis tak terhingga nama
yang kutanam kembali di nadi dan belantara benak zaman
:Ibu!

(Ulangtahunku, 2 April 2012)

 

 

SAFIA

Aku bukan ratu, aku raja
yang berpolitik lewat geliat sajak
dan cerita para sahaya
kepedulian yang tak pernah selesai

karena cinta mereka tak terhingga
tiga puluh lima tahun aku memerintah
padahal para petinggi mengira
aku tak akan pernah setara pria
dan Darussalam Jaya tak akan niscaya

Akulah sultan yang dipanggil Sultanah
Safia yang tak kenal selesa masa
setia menyelusuri tiap jejak
memungut tiap perih
yang ditinggalkan rakyat
di beranda hari
Aku berjalan tanpa pengawal
ke tiap lembah
sebagai perempuan biasa

kubuka pintu-pintu peradaban
kutitahkan Nurrudin Ar-raniri, Abdul Rauf Singkel,
para ulama, untuk menulis cahaya
kukirim para tokoh muda sekolah
hingga Mekkah Madinah.
Ilmu di pikiran di sanubari ditulis
jadi kitab jadi nadi umat
perpustakan negeri adalah firdaus
bagi kanak-kanak hingga para tetua

Pada masaku diumumkan 40 Qanun
undang-undang kerajaan tentang keberadaan
dan jumlah perempuan di parlemen
sedang pasukan khusus wanita kami
salah satu yang tercakap di dunia
Penuh izzah kami tetapkan aturan berniaga
dengan Inggris, Portugis, Belanda dan lainnya
Pada masa itu, tak satu pun dari rakyatku
yang sudi mendapat zakat
sebab harta, ilmu dan cinta
berlimpah ruah di lumbung kami
Maka zakat dan sedekah kami
sampai hingga Mekkah
dibawa ulama mereka Yusuf Al Qadri

Aku Safiatuddin Syah Tajul Alam
Putri Sultan Iskandar Muda
mereka memanggilku kemurnian iman,
mahkota dunia

aku bukan ratu, aku raja
yang berpolitik lewat geliat sajak
dan cerita para sahaya
kepedulian yang tak pernah selesai
mengalir sampai kepala dan hati
ke denyut-denyut zamanmu.

(Depok, 2 April, 2011)

KEPADA KIAI PUTRI

Apa yang harus kukisahkan tentangmu, Khoiriyah?
Jejakmu begitu dalam, menyala di tanah ini
dan aroma namamu adalah kesturi
tumbuhnya pesantren di berbagai penjuru negeri

Apa yang harus kukisahkan tentangmu, Khoiriyah?
Putri yang merekah mawar dari tangan Hadratus Syaikh
Ia ajari engkau segala dengan cinta
Aqidah, ilmu, ahlak adalah cahaya
yang merona di pipimu
ketika suatu hari Kiai Maksum Ali datang
meminangdi usiamu yang ke 13

Apa yang harus kukisahkan tentangmu, Khoiriyah?
Perempuan pendobrak kejumudan kami
yang tegar ditinggal suami selamanya, saat usiamu 27 tahun
Dan ketika kau menikah lagi dengan Kiai Muhaimin
kau kembali ditinggal ke keabadian di usia 40 tahun
Tapi tak ada yang pernah menyurutkan langkahmu
menebar maslahat
juga saat satu persatu dari sembilan buah hatimu
dipanggil ke haribaanNya

Ujian apa yang tak bisa kau lalui Khairiyah?
Pondok-pondok itu merindukan nyai sejatinya
Penjajah gentar pada ketegasanmu di sabilillah
Feminisme? Hanya wacana sekadar,
tapi bagimu perempuan sejati
adalah yang paling teguh di jalanNya

“Saatnya kita mengubah penampilan,”
katamu sambil menjahit kerudung rubu’
yang kami pakai hingga hari ini
Engkau yang contohkan santriwati
gunakan celana panjang
menyiasati betis, di balik kain jarik,
yang terlihat saat baris berbaris
Kau beri semua honor ceramahmu
untuk perbaiki kamar mandi tetanggamu
Engkau yang menguji bacaan alfatihah
para calon imam sholat jumat di pesantrenmu,
dan tak semua mampu lulus dari kejelianmu

Kaulah pena berjalan itu,
menulis cahaya di berbagai media
Perempuan pertama dalam Bahtsul Masail Nadhlatul Ulama
yang siaga berargumen dengan para kiai,
membahas masalah-masalah maudluiyah dan waqi’iyah.
Kecerlangan yang membuat Kiai Yusuf Hasyim
tak lagi menjulukimu Nyai
Tapi Kiai Putri

Apa yang tak pernah mereka dengar darimu, Khoiriyah?
Wanita ulama pertama di dunia
yang membangun madrasah khusus perempuan–al banat
di Mekkah, meski harus berjam-jam berdebat
dengan para mufti di sana
sampai Soekarno memintamu kembali
ke Indonesia senja itu
untuk turut membangun negeri
dari pondok pondok pesantren
“Perempuan itu tiang utama penyangga negara.
Adalah pemahat peradaban
yang melahirkan dan mendidik anak-anak
hingga menjadi bangsa bangsa!
Dan pesantren adalah
gerbang kedamaian,
pilar kearifan
benteng terakhir pertahanan negeri kita!”

Kau tak pernah berubah, Kiai Putri
berbagi tanpa harap apa
hanya ridha Illahi Rabbi.

Apa lagi yang harus kukisahkan tentangmu?
Jejakmu begitu dalam, menyala di tanah ini
dan aroma namamu adalah kesturi
tumbuhnya pesantren di berbagai penjuru negeri
Wahai Putri Hadratussyaikh
Cintamu lebih panjang dari nama dan usia
terbentang dari Jombang hingga Mekkah.
Cahaya peradaban
yang tak pernah bisa dibungkam masa

( Krapyak, Yogyakarta, sesaat sebelum peringatan Hari Santri, 10 Oktober 2018)

Leave a comment

Filed under Karya, Lainlain, Puisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s