Selamanya Cinta (Cerpen Remaja)

mami dan kami

Aku melangkah gontai melewati gerbang sekolah. Sejak pelajaran pertama hingga bel pelajaran terakhir berbunyi, pikiranku telah mengembara kemana-mana, hingga akhirnya tiba di satu titik: Ibu.

“Ibu sudah tua, Din. Sebentar lagi umurnya 76 tahun. Ibu sudah mulai pikun, sa­kit-sakitan. Aku ingin yang terbaik buat Ibu, Din!” Suara Kak Dita terngiang terus di kuping­ku.

“Yang terbaik? Untuk Ibu? Dengan membuangnya di panti jompo? Itukah yang terbaik?” jawabku waktu itu.

“Seharusnya kamu juga memahami posisi kakak, Din. Bang Tio cuma seorang satpam di supermarket…, berapa sih gajinya? Anak kami sudah tiga orang. Kamu tahu kan harga susu dan kebutuhan pokok lainnya kini melangit? Dan rumah kontrakan ini? Cuma sepetak, Din! Sepetak yang disekat menjadi dua kamar. Ibu tak bisa di sini lagi, Din!”

Tangis keponakan ketigaku yang belum berusia setahun mengejutkan kami. Kak Dita segera meraihnya dari ayunan dan menggendongnya.

“Dia lapar. Susunya habis. Bahkan untuk membeli kardus kecil pun kadang kami tak bisa.”

Kak Dita meraih segelas air putih, lalu memasukkan sesendok gula, mengaduknya rata dan menyuapkannya pada keponakanku yang lapar.

Aku mengelus dada. Perih menohok dan mataku yang mulai berkabut menelusuri seluruh sudut rumah kayu yang kecil dan kusam ini, lalu terhenti pada balai-balai rapuh tempat Ibu kini terbaring dengan mata menerawang. Aroma sayuran yang baru selesai ditumis, lantai lembab beralas tanah dan bau asap dari kompor minyak tanah yang baru dimatikan menambah pengap ruangan tanpa jendela ini.

Dulu ketika Kak Dita belum menikah, kami bertiga tinggal di rumah sederhana peninggalan Bapak. Tetapi setelah Bapak meninggal karena komplikasi penyakitnya yang telah menahun, rumah tersebut terpaksa dijual untuk membayar utang ke sana kemari. Dalam keadaan kritis seperti itu Bang Tio Pakpahan melamar Kak Dita yang baru saja tamat SMU. Bang Tio membo­yong kami semua ke rumah ini. Tetapi karena keadaan mereka sangat pas-pasan, satu-sa­tu­nya kerabat Bapak: Paman Hadi mengajakku tinggal bersama keluarganya dan menyekolah­kan­ku. Beliau merasa berhutang budi pada bapak, namun hidup beliau sendiri sebenarnya pas-pasan.

“Hampir tiap malam aku dan Bang Tio bertengkar soal Ibu. Ibu bukan cuma pikun dan menyusahkan…tetapi juga terlalu mencampuri urusan kami!” suara Kak Dita lagi. “Aku capek, Din! Pekerjaanku sebagai tukang cuci-seterika masih harus ditambah dengan merawat tiga anak yang masih kecil dan seorang jompo! Tahukah kau betapa lelahnya aku! Itu semua ditambah lagi dengan hubunganku yang tak pernah harmonis dengan suamiku sendiri! Dan itu karena Ibu, Din!” suara Kak Dita meninggi dan bayi dalam gendongannya kembali menangis.

Astaghfirullah! Cukup!” Kupandang kak Dita tajam. Kuhampiri Ibu yang sejak tadi mende­ngar­kan percakapan kami. Kulihat airmata menetes di pipinya.

“Bu…, jangan dengarkan Kak Dita, Bu. Kita akan selalu bersama. Dini janji, Dini akan selalu menemani Ibu!”

Perlahan Ibu bangkit dan duduk di tepi balai-balai. Tangannya yang keriput namun hangat meng­­genggam jemariku. “Dita benar. Ibu cuma bisa merepotkan…,” suara tua itu terdengar gemetar.

Aku menggelengkan kepala dan menatap wajah penuh kasih yang bertahun-tahun membesar­kan kami tanpa pernah mengeluh. Wajah itu kini penuh kerutan. Dua helai rambut putih keabu-abuan jatuh di atasnya.

Saat itu pintu terbuka dan Bang Tio masuk dengan wajah masam. “Aku di PHK. Supermarket itu sekarang ditutup.”


 

“Assalaamu’alaikum, Din!” suara riang Rahmi menyentakku dari lamunan. “Kamu gimana sih, Non? Jalan sambil melamun.”

Aku menjawab salam dan tersenyum pada wajah cantik, mungil dan tulus di balik jilbab putih itu.

“Mikirin siapa sih?” katanya jenaka. “Aku ya? Soal ulanganku yang jelek dan malu-maluin para jilbaber lainnya itu…maafin deh. Next time better. I swear!” katanya serius.

Kutatap teman sebangkuku yang baru genap sebulan ini berjilbab. “Aku buru-buru, Mi! Maaf ya, angkotnya udah datang tuh!” kuucapkan salam dan berlalu.

Rahmi memandangku bingung. “Din! Hati-hati!” teriaknya.

Tetapi yang terdengar di telingaku adalah suara Paman Hadi. “Maaf, Paman tak bisa menolongmu, Din. Rumah ini terlalu sempit. Bahkan kau saja tidur di kamar pembantu. Lagi pula, siapa yang akan merawat Ibumu ketika kau pergi sekolah?”

Aku termangu. Menerawang.

“Ibu sudah tenang di panti jompo,” suara Bang Tio, Minggu lalu, saat ia baru saja diterima bekerja sebagai supir di sebuah perusahaan taksi.

“Apa? Mengapa tak memberitahuku?” tanyaku terkejut.

“Buat apa?” tanya Bang Tio enteng.

Kepalaku berdenyut. “Panti jompo yang mana? Di jalan apa?”

“Buat apa kau tahu?”

“Tentu saja aku harus tahu. Aku anaknya!” seruku gusar.

“Aku, anak kandungnya, sudah tahu apa yang terbaik baginya. Dan sebagai anak angkat, kau tak perlu mengusik ketenangan Ibu!” timpal Kak Dita tiba-tiba.

Airmataku menetes. Suaraku tersekat di kerongkongan. Tanpa sepatah kata pun, saat itu aku berlari meninggalkan mereka.

Kubenahi jilbabku yang kurasa miring. Saputangan bola-bola dalam genggamanku telah basah saat aku turun dari mikrolet dan menyerahkan selembar ribuan pada supir angkot.

Anak angkat. Aku hampir tak pernah kenal dua kata itu sejak suami istri Harun yang hanya memiliki seorang anak remaja mengajakku tinggal bersama mereka dengan penuh kesederhanaan. Waktu itu usiaku baru dua tahun. Bu Harun menemukanku di Pasar. Menurut Paman Hadi, keluarga Harun berusaha mencari keluargaku, tapi nihil. Seolah aku memang anak yang tak dikehendaki dan dibuang keluargaku sendiri.

“Betul Dini anak angkat, Bu?” tanyaku suatu hari, saat aku kelas tiga SD dan Kak Dita baru saja menikah.

Ibu terkejut. “Siapa yang berkata seperti itu?”

“Anak-anak Paman Hadi.”

Ibu menarik napas panjang.

“Dini tidak mirip siapa pun. Tidak bapak, tidak Ibu…juga Kak Dita.”

Ibu memijat keningnya dan meraihku dalam pelukannya. Mengusap-usap rambutku dengan penuh cinta. “Dini, tahukah engkau, nak…perbedaan antara anak kandung dan anak angkat?”

Aku terdiam, hanya mendung bergelayutan di mata dan batinku.

Ibu menatapku dalam. “Anak kandung tumbuh dan dilahirkan dari rahim Ibunya. Tetapi anak angkat tumbuh dan lahir dari hati Ibunya….”

Saat itu aku membalas tatapan Ibu dan kurasakan pancaran kasihnya mengalahkan seluruh cahaya yang ada di dunia.

Kenanganku terhenti. Di depanku sebuah bangunan mirip asrama dengan plang besar bertuliskan PANTI WERDHA. Ini adalah panti ke empat dalam minggu ini yang kudatangi.

Aku masuk setelah mengucap salam, mengisi buku tamu dan menjelaskan maksud kedatanganku. Para pengurus panti tampak bersimpati.

“Tetapi kami rasa tak ada wanita tua bernama Bu Asni Harun. Memang dua minggu yang lalu ada seorang wanita tua yang datang diantar menantunya. Tetapi nama dan ciri-cirinya berbeda.” Bapak paruh baya pengurus panti membolak balik sebuah buku besar, dan kemudian memperlihatkan data-data dibukunya padaku.

Aku meneliti dengan serius. Di sana tertulis nama calon penghuni panti dan orang yang mengirimkannya. Tak ada Ibu atau nama Bang Tio.

“Mungkin dititipkan di panti jompo lain.”

“Iya, mungkin di swasta, yang harus bayar mahal,” timpal pengurus lain.

“Sepertinya tidak, Pak. Kami orang tak punya. Saya yakin Ibu saya dititipkan di panti werdha milik pemerintah,” suaraku bergetar saat menyadari Ibu berada di tempat yang sama dengan para pengemis dan gelandangan tua yang terjaring oleh Dinas Sosial DKI.

“Mungkin di panti terdekat dari rumah adik?”

Aku menggeleng. “Mungkin beliau malah berada di panti yang paling jauh dari rumah saya, Pak.” Ya, aku tahu Bang Tio. Aku tahu arah pikirannya.

“Adik sudah ke panti mana saja?”

Kusebutkan beberapa panti milik pemerintah yang telah kukunjungi.

“Berarti hanya ada satu panti yang belum adik datangi…, tapi tempatnya jauh dari daerah ini.”

Bapak itu segera menulis alamat panti tersebut. Panti Werdha I, Cipayung, Jakarta Timur. “Ini adalah panti jompo pertama yang dibangun pemerintah DKI Jakarta. Memang jauh dari sini.”

Adakah artinya jarak Ciledug-Cipayung dibandingkan Ibuku? Aku tersenyum, menerima seca­rik kertas itu, pamit dan berlalu.

Di halaman panti sempat kulihat beberapa kakek-nenek sibuk dengan diri mereka masing-masing.

“Cu…, cu…cu…,” seorang nenek tua berkebaya lusuh tergopoh-gopoh menghampiri dan menjabat tanganku. Lama sekali.

Aku terpana. “A…apa kabar, Nek?”

Tawa sang nenek lebar memamerkan giginya yang nyaris tidak ada.

“Itu…bukan cucu kamu!” sela nenek yang lain.

“Cu…cuku….”

“Bukan. Itu…cucu orang!” ledek yang lain lagi.

Sang nenek menatapku dengan mata berkaca-kaca, lalu ia menepi. Membiarkanku berlalu.

“Assalaamu’alaikum,” kataku.

Mereka menjawab dengan suara nyaris tak terdengar. Beberapa hanya komat-kamit. Hatiku miris. Ya Allah, di manakah Ibuku? Sedang apa ia sekarang?

Tiba-tiba kurasakan perutku merintih. Aduh, perihnya! Kulirik selembar seribuan dalam saku seragam sekolahku. Hanya itu ongkosku. Dan sepotong tahu untuk mengganjal perut pun tak bisa kubeli.

Aku tersenyum getir. Lain kali aku harus lebih sering shaum.


 

“Kalau makan itu mbok ya jangan banyak-banyak. Yang lain nanti nggak kebagian.”

Aku menunduk. Kurasakan lirikan tajam istri Paman Hadi yang duduk tak jauh dariku.

“Ayo, Nia, Iin…ambil lauknya! Nanti keburu ludes lagi!” Suara ketus itu menusuk-nusuk batinku. Ya, sejak dulu. Namun tusukan kali ini kurasa lebih menghujam.

“Sudah toh, Bu. Lauknya kan masih ada,” suara Paman Hadi sabar.

Lagi-lagi aku cuma menunduk saat tatapan sinis Nia dan Iin singgah di hadapanku. Aku segera menyelesaikan makan dan bergegas meninggalkan ruang makan.

“Bagaimana sekolahmu?” tanya Paman tiba-tiba.

“Baik, Paman.”

‘Rajin-rajinlah belajar. Paman cuma bisa….”

“Pamanmu cuma bisa menyekolahkan dan memberi tumpangan sampai kamu tamat SMA. Setelah itu kamu harus pergi,” sambar Bibi pedas. “Tahu sendiri kan sekarang ini lagi krisis!”

Aku menahan tangis dan berlari ke kamarku. Sayup-sayup kutangkap suara Paman Hadi menasehati Bibi. Aku ke kamar mandi, mengambil air wudhu dan bersiap untuk sholat Isya.

Allah, aku butuh belaianMu. Sungguh! Selalu!


 

“Ceritakan padaku, Din. Aku kan saudaramu,” desak Rahmi membuyarkan lamunanku saat bel istirahat baru saja berdentang.

“Apa yang harus kuceritakan, Mi?”

“Kemurunganmu, harapanmu…apa saja yang mengganggumu akhir-akhir ini.”

Aku tersenyum. “Makasih, Mi. Aku nggak apa-apa kok,” elakku.

“Ibumu sudah ketemu?”

Aku terbelalak.

Bola mata Rahmi yang kecoklatan ikut-ikutan membesar.

“Darimana kamu tahu, Mi?”

“Aku telpon ke rumahmu. Anak Paman Hadi bilang….”

Anak-anak Paman Hadi lagi!

“Aku ikut sedih,” ujar Rahmi pelan.

“Aku harus ke Cipayung. Entah di mana itu. Katanya dekat Taman Mini. Mungkin….”

“Aku ikut!”

“Tapi….”

“Aku ikut! Demi ukhuwah Islamiyyah!” ajuknya lucu.

“Tapi…perjalanan ke sana bisa dua jam, Mi. Ongkosnya juga nggak sedikit!” seruku.

Rahmi tersenyum dan mengeluarkan dompet barunya. “Dompetku sekarang sudah lebih besar. Seperti juga isinya.”

Aku tahu ia bercanda. Rahmi bukan anak orbek (orang beken) atau orang kaya, tetapi ia suka menulis cerita di majalah anak-anak dan punya uang saku sendiri.

“Boleh kan?” desaknya sekali lagi.

Aku mengangguk. Haru. “Insya Allah besok kita berangkat,” ujarku pelan sambil me­ra­pi­kan buku untuk pelajaran selanjutnya.


 

Setelah menempuh perjalanan lebih dari dua jam, dari Garuda kami masih harus naik angkutan KWK 02 menuju Jalan Bina Marga, Cipayung. Sepanjang perjalanan hatiku resah.

Bagaimana kalau Ibu tak di sana?

“Stop, Bang! Itu pantinya! Din, ayo turun, sudah sampai!” seru Rahmi.

Aku terkejut. Dadaku berdetak keras. Ya Allah, mudah-mudahan Ibu ada di sana.

Setelah turun dan membayar ongkos angkot, kami bergegas masuk.

“Ibu Asni Harun?” pengurus panti di hadapanku tampak berpikir keras. Seperti juga para pengurus panti yang kudatangi sebelumnya ia mengambil sebuah buku besar dan membolak baliknya beberapa saat.

“Ada seorang Ibu dengan ciri-ciri seperti yang adik bilang. Kurus, putih, dengan tahi lalat di pipi. Ia baru masuk sekitar dua minggu ini…, namun kami memanggilnya Ibu Dini. Ya, begitu. Ia bilang Dini itu nama anak yang sangat ia sayangi jadi ia lebih suka….”

Dadaku membuncah. Tiba-tiba keyakinanku kian kuat. Itu Ibu!

“Antarkan saja kami kepada Ibu Dini, Pak,” sela Rahmi.

“Tunggu. Ini dia. Kami menemukan nenek ini, Bu Dini, tanpa identitas diri, dua minggu lalu. Ia terisak-isak di depan panti. Seorang Kakek yang kebetulan berada di luar mengatakan ada se­o­rang lelaki yang mendorongnya keluar dari taksi, dan meninggalkannya begitu saja di depan panti.”

Aku tersentak.

“Bu Dini tak pernah cerita apa pun pada kami, juga tentang siapa yang dengan tega mendorongnya keluar dari mobil. Ia cuma menyebut namanya: Bu Dini. Itu saja.”

Airmataku mulai menderas. Kuhapus kuat-kuat.

“Bisa mengantarkan kami sekarang, Pak?” desak Rahmi lagi.

Petugas panti itu mengangguk cepat.

Aku dan Rahmi masuk melewati kamar-kamar dengan banyak tempat tidur. Persis asrama. Di mana-mana kulihat banyak perempuan jompo lalu lalang. Ada juga yang hanya terbaring di tempat tidur.

“Tempat para nenek dan kakek terpisah,” kata Bapak pengurus itu. “Nah, itu kamar Bu Dini, yang paling ujung.”

Aku masuk melewati pintu kamar yang terbuka lebar. Ada sekitar …sepuluh orang dalam ruangan. Mataku mencari-cari dengan teliti. Beberapa nenek balas menatapku dan Rahmi deng­an penuh tanda tanya.

“Nggak ada Ibu di sini, Mi,” ujarku pelan.

“Lihat baik-baik, Din….”

“Nggak ada.”

Tiba-tiba, seseorang keluar dari kamar mandi dalam ruangan itu. Napasku seakan berhenti karena kegirangan dan perih yang membaur.

“Ibuuuuuuuu!” aku menghambur memeluk perempuan ringkih yang tampak agak bungkuk itu.

Ibu menatapku lekat-lekat, kemudian mengucek kedua matanya, memastikan ia tak salah lihat. “Din…Di…ni? Ya…Allah, Ya Rasul, kamu…Di…ni?”

“Iya, bu. Ini Dini. Dini sayang Ibu. Cinta Ibu selamanya…,” seruku terisak.

Di depan pintu sempat kulihat Rahmi menghapus setitik airmatanya yang jatuh. Sementara beberapa nenek memandang kami dengan tatapan haru. Lalu entah siapa yang memulai kulihat para nenek itu bertepuk tangan! Aku jadi tersenyum. Terenyuh dalam genangan airmata.

“Mengapa Bang Tio mendorong Ibu dari taksinya?” tanyaku setelah kami melepas rindu.

Pandangan Ibu kosong ke depan. “Karena…Ibu tak…mau di…sini…”

Aku merasa sebuah batu besar diletakkan di punggungku, namun sedikit pun aku tak mampu bergerak, apalagi mengangkatnya.

Sore itu aku dan Rahmi berusaha menghibur Ibu. Ibu sering mencoba tersenyum, tetapi kurasakan luka yang menganga dalam dirinya.

“Dini akan sering-sering datang, Bu.”

Ndak usah. Ongkosmu darimana? Ibu…baik kok.”

Hatiku kembali tersayat-sayat.

Sepanjang perjalanan pulang, Aku dan Rahmi lebih banyak diam. Sungguh, pikiranku buntu. Di satu sisi aku tak rela Ibu berada di panti itu, di sisi lain tak ada tindakan yang bisa kulakukan untuk mengeluarkannya dari sana.

“Sabar ya, Din. Yakinlah, pertolongan Allah akan segera tiba,” suara Rahmi lirih saat kami berpisah di jalan.

Aku hanya bisa mengucapkan terimakasih. Juga ketika keesokan harinya Rahmi menye­rah­kan uang honor menulisnya untukku. Kemudian keesokan harinya, dan esok-esok yang lainnya, hingga aku selalu bisa mengunjungi Ibu dan bercengkrama dengan teman-teman jompo Ibu yang juga rindu akan kasih sayang.

Jazakillah ya, Mi,” kataku hampir setiap saat pada Rahmi.

“Aku yang jazakillah dong!” elaknya.

Lho, kok?

“Iya. Karena kamu dan Ibumu aku jadi penulis produktif yang kini mulai diperhitungkan,” katanya pura-pura bangga. “Dan kenalan nenek-nenekku jadi bejibun,” tambahnya cekikikan.

“Andai aku bisa kreatif seperti kamu ya, Mi….”

Hus, ndak boleh berandai-andai. Kamu juga kreatif kok. Setiap manusia kan khas, unik. Coba kamu pikir, insya Allah ada sesuatu yang bisa kau lakukan untuk menambah penghasilan.”

Lama kupikirkan tantangan Rahmi.

Akhirnya aku memberanikan diri mulai membuat ke­ripik singkong pedas yang kujual sendiri di sekolah dan dititipkan di warung-warung. Ternya­ta hasilnya lumayan dan bisa ditabung. Bahkan pernah kusisihkan uang untuk membeli susu bagi keponakanku. Namun sambutan Kak Dita dingin. Ia juga enggan bicara soal Ibu, atau soal apa pun padaku. Buntut-buntutnya ia tak mau aku sering datang ke rumahnya. Katanya ia takut suaminya marah! Sungguh aku tak mengerti, apalagi saat aku berkunjung ke panti sering kulihat tatapan mata tua Ibu merindukan kehadiran Kak Dita dan cucu-cucunya.


Hari ini setelah pengumuman kelulusan, aku dan Rahmi kembali menjenguk Ibu dan menga­barkan berita gembira itu padanya. Saat itu juga Ibu menyampaikan kabar tersebut pada teman-temannya yang lain. Aku melongo ketika satu persatu nenek di kamar besar itu tertatih tatih menyalamiku sambil tersenyum lebar dan manggut-manggut.

“Din, kamu dipanggil pengurus panti tuh,” kata Rahmi tiba-tiba.

Alisku terangkat. Segera aku bangkit dan menghampiri bapak pengurus panti yang kemudian membawaku ke ruangan pimpinan panti.

“Ada apa, Pak?”

“Tidak apa. Tempo hari Dik Rahmi bilang Dik Dini ingin tahu tentang orang-orang yang be­­ker­ja di sini?”

Aku tersenyum. “Iya, Pak. Waktu itu saya pikir, bila saya lulus mungkin saya bisa bantu-bantu di sini. Memasak, menyapu, merawat, apa saja.”

“Kebetulan di sini memang ada beberapa pekerja. Ada yang lulusan keperawatan tapi ada juga tenaga honorer yang lulusan SD seperti Ibu Sri yang tukang masak itu. Kalau Dik Dini mau, mungkin kami bisa menerima adik untuk bekerja di sini. Mungkin membantu merawat atau administrasi? Tapi…terus terang, gajinya tak seberapa.”

Hatiku melonjak-lonjak. “Tak peduli gaji kecil asalkan saya…bisa tinggal di sini, Pak?’

“Tentu saja. Itu bisa diatur. Dik Rahmi sudah mengusulkan hal itu pada kami.”

Aku tak menyangka sama sekali!

“Lagi pula nenek-nenek di sini juga sudah terlanjur sayang sama Dik Dini,” timpal peng­urus yang lain.

Aku tersenyum bahagia. Satu persatu buliran bening itu jatuh di pipiku. Apalagi saat kuingat perkataan Ibu beberapa waktu lalu.

“Ibu…punya rahasia….”

“Apa, Bu?”

“Ibu juga…dulu anak…angkat.”

“Apa? Yang benar?”

“Ibu dibuang di rumah sakit. Kakekmu yang memungut Ibu….”

Aku ternganga.

“Dan…Ibu tak percaya…harus dibuang…lagi ketika tua….”

Kuusap airmataku kembali dan keluar dari ruangan pengurus panti dengan langkah mantap. Dari kejauhan kulambaikan tangan pada Ibu dan Rahmi. Kucium Ibu. Kubisikkan sesuatu hing­ga kulihat senyum lebarnya menjelma kembali seperti dulu, saat kami semua masih bersama.

“Aku cinta Ibu, selamanya…, Ibu tak akan sendiri.”

Ibu memelukku erat.

“Selamat ya, Din…karena kamu jadi penghuni panti yang paling muda dan cantik…, dan berarti aku nggak harus nyariin kamu calon suami buru-buru kan?”

“Rahmi!” Kupelototi dia, kukelitik pinggangnya. Ia berlari, kukejar. Dengan lincah ia menyelinap di antara tempat tidur para nenek, dan berlindung di balik badan gemuk salah seorang dari orangtua itu. Nenek-nenek yang lain terpingkal-pingkal melihat kami.

Kutatap wajah mentari Rahmi, saudara seimanku itu. Seperti aku tumbuh di hati Ibu, ia pun telah berada di kalbuku. Dengan cinta, selamanya.

                                         ***                                  

Helvy Tiana Rosa, Cipayung, 2000

Ilustrasi foto: Masa kecil Helvy dan adik-adik bersama sang ibu.

9 Comments

Filed under Cerpen, Karya

9 responses to “Selamanya Cinta (Cerpen Remaja)

  1. Terenyuh membacanya. 🙂
    Rahmi jahil banget ya Buk. 😀

  2. Wah. Kalau ini fiksi, berarti kebetulan yang hebat, Bunda Helvy bisa ketemu murid yang sepertinya dekat banget dengan, Bunda. Namanya juga Rahmi kan?

  3. lila

    Mbrebes bun. Jadi ingat ibu saya ; (

  4. cerpennya mbak selalu bikin nangis :’)

  5. Wiwiet

    Cerpennya hiks hiks bikin nangis …

  6. eyla

    Selalu deh…cerpennya bikin nangis bun…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s