Pakai Jilbab? Berani Dong!

jilbabku

Seperti film yang diputar dalam gerakan-gerakan lambat, begitulah saya melihat diri ini 26 tahun lalu.

2 April 1988, saya duduk di kelas II SMA, hampir naik kelas III.

Siapa saya? Remaja yang mencari jati diri. Di kelas saya selalu ranking. Saya aktif di teater, pramuka, paskibra dan mengelola majalah dinding. Pergi ke sekolah tiga hari mengenakan rok dan tiga hari lainnya mengenakan celana panjang abu-abu. Saya sering diminta mewakili sekolah dalam berbagai lomba pidato, lomba menulis, baca puisi dan kontes debat. Berani, tak bisa diam, cuek, sebagaimana remaja pada umumnya. Di luar sekolah saya sempat ikut karate dan paduan suara, meski tak begitu sukses.

Bagaimana pandangan saya terhadap Islam? Sekadar agama yang baik. Tentu bangga (Hai, saya seorang muslimah!). Tapi anehnya saya tak pernah sholat, kecuali saat sedih. Saya pun tak bisa membaca Al Quran. Bisakah Anda bayangkan dalam usia 18 tahun saya belum juga bisa membedakan huruf ba dan nun?

Panjang kalau saya ceritakan apa yang terjadi saat itu. Intinya saya menghadiri pengajian dan membaca terjemahan Al Quran. Sepintas tak ada yang istimewa. Tapi menjadi menyentuh ketika Anda tahu, itulah kali pertama saya mengaji dan untuk pertamakalinya dalam hidup saya membaca Al Quran terjemahan! Pada usia 18 tahun!

Pulang dari pengajian tersebut, hari itu juga saya bertekad langsung menutup aurat sebagaimana tuntunan Islam terhadap muslimah, atau bahasa teman-teman saya: pakai jilbab!
“Lo gila ya, Vy. Lebih revolusioner dari gue! Lo pikirin dong mateng-mateng. Solat aja jarang, ngaji nggak bisa, kenal Islam di jalan, trus sekarang lo mau pakai jilbab? Ha ha ha apa kata dunia?” kata Heidy, sahabat saya sang Ketua Osis.

Saya tak peduli. Masih menitikkan airmata mengingat kajian senja itu.

“Modal kita kan rambut, Vy. Nah kalau ntar pakai jilbab, muka kita jadi aneh. Tembem! Belum lagi ntar susah dapat kerjaan, susah dapat cowok. Gila aja lo!” sambungnya lagi. “Ya gue juga mau pakai jilbab. Tapi ntar kalau gue udah tualah. Allah kan Maha Pengertian. Yang penting kita jilbabin dulu nih, hati kita!”

Saya menatap Heidy lama. “Emang Gue pikirin? Maha Pengertian? Gue juga tahu. Nah kita pengertian nggak ama peraturan Dia? Memang siapa yang majikan siapa yang hamba sih? Kalau gue keburu mati gimana?”

Heidy nyengir. Terdiam sesaat. “Ya terserah lo deh!”

Dalam perjalanan pulang saya teringat tentang sikap saya selama ini pada para jilbaber di sekolah. Ya Allah, betapa teganya saya! Mereka bahkan sering menyingkir dari jalan yang saya lalui, hanya karena khawatir saya menyapa mereka dengan julukan “nona lemper” atau “nona lontong.”

Begitulah, pulang saya langsung mandi, mengenakan baju dan rok panjang pemberian seorang teman di pengajian. Saya pergi ke rumah Nuraida, teman sekolah berjilbab yang pernah saya panggil “nona lemper” juga. Dia ternganga membuka pintu rumahnya, lalu mengajari saya memakai jilbab. Tiba-tiba saya merasa begitu damai.

“Gue jadi jelek banget ya, Da, pakai jilbab begini?”

Ida memandang saya dengan mata kaca. “Nggak apa, Vy, jelek di mata manusia. Yang penting cantik di mata Allah…,” katanya seraya memeluk saya.

Tentu saja banyak yang berubah setelah saya berjilbab. Saya mencoba untuk menghias diri dengan ahlak karimah. Menyelaraskan tingkah laku saya dengan pakaian mulia ini, meski kata orang, kalau jalan masih saja “gagah.” Sementara sekolah gempar, orang rumah tak percaya. O ya perubahan itu sampai pada bidang penulisan yang saya geluti. Kalau biasanya saya sibuk menulis cerita cinta remaja semata di beberapa majalah, kini saya mulai mencoba menulis kisah yang bernuansa Islam, paling tidak yang humanis.

Perlahan tapi pasti saya tambah terus wawasan keislaman saya. Tiada hari tanpa mengkaji! Saya juga mulai mengisi kajian keislaman untuk anak-anak SMP dan teman-teman SMA. Andis (anak disko), abas (anak basket), ater (anak teater) dan teman-teman saya yang lain tidak saya lupakan. Saya rangkul mereka, saya ajak untuk bersama lebih mengenal Islam. Saya tak menyangka. Sungguh hidayah Allah ketika satu persatu dari mereka akhirnya mulai berjilbab, termasuk Heidy.

Mulanya tak ada halangan berarti. Tapi kemudian muncul peraturan baru dari Depdikbud: Dilarang mengenakan jilbab di sekolah!

Saya dan teman-teman—termasuk Heidy sang Ketua Osis—bangkit menentang. Tapi kami harus berhadapan dengan kekuasaan pemerintah bernama Depdikbud itu! Kami terancam dikeluarkan. Setiap ada inspeksi mendadak dari dinas pendidikan, kami bersembunyi di WC sekolah. Saya bahkan pernah masuk kelas lewat jendela, karena sudah dihadang di depan gerbang!

Akhirnya kami boleh pakai jilbab di lingkungan sekolah, tapi kalau di kelas harus dibuka. Huh, sebuah peraturan yang sungguh aneh bukan? Apa kerugian mereka kalau kami pakai jilbab di kelas? Kok mereka yang kegerahan? Pikir saya. Dan dasar bandel, saya dan Heidy tetap tak mau buka jilbab di kelas, meski sekitar 25 teman lainnya terpaksa melakukan. Sebab bila tidak menurut, kami tidak boleh ikut Ebtanas.

Saya dan Heidy tetap ikut Ebtanas, tapi semua soal hanya kami kerjakan dalam setengah jam (kebayang nggak sih?). Ya soalnya setelah setengah jam itu ada inspeksi jilbab ke kelas-kelas! Makanya saya bersyukur, meski semua soal saya kerjakan dalam setengah jam, saya tetap bisa diterima di UI!

Alhamdulillah saya bersyukur hingga hari ini saya masih berjilbab.

Mungkin ada di antara sahabat yang berpikir, mengapa orang seperti Helvy—yang ‘geradakan’ ini—tiba-tiba bisa memutuskan untuk berjilbab?

Jawaban paling tepat saya rasa adalah: hidayah. Karunia sekaligus misteri Illahi. Saya mendapatkannya! Dan saya bertekad menggenggamnya terus sampai akhir masa, insya Allah.

Nah buat yang penasaran, di bawah ini beberapa alasan saya mengenakan jilbab:

Pertama, karena perintah Allah di dalam Al Quran, surat Al Ahzab; 59 dan Surat An Nuur: 31.

Kedua, karena jilbab menjadi identitas utama bagi muslimah. Di mana pun kita berada bila kita mengenakan jilbab, kita dikenali sebagai muslimah (masih merujuk QS Al Ahzab; 59).

Ketiga, dengan mengenakan jilbab, muslimah lebih aman karena tidak diganggu. Pria lebih tertarik menggoda dan melakukan pelecehan seksual pada perempuan yang memakai pakaian you can see (everything?). Biasanya perempuan berjilbab justru sering disapa dengan salam (Assalaamu’alaikum) atau dengan perkataan: “Mau kemana, Bu Hajii?” (malah didoakan, amiin).

Keempat, dengan mengenakan busana muslimah, kita menjadi lebih merdeka dalam arti sebenarnya. Contoh kasus: saya kasihan sekali kalau melihat rekan perempuan yang memakai rok mini, naik kendaraan umum. Dalam kendaraan ia akan sangat gelisah dan berusaha menarik-narik rok mininya terus untuk menutupi pahanya. Kadang gelagapan menutupi bagian tersebut dengan tas kerjanya. Sangat tidak nyaman. Dengan mengenakan busana muslimah, kita bisa duduk dengan santai dan leluasa. Ini terkait dengan apa yang kerap saya sampaikan pada teman-teman sekelas di SMA, saat pertamakali berjilbab, bahwa saya pakai jilbab bukan untuk kepentingan para lelaki. Saya berjilbab untuk kepentingan saya. Untuk kemerdekaan saya!

Kelima, dengan berjilbab, kita merdeka dari pandangan orang yang mengukur kita dari fisik semata. Kita tak lagi diukur dari besar kecilnya betis, pinggang atau bagian tubuh kita lainnya. Orang akan mengukur kita semata dari kebaikan hati dan kecerdasan kita.

Keenam, dengan berjilbab maka kontrol ada di tangan perempuan, bukan pria. Perempuan bebas mengontrol dan menentukan pria mana yang boleh atau yang tidak boleh melihatnya. Keren kan?

Ketujuh, bagi seorang gadis, dengan berjilbab pada dasarnya ia sudah melakukan proses seleksi terhadap calon suaminya kelak. Bukankah hanya pria baik-baik dan memiliki wawasan keislaman memadai yang berani melamar gadis berjilbab?

Ke delapan, jilbab tak pernah menghalangi muslimah untuk maju dalam kebaikan. Sejarah mencatat banyak perempuan agung di masa nabi SAW dan sesudahnya. Mereka mempunyai beragam profesi, berbagai kiprah dalam masyarakat dan prestasi yang tak pernah berhenti, sampai di medan perang sekali pun—tanpa pernah menanggalkan jilbab mereka.

Tentu saja jilbab bukan satu-satunya indikator ketakwaan seseorang. Tetapi jilbab menjadi salah satu realisasi amaliyah dari keimanan kita (iman harus dibuktikan dengan amal bukan?). Dan pada akhirnya amal tersebut akan menunjukkan sisi ketakwaan kita.

Jadi mari kita berjilbab semampu kita, sesegera mungkin. Tak perlu ada pernyataan-pernyataan negatif seperti “Kalau aku hati dulu yang dijilbabin”, sebab hati itu urusan Allah, tugas kita beramal saja dengan ikhlas.

Oh ya, sebagai bagian dari ummat yang besar ini, masalah jilbab bukanlah masalah yang harus membuat kita bertengkar. Bagi yang telah berjilbab, pakailah dengan kesadaran. Tidak perlu mengejek atau memaksa muslimah yang belum memakainya, malah kita harus merangkul mereka. Tunjukkan ahlak yang indah sebagai muslimah. Ingat, berjilbab bukan berarti kita telah suci dan pasti masuk surga lho, tetapi berjilbab justru menjadi langkah awal kita belajar, memperbaiki diri dan berjuang menjadi muslimah sejati! Insya Allah. Semoga Allah meridhoi. Aamiin.

Jilbab

7 Comments

Filed under Jurnal, Karya, Lainlain, Sketsa

7 responses to “Pakai Jilbab? Berani Dong!

  1. Masya Allah,sampai segitunya perjuangan istiqomah berjilbab ya, Alhamdulillah muslimah sekarang di mudahkan, hanya saja banyak yang bermudah mudahan

  2. subhanallah…..# ada banyak kisah di masa itu

  3. Reblogged this on Diary Rizkhi and commented:
    Masyaallah, saya membaca tulisan mbak Helvy seperti membaca pengalaman sendiri. Cuman bedanya mbak Helvy lebih duluan, Hahahay. Selamat membaca, blogger!

  4. ika

    keren, lucu, mengena, sangat manusiawi…ah keren tulisan dan makna dibaliknya

  5. subhanallah, mudah2an wanita sekarang bisa mengambil contoh lewat kisah diatas..

  6. subhanallah T__T nangis bacanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s