10 PUISI RELIGI HELVY TIANA ROSA

WhatsApp Image 2020-07-05 at 20.33.51

 

LELAKI PUISI

Siapakah yang lahir
dari jari jemari puisi
yang memetik waktu
di taman kenangan?

Kau hanya tersenyum menatapku
sambil membujuk huruf huruf itu
untuk terus i’tikaf
lalu bait-bait menjelma udara
melintasi hari-hari yang surga

(Jakarta, 2012)

JALAN FANA

I
Dahulu aku pernah menyembunyikanmu
dalam bait-bait puisi
membelaimu dalam rimanya yang pasi
Kini aku selalu memberi jarak
antara kamu dan puisi
Puisi telah menumbuhkan
sayap sayap di punggungku
untuk lebih dekat padaNya

II
Inilah jalan berbeda kita
kamu yang selalu bicara
tentang dinding dinding dingin
tak bernama itu
Aku yang menyeru
pada Maha Kekasih
yang lebih dekat
dari nadi kita sendiri
“Apakah yang tersisa
dari ketiadaan?” tanyamu suatu hari
Maka aku menjawab, “Mungkin.”

III
Seperti musim yang berjingkat
tanpa henti
begitulah kehadiran dan kepergian
tak ada yang akan menetap
selamanya dimatamu
maka selipkan ia di bilik hati
bersama doa-doa paling purnama

IV
Sampai suatu masa
hujan kembali meneteskan rindu
dan meninggalkan genangan
namamu di beranda haru
Aku terkesiap
kau hadir bersama pelangi
berkisah tentang getar asmaNya
di aliran darahmu
Tetiba kulihat bulan, bintang
dan matari berbaris di kening hari
Puisi puisi bersujud bersamamu
bersamaku

V
Kita hanyalah fana
yang berjuang
mengabadikan cinta
hingga jannah

(Depok, 2014)

 

 

LELAKI DALAM RINDU ABADIKU

Suatu hari ia melintas dalam mimpiku. Aku mengejarnya
Ia melambaikan tangan, mengajakku bergegas
“Aku ingin melihatmu lebih jelas, kekasih!” seruku,
“Aku ingin memelukmu!” Aku menangis
Ia terus berjalan bersama awan yang tak henti menaunginya
Lalu sebuah suara indah terdengar,
“Setialah melangkah bersamaku di sabilillah”

Aku terbangun,
tetapi lelaki itu tak pernah pergi dari denyutku
Sejak dahulu hingga kini tiap kata dan langkahnya

memantik cahaya di jiwa
Semesta menjalin asa dari keteduhannya
Bulan terbelah oleh kegagahan cintanya

Aku tersaruk saruk menahan rasa yang kian buncah,
dari sunnah ke sunnah, dari sirah ke sirah, dari shalawat ke shalawat
Di tiap gerak dan perjalanan rindu kusebut dan kusemat namanya:
Muhammad SAW Pahlawan utama, Kekasih Sejati Ummat,
rindu abadiku hingga surga

(Depok, April, 2013)

 

 

KALAM

Kalam manusia kalam kita
sering sekali cuma debu di piranti waktu
terkadang hanya jadi sajak kurus
yang mengendap di kantong pilu
atau menjelma merpati
terbang telusuri angkasa
hinggap di pokok-pokok

Kalam kita
sekali waktu jadi buah pikir
dan bermilyar tulisan
dengan satu masa pretensi
berjalan, kembara pada satu kala
satu peradaban
kemudian samar, pupus
jadi bunyi senyap
atau abadi
dalam lukisan semu gagap

Kalam mulia,kalam Allah
kalam langit dan bumi
diturunkan dari gemilang arsy, lauhul mahfuz
keabadian yang mengatur segala
bunga kata yang tak pernah berubah
dengannya pelangi berwarna
dan matari jadi panas
dengannya air mengalir
dan manusia bernapas

tapi dengannya pula tanah kita
bisa retak meratap
gunung-gunung berhamburan
dan manusia menjelma anai-anai

dengannya akan terjaga
ruh-ruh yang beriman
di tiap lekuk liku kehidupan

Kalamullah
sesuci-suci kalam
petunjuk cinta terpatri
di sabil hamba terpilih

(Depok 1992)

 

 

THAWAF

Langkah-langkah airmata
mengurai jejak cinta tanah liat
hidup yang tak pernah bisa
kau terka
dan kematian yang mengintip
gigil dari selubung hari
Labbaik Allahumma labbaik!

Ada yang berjejalan di dalam
Dada. Cahaya. Embun
Terik. Maha. Kau

Labbaik Allahumma labbaik!
Labbaika laa syariikalaka labbaik!

Dalam kerumunan fana
yang terus berputar menyebut
namaMu
Waktu pun retak di detakku
dan segalanya menjelma bening
Kuputuskan membangun ka’bah
sepanjang masa
dalam dada.

(2010)

 

 

AKU ABU DZAR YANG TERTINGGAL

Akulah Abu Dzar itu
yang menggenggam azzam
memasang mata awas
di semesta perburuan
dan pantang istirah
nuju cintaMu

(bagiku cengkerama denganMu luputkan resah
bercinta denganMu gugurkan lara)

Akulah Abu Dzar itu
pada hari pecah-pecah
sahara jadi kepingan duka
tapi sekuat nyali, sekuat diri
aku berlari menjelang
langkah retak terseok,
tapak luka berdarah
ini jalinan rasa yang harus tetap bernyawa!

O, kafilah bercahya Illahi
Tunggu aku! Tunggu aku!

Seperti Abu Dzar,
sang pemburu cintaMu di padang mara
yang pernah tertinggal jauh dari laskar
tak peduli keringat, air mata, darah atau cuaca
kukejar Kau atas nama cinta

(Sumur Batu, April 1988)

 

 

SHALAHUDIN

Kuda kuda memekikkan luka
dataran darah
musim gelisah di matanya
Lelaki menampung semesta airmata

Shalahudin! Shalahudin!

Lihatlah, kegagahan langit
jundi abadi
lebatnya hujan keberanian
rona cahya kasih
dalam perang penghabisan

Waktu pecah
kuda-kuda berdansa
di antara kibaran bendera putih
Shalahudin! Shalahudin!
Di sepanjang jalur kau semai damai
dan kebijakan sebagai cuaca

Sejarah mencatat, aku pun
tak bisa berhenti mencinta

(Depok 2005)

 

 

FI SABILILLAH

Jangan dilarang
Orang yang melayang pandang
Ke sabilillah
:ia sudah tahu resah nyata semesta
seringai malam bumi kita

jangan ditahan
orang yang ingin melemparkan diri
ke sabilillah
:ia sudah tahu ramuan cinta yang firdaus
juga rejam rintangan itu

jangan dinanti
orang yang pergi
ke sabilillah
:ia sudah tahu ke mana
harus menjual nyawa

(Depok, 1992)

 

PEREMPUAN CAHAYA DI TAMAN ZIKIR

Panas matari hujan air mata rindu
menyemai taman zikir taman doaku
mawar-mawar yang Kau kirimkan padaku, Kekasih,
tumbuh merekah hiasi hamparan sajadah
yang terus memanjang pada sisa kala

Di taman zikir taman hening yang mawar itu
kutemui ribuan perempuan cahaya
Rabi’ah, Syarafunnisa
menjelangMu tergesa
tapi rengkuhlah aku, Kekasih,
sahaya yang resah merindu
telah kutumpukkan awan-awan asa itu
dan kudekap pelangi mahabbah
aku fana yang memanjati langit ma’rifatmu

di taman zikir taman doa taman nafasku
di tengah perempuan-perempuan cahaya
aku menjaga dengan airmata
nyala masa yang tersisa
demi hasrat abadi itu

biarkan, Kekasih
kupenuhiku denganMu
berharap jadi mawarMu
jadi lautMu
tanpa kenal kata “sampai ajal”

sungguh,
telah Kau fanakan diriku, Kekasih
tapi tidak cintaku padaMu
sebab di taman zikir taman doa
taman nafasku
cinta kita Kekasih
adalah baka

(Cipayung, 2000)

 

 

BELAJAR BERPISAH

tiap tiap kisah cinta
bahkan yang paling indah
akan tiba pada
kehilangan
tapi aku masih bisa
selalu
menyimpan rinduku
padamu
di atas sajadah
di batin doa
di jalan jalan sunyi
yang ditempuh puisi

(Depok, 2016)

1 Comment

Filed under Karya, Lainlain, Puisi

One response to “10 PUISI RELIGI HELVY TIANA ROSA

Leave a Reply to isnamasyithoh Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s