
1
Aku mengira cinta adalah
samudera pengorbanan tanpa tepi
kesetiaan yang semakin menjadi
dan ketika cintanya
terdefinisi sebagai ilalang patah
waktunya bagiku untuk mengapung
dalam realitas imaji
dan lebur
di kedalaman laut
matamu
klik selanjutnya
Category Archives: Karya
Vidiara
Cinta
Aku mencintaimu sejak waktu, sejak bumi, sejak sukma, sejak bayi
Aku mencintaimu sampai laut, sampai langit, sampai darah, sampai mati
klik selanjutnya
Sastra yang Menggerakkan
Kegelisahan masyarakat akan menjadi kegelisahan para sastrawan. Begitu pula harapan, penderitaan, aspirasi mereka menjadi bagian dari diri dan jiwa sastrawan (Jakob Soemardjo)
Pendahuluan
Karya sastra sebenarnya selalu berbicara mengenai hal yang sama, yaitu kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah sebuah kenyataan sosial. Oleh karena itu baik karya sastra maupun pengarangnya tak akan pernah bisa menghindar dari berbagai problem sosial yang terdapat di dalam masyarakat, di mana sang pengarang adalah juga bagian dari masyarakat tersebut. klik selanjutnya
Mengukir Kecerdasan yang Penuh Cinta
“Bagaimana cerita waktu hamil? Kok anak kalian bisa secerdas itu?”
Itulah pertanyaan yang kerap dilontarkan orang pada saya dan suami.
Dan biasanya sebelum menjawab, saya dan Mas saling berpandangan, tersenyum, mengenang masa-masa itu… klik selanjutnya
Hingga Batu Bicara
Biarkan aku!” seru gadis itu sekali lagi sambil menatapku tajam.
Aku memandangnya lama, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ini ketiga kalinya ia berada di tempat ini. Melakukan hal yang sangat tidak wajar. Ia bicara pada batu-batu! Ya, pada batu! Ia bisa tampak serius, lalu tiba-tiba tertawa atau menangis sendiri. Ia membelai batu-batu. Menggendongnya seperti menggendong bayi, memasukkan batu-batu tersebut ke dalam tas kainnya yang kusam.
Juragan Haji

Naik haji lagi?” Mata tua Mak Siti berbinar, sesaat menerawang. “Jadi sudah tiga kali ya, Bu Juragan?” klik selanjutnya
Idis
Begitu senja. Jalan setapak di batas Batu Licin yang sejak tadi kususuri semakin gelap. Pepohonan dan daun-daun melambai berharap mentari sudi mengintip sebentar saja lagi, mengiringi langkahku yang entah ke mana ini.
klik selanjutnya
Mencari Senyuman
(Drama Satu Babak )
Seorang LELAKI TUA dengan langkah tertatih-tatih memasuki sebuah kota. Wajahnya kusut, matanya liar, dan pakaiannya kumal. Beberapa orang yang berpapasan dengannya segera menyingkir.
Di suatu tempat, di bawah sebuah pohon setua dirinya, lelaki itu tersungkur. Perlahan ia mencoba bangkit dan kembali memandangi orang yang lalu-lalang di kota itu.
LELAKI TUA :
(MENGIBA, MENGULANG-ULANG PERKATAANNYA) Tolong…! Tolonglah aku! Tolong…! klik selanjutnya
Tanah Perempuan
Naskah drama Tanah Perempuan ditulis Helvy tahun 2005 dalam sembilan babak. Tahun 2007 naskah ini diterbitkan oleh Penerbit Lapena Banda Aceh. Tahun 2009 untuk kepentingan pementasan Tanah Perempuan, Helvy menuliskannya kembali dalam tiga babak. Naskah ini dipentaskan pertamakali oleh Bengkel Sastra UNJ pada 8 November di Gedung Kesenian Jakarta dan dibawa keliling hingga ke Banda Aceh dalam rangka Hari Pahlawan, Hari HAM Sedunia, Hari Ibu, dan Peringatan 5 Tahun Tsunami. Bertindak sebagai sutradara Ferdi Firdaus. klik selanjutnya




