Wulan Guritno memutuskan untuk berjilbab!
Beberapa orang yang melihatnya hari itu spontan berseru Wulan makin cantik dan segar.
“Masak sih?” senyum Wulan.
Tapi benarkah Wulan sudah berketetapan untuk mengenakan jilbab?

DI JURANG PUISI
I
Menampung rindu dari hari ke haru,
Menanggung resah yang berlarian hingga jantung,
Jarum jarum hujan menikam mata kita
Katamu tak apa karena duka cuma
museum kebahagiaan
yang retak dan pecah di dada kita
II
kita pun saling meninggalkan
menanggalkan semua kenangan yang hinggap
dan meleleh di dahi musim
Sejak saat itu kutemukan diriku yang beku
terperangkap dalam kulkas
berisi puluhan kilogram puisi puisi
setengah jadi
III
tanpa peta aku kembali ke sini:
jalan raya yang terbuat dari parasmu
Katakata canggung, waktu gugu
Bagaimana kau menerjemahkan kekosongan?
IV
Ini malam tak ada jejak
yang membaca cinta.
rindu siapa nganga
di jurang puisi?
(Untuk Mas Pepeng)
Sungguh indah cara Allah mencintaimu
Ia menghadirkanmu ke dunia
lewat rahim seorang ibu yang bersahaja,
dan kekal dengan tawakkal
Ibu yang menjadikan anak sebagai sahabat,
guru dan matahari
ibu yang sanggup hadirkan
sosok dan petuah ayah yang tiada lewat cerita
negeri dengan penduduk lebih dari seperempat milyar
Dan kami bersama Palestina
Apakah dua mataku
yang kau larung dalam malam?
lalu hari-hari pun terbenam
dalam secangkir kopi tanpa gula
daun-daun jatuh di luar jendela
dan sunyi menyanyikan lagi
lagu gergaji
PUISI UNTUK SEORANG IBU YANG MENDOBRAK PULAZI
(Helvy Tiana Rosa)
Untuk Yoyoh Yusroh