Category Archives: Cerpen

Selamanya Cinta (Cerpen Remaja)

mami dan kami

Aku melangkah gontai melewati gerbang sekolah. Sejak pelajaran pertama hingga bel pelajaran terakhir berbunyi, pikiranku telah mengembara kemana-mana, hingga akhirnya tiba di satu titik: Ibu.

“Ibu sudah tua, Din. Sebentar lagi umurnya 76 tahun. Ibu sudah mulai pikun, sa­kit-sakitan. Aku ingin yang terbaik buat Ibu, Din!” Suara Kak Dita terngiang terus di kuping­ku.

“Yang terbaik? Untuk Ibu? Dengan membuangnya di panti jompo? Itukah yang terbaik?” jawabku waktu itu.

klik selanjutnya

9 Comments

Filed under Cerpen, Karya

Lelaki Semesta

Lelaki Semesta

Aku menyebutnya lelaki semesta. Ialah kesejukan itu. Di matanya aku melihat telaga tempat segala berada, juga kebenaran. Kedua tangannya selalu terbuka untuk menyambut dan menghibur mereka yang datang membawa duka. Bibirnya selalu tersenyum dan kau akan mendengar nada-nada indah setiap kali ia menyebut kuasa Illahi. Parasnya biasa namun kewibawaan terpancar dari keluasan hati dan pandangannya. Sejak dulu jubah putihnya senantiasa berkibar ditiup sepoi angin saat ia berjalan mengelilingi desa. Ia memelihara janggutnya yang sekepalan tangan itu dengan rapi. Setiap bersama-sama menghadap Allah di surau, aku mendengar suaranya bergetar memimpin jamaah. Saat usai shalat tak pernah mata dan janggutnya tak basah.

klik selanjutnya

15 Comments

Filed under Cerpen, Karya

Darahitam

cinta

Ini adalah sebuah cerpen yang saya tulis saat terjadi Tragedi Sampit 2001. Sudah lama, ya? Namun tetap relevan hingga sekarang. Semoga cerpen ini bisa membawa hikmah bagi kita bahwa kebersamaan dalam keberanekaan adalah kekayaan dan berkah bagi bangsa ini. Salam cinta.

klik selanjutnya

Leave a comment

Filed under Cerpen, Karya

Cut Vi

Cut Vi - AcehAku ingin menjadi istrimu, tulis gadis itu.
Kulipat kembali surat itu. Surat yang telah kusam karena telah terlalu sering kubaca. Bahkan aku masih hafal semua kalimat dalam kertas biru itu.  Aku percaya pada apa yang kulakukan dan tak peduli bila terkesan aku yang melamarmu. Lagi pula apa salahnya meminta pria berbudi menjadi suami? Maka, Agam, sudikah?

klik selanjutnya

38 Comments

Filed under Cerpen, Karya

Pertemuan di Taman Hening

 

Pertemuan di Taman HeningTamparan berkali-kali dari lelaki itu membuat tubuh Sih terhuyung-huyung. Perempuan itu jatuh terduduk di sudut kamar, setelah pelipisnya terbentur ujung lemari kayu yang lancip. Darah menetes dari sana, juga dari bibirnya yang seakan pecah.

klik selanjutnya

Leave a comment

Filed under Cerpen, Karya

Lelaki Kabut dan Boneka

Lelaki Kabut dan Boneka

Lelaki itu tiada mempunyai wajah yang tetap, tetapi sebenarnya ia ada. Ia selalu bersembunyi di balik rerimbunan kalimat yang dibuat di jalan-jalan sejarah. Ia mengamati langit, bumi, matahari, rembulan, kepekatan dan darah dari balik gumpalan kabut yang diciptanya sendiri.

“Siapakah… lelaki… itu? Di… di… mana… dia?”
Orang-orang bertanya-tanya. Mengeluarkan suara gagap dengan tubuh meremang gemetar. Wajah mereka pasi, serupa lilin-lilin di keheningan musim dingin. Ya, mereka merasakan keberadaannya, tetapi mereka tak yakin ia benar-benar ada. O, adakah lelaki yang bertahan hidup di balik kabut selama itu? Dan sang lelaki, hanya ia sendiri yang mengetahui bahwa ia sungguh ada.

klik selanjutnya

Leave a comment

Filed under Cerpen, Karya

Hingga Batu Bicara

Hingga Batu Bicara

Biarkan aku!” seru gadis itu sekali lagi sambil menatapku tajam.

Aku memandangnya lama, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ini ketiga kalinya ia berada di tempat ini. Melakukan hal yang sangat tidak wajar. Ia bicara pada batu-batu! Ya, pada batu! Ia bisa tampak serius, lalu tiba-tiba tertawa atau menangis sendiri. Ia membelai batu-batu. Menggendongnya seperti menggendong bayi, memasukkan batu-batu tersebut ke dalam tas kainnya yang kusam.

klik selanjutnya

8 Comments

Filed under Cerpen, Karya

Juragan Haji

Naik Haji
Naik haji lagi?” Mata tua Mak Siti berbinar, sesaat menerawang. “Jadi sudah tiga kali ya, Bu Juragan?” klik selanjutnya

Leave a comment

Filed under Cerpen, Karya

Idis

IdisBegitu senja. Jalan setapak di batas Batu Licin yang sejak tadi kususuri semakin gelap. Pepohonan dan daun-daun melambai berharap mentari sudi mengintip sebentar saja lagi, mengiringi langkahku yang entah ke mana ini.
klik selanjutnya

Leave a comment

Filed under Cerpen, Karya

Helvy Baca Cerpen “Pertemuan di Taman Hening”

Helvy Tiana Rosa membacakan cerpennya “Pertemuan di Taman Hening”, dalam acara Perempuan Sastrawan Baca Karya di Salihara, Jakarta, 3-4 April 2009.

Leave a comment

June 17, 2014 · 1:42 pm