Awalnya Indri Sukardi datang ke rumah, mewawancarai saya untuk rubrik Ruang Tokoh di TV Newschannel Berita1. Di rumah, selain melihat rak rak buku yang berderet, ia juga melihat etalase koleksi parfum saya. Indri mencoba beberapa dan suka. Apalagi ia tahu betul soal parfum. Ia langsung menyatakan ingin bergabung di bisnis ini. Jadilah anchor dan presenter ini bergabung di FM Group, di jaringan saya: Sahabat Wangi.
Category Archives: Karya
Indri Sukardi: “Ini Bisnis yang Keren!” (Cerita Wangi)
Filed under Cerita Wangi, Jurnal, Karya, Lainlain, Sahabat Wangi
Lelaki Semesta
Aku menyebutnya lelaki semesta. Ialah kesejukan itu. Di matanya aku melihat telaga tempat segala berada, juga kebenaran. Kedua tangannya selalu terbuka untuk menyambut dan menghibur mereka yang datang membawa duka. Bibirnya selalu tersenyum dan kau akan mendengar nada-nada indah setiap kali ia menyebut kuasa Illahi. Parasnya biasa namun kewibawaan terpancar dari keluasan hati dan pandangannya. Sejak dulu jubah putihnya senantiasa berkibar ditiup sepoi angin saat ia berjalan mengelilingi desa. Ia memelihara janggutnya yang sekepalan tangan itu dengan rapi. Setiap bersama-sama menghadap Allah di surau, aku mendengar suaranya bergetar memimpin jamaah. Saat usai shalat tak pernah mata dan janggutnya tak basah.
Darahitam
Ini adalah sebuah cerpen yang saya tulis saat terjadi Tragedi Sampit 2001. Sudah lama, ya? Namun tetap relevan hingga sekarang. Semoga cerpen ini bisa membawa hikmah bagi kita bahwa kebersamaan dalam keberanekaan adalah kekayaan dan berkah bagi bangsa ini. Salam cinta.
Januari Cinta
:Suamiku
Kau, tahu, yang dulu selalu mengikuti kemana perempuan itu pergi? Namanya nestapa. Seperti gerimis menjelma jarum-jarum patah, masuk ke kaki dan hatinya. Tapi kau mungkin tahu, perempuan itu telah memutuskan untuk tersenyum sepanjang usia, hingga kelak kembali. Dan senyumnya menjadi abadi ketika untuk pertama kau memandangnya dari jendela hidupmu. Kau ambil tangannya dan kau letakkan di jantungmu. Ini aku. Apakah kau mau berlayar?
Musikalisasi Puisi Helvy “Fisabilillah” (Adew Habtsa & Rekan)
Puisi “Fisabilillah” karya Helvy Tiana Rosa menjadi Juara ke III Lomba Cipta Puisi Islam Tingkat Nasional yang diadakan Yayasan Iqra, 1992 dengan Juri: HB Jassin, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar dan Jose Rizal Manua. Puisi ini terdapat dalam buku Mata Ketiga Cinta (ANPH, 2012).
Adew Habtsa dan Rekan yang membawakannya merupakan Juara II Lomba Musikalisasi Puisi Helvy 2014.
Musikalisasi Puisi Helvy “Kangen” (Valina & Rakhmad)
KANGEN
Telah kutuliskan puisi-puisi itu
sejak usiamu 26 tahun
ketika pertama kali kita bertukar senyum
pada jarak pandang yang begitu dekat
“Nak, Bisa Buatkan Syairnya?”
Saya paling jarang bercerita tentang Papa. Tapi banyak orang mengatakan dari semua anaknya, sayalah yang paling mirip dengan papa. Apanya? Kata mereka dari segi wajah, gaya dan bakat. Ah apa iya?
Pochi; “Murid” di Balik Jendela
Sepucuk surat kumuh terselip di antara tumpukan surat yang saya terima di meja kerja saya beberapa waktu lalu.
Siapa ya?
Menolak Bidadari
Sungguh, saya tak pernah benar-benar tahu, apa kesan suami yang paling dalam tentang saya. Saya pernah berpikir mungkin saya bukan perempuan yang terlalu istimewa baginya karena sepanjang hidupnya suami saya banyak bertemu perempuan hebat: cantik, pintar, keturunan baik-baik dan tentu juga sholihat. Jadi berapa nilai saya sebenarnya di matanya? Namun menyadari bahwa ia toh memilih saya, tentu ada sesuatu pada saya.




